Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Satu Langkah Telah Terlewati


__ADS_3

"So sweat banget sih." Rili kini bersandar di bahu Alvin.


Alvin yang sedari tadi merengkuh pinggang Rili semakin mengeratkan tangannya. "Kamu mau aku lamar lagi?"


Rili hanya tersenyum sambil mematikan rekaman ponselnya. Dia segera mengirim video itu pada kedua orang tuanya.


"Aku dikacangin."


"Bentar Mas, bagi-bagi kebahagiaan sama Papi Mami." Rili menegakkan kepalanya sambil menatap layar ponsel.


Satu kecupan mendarat di puncak kepala Rili. "Kalau udah selesai kita pulang yuk."


Seketika Rili mendongak. "Buru-buru banget mau pulang."


"Mau buat yang lebih sweat-sweat sama kamu."


"Ih, omes." Satu tangan Rili sengaja singgah di bawah perut Alvin dan sedikit merematnya. "Ih, udah berdiri aja."


Alvin semakin terkekeh. Dia cubit pipi yang menggemaskan itu.


"Pyaarrr!!!"


Tiba-tiba saja bunyi pecahan dari sebuah vas terdengar cukup keras yang membuat Rasya dan Dira seketika melepaskan pelukannya. Sedangkan Alvin dan Rili kini berdiri untuk melihat apa yang telah terjadi.


"Mas, itu ceweknya Aksa? Dia jatuh Mas."


"Duh, Aksa ngapain lagi tuh anak. Udah dibilangin kalau lagi kerja gak usah bawa cewek." Alvin dan Rili berjalan mendekati mereka berdua.


"Ada apa?" tanya Alvin pada Aksa.


Aksa menggaruk rambutnya sesaat. "Eh, bos. Maaf. Itu vas bunganya pecah."


"Aksa, gaji kamu seminggu saja gak cukup buat ganti vas itu." Alvin sengaja berlagak marah agar anak buahnya itu tidak ceroboh lagi.


"Maaf Pak, saya yang memecahkannya. Harganya berapa? Biar saya ganti," kata gadis yang ada di sebelah Aksa.


Alvin menatap gadis itu sesaat lalu beralih menatap Aksa. "Cewek baru lagi?"


"Eh, bukan bos. Dia teman kampus. Ya, kalau mau sih coming soon."


Seketika gadis itu menginjak kaki Aksa. "Apa lo bilang! Buaya banget?!"


"Aduh," Aksa meringis kesakitan. "Kasar banget sih lo!"


"Masih mau lanjut bertengkar kan? Vas nya tidak usah diganti tapi kalian harus bereskan ini semua dan cuci piring di belakang. Jangan pulang kalau belum selesai," suruh Alvin yang memang sengaja membuat mereka untuk kerja bersama.


"Maaf Pak. Saya bisa mengganti vas itu. Tidak perlu ikut bantu kerjaan Aksara." Gadis itu masih kekeh ingin menggantinya.


"Ada kalanya barang tidak perlu diganti dengan uang. Tetap kerjakan atau Aksa besok tidak usah kembali ke kafe."


"Loh, kok gitu bos. Ini kan salah cewek ini."


"Yang ngajak dia ke sini siapa?"


Seketika Aksa terdiam.

__ADS_1


"Ya sudah. Nanti kunci kafe kamu bawa aja. Besok pagi sebelum ke kampus kamu kasih ke Adit."


"Iya Bos."


Kemudian Alvin dan Rili pergi dari tempat itu yang diikuti oleh Rasya dan Dira.


"Mas Alvin sengaja ngerjain mereka?" bisik Rili sambil menahan senyum melihat ekspresi Aksa.


"Iya, kalau lihat pertengkaran yang ada manis-manisnya gitu jadi ingat kita dulu." Kekeh Alvin.


"Rili, Alvin, kita duluan ya," kata Rasya sambil berjalan menuju pintu keluar.


"Iya," jawab mereka secara bersamaan.


"Sebentar lagi kita pulang. Aku mau bicara dulu sama Adit."


"Iya Mas."


Sedangkan di depan kafe, sepasang kekasih yang sedang berbahagia ini terus mengulum senyumnya. Mereka masuk ke dalam mobil, beberapa saat kemudian mobil Rasya melaju meninggalkan kafe.


"Kak Rasya tahu darimana kalau pertunangan aku batal?" tanya Dira pada Rasya yang sedari tadi penasaran dengan hal itu.


"Satu minggu yang lalu aku gak sengaja ketemu Fandi. Dia yang cerita sama aku."


Dira sedikit terkejut. Fandi melakukan ini untuknya.


"Makasih, sudah mau menerima aku."


Dira semakin tersenyum mendengar perkataan Rasya. "Makasih juga, Kak Rasya sudah mau menunggu aku."


Dira menggelengkan kepalanya. "Justru aku bahagia."


Tangan Rasya kini menggenggam tangan Dira lalu menciumnya dengan lembut. "I love you..."


"I love you too..."


Beberapa saat kemudian mereka turun dari mobil. Rasya mengantar Dira sampai depan pintu rumahnya.


"Besok aku jemput ya."


"Gak usah, Kak. Biar aku diantar Papa saja. Jadi kalau di kantor hubungan kita tetap bos dan karyawan."


"Kalian udah pulang?" Suara Mama Karin dan pintu yang dibuka secara tiba-tiba membuat Rasya dan Dira menoleh. "Rasya gak masuk dulu?"


"Besok-besok saja tante. Sudah malam, saya permisi dulu." Setelah berpamitan pada Mama Karin, Rasya kembali masuk ke dalam mobilnya.


Mama Karin menggandeng tangan putrinya sambil masuk ke dalam rumah. "Senangnya yang baru dilamar."


"Darimana Mama tahu?"


"Mama dikirimi videonya sama Lisa. Tuh, Papa kamu saja masih lihat."


Mereka berdua kini duduk di dekat Papa Dewa. Dira juga ikut melihat apa yang dilihat Papanya itu.


"Ih, malu."

__ADS_1


Papa Dewa justru tersenyum dan merengkuh tubuh putrinya. "Akhirnya kamu mendapatkan kebahagiaan kamu."


Dira hanya tersenyum lalu bersandar di bahu Papanya. "Iya Pa. Dira juga gak nyangka."


"Akhirnya aku dan Lisa akan jadi besan, Pa." Mama Karin kini ikut memeluk putrinya.


"Mama kamu senang banget dari tadi. Jauh sebelum kamu lahir saja Mama kamu dan Maminya Rasya sudah merencanakan buat besanan," tawa Papa Dewa mengingat keinginan absurd kedua perempuan itu.


"Papa dulu juga gitu kan. Papa kamu dulu aja udah jagain Rasya sejak dalam kandungan."


"Iyakah Pa?" tanya Dira sambil mendongakkan kepalanya.


"Iya. Papa dulu satu kampus sama Maminya Rasya. Tahu sendiri kan kalau Papinya Rasya itu protektif banget. Udah hampir tiap jam Papa ditelepon hanya untuk memastikan keadaan istrinya yang sedang hamil Rasya itu." Papa Dewa terus menyunggingkan senyumnya mengingat masa lalunya bersama dua orang yang sekarang akan menjadi besan itu.


"Lucu ya Pa. Ternyata Papa dulu jagain calon mantu."


...***...


Sedangkan di rumah Rasya, sudah kesekian kalinya Mami Lisa memutar video itu.


"Mi, kayaknya kita harus segera resmiin lamaran mereka."


"Iya Pi. Sebulan lagi jadilah mereka nikah."


"Iya, lebih cepat lebih baik. Tapi rumah kita semakin sepi Mi. Kita cuma tinggal berdua dong." Papi Rizal semakin mengeratkan rengkuhannya. Dia sudah mengerti, setelah anak-anaknya dewasa, pasti mereka akan memilih kehidupannya sendiri.


"Iya. Ya, semoga saja kita cepat punya cucu Pi. Biar ada yang Mami pinjam ke rumah."


"Buat sendiri aja yuk Mi," goda Papi Rizal sambil mencium lembut pipi istrinya.


"Ih, udah kepala empat, udah sangat beresiko."


"Bercanda Mi."


Beberapa saat kemudian Rasya sudah datang. Dia duduk di dekat kedua orang tuanya karena panggilan dari Maminya.


"Kamu romantis banget. Siapa yang ngajarin?"


Papi Rizal tersenyum sambil meletakkan ponselnya. "Ini sih pasti ide Alvin."


Tebakan Papi Rizal memang benar. "Iya, ini semua rencana Alvin."


"Tuh kan Mi. Mantu kita yang bisa ngalahin Papi."


"Rencana kapan mau melamar ke rumah Dira? Biar Mami siapkan keperluan buat lamaran."


"Minggu depan. Aku mau menikahi Dira secepatnya."


Satu jempol didapatkan Rasya dari Papinya. "Bagus, gak perlu menunda lagi. Biar kamu segera ikut berbahagia seperti Rili."


💞💞💞


.


.

__ADS_1


Jadi kangen Aksa dan Nada.. 🤭


__ADS_2