
"Mas, kita menginap di rumah Papi yuk?" ajak Rili sambil bergelayut manja di lengan Alvin saat keluar dari kafe. Memang beberapa minggu yang lalu Papinya meminta Rili untuk menginap di rumahnya tapi Rili belum juga menurutinya karena selama sebulan ini dia selalu melewati malam panas dengan Alvin.
"Sekarang sayang?" tanya Alvin karena sejujurnya dia sedikit tidak enak badan hari itu.
"Iya Mas. Udah hampir sebulan cuma aku iyain aja maunya Papi."
"Ya udah, kita langsung meluncur ke sana. Nanti aku hubungi Mbak Lela biar gak nunggu kita."
Mereka masuk ke dalam mobil lalu beberapa saat kemudian mobil Alvin mulai melaju menuju rumah mertuanya itu.
Rili terus menyunggingkan senyumnya. Sejak menikah dia memang hanya beberapa kali menginap di rumah orang tuanya.
Beberapa saat kemudian Alvin menghentikan mobilnya di depan rumah orang tua Rili. Dia langsung keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah tanpa menunggu suaminya.
Alvin hanya tersenyum melihat Rili. Sebesar apapun kasih sayangnya, pasti ada kalanya Rili membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Dia kini ikut keluar dan masuk ke dalam rumah. Lagi, dia hanya tersenyum melihat Rili sedang bergelayut manja di lengan maminya.
"Kalian baru pulang dari kafe? Udah makan?" tanya Mami Lisa.
"Sudah Mi."
Alvin duduk sesaat bersama mereka mengobrol seputaran pekerjaan dengan Papi Rizal. Beberapa saat kemudian badan Alvin terasa semakin penat. Kepalanya juga terasa pusing. Memang sudah beberapa hari ini dia terkena flu.
"Aku ke kamar dulu ya." pamitnya sambil berdiri.
"Iya Mas. Mas Alvin kalau capek tidur dulu gak papa."
"Iya," Alvin menaiki anak tangga menuju kamar Rili di lantai dua.
"Alvin keliatannya capek banget."
"Iya, akhir-akhir ini banyak acara di kafe."
"Ya udah, pijitin sana. Kasihan kan." suruh Mami Lisa.
"Pijitin?" selama ini Rili memang hampir tidak pernah memijat Alvin karena Alvin tidak pernah mengeluh capek. Bukannya durhaka kepada suami tapi memang Alvin yang tidak mau. "Ya udah aku ke kamar dulu Mi." Rili berdiri dan berjalan menuju tangga.
"Mi, Papi juga pijitin dong."
"Ih, Papi udah gak kerja. Mami nih yang pijitin. Kerjaan Mami banyak sekarang."
__ADS_1
"Oke, ayo let's go."
Rili hanya tersenyum mendengar sekilas pembicaraan Papi dan Maminya. Dia kini berada di depan kamar yang setengah terbuka itu. Terlihat suaminya tidur meringkuk di atas ranjang.
"Mas sakit?" tanya Rili sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
"Beberapa hari ini aku emang gak enak badan," jawab Alvin sambil memejamkan matanya.
Rili berjalan mendekat lalu menyentuh kening Alvin. "Badan Mas Alvin panas. Aku ambilin obat dulu ya."
"Tadi aku udah minum obat."
"Sini aku pijat Mas. Mas Alvin pasti kecapekan."
"Gak usah sayang. Kamu tidur aja."
Selalu, begitulah Alvin. Kali ini Rili membalik tubuh Alvin dengan paksa. Dia naik ke atas pan tat Alvin lalu mulai memijat punggungnya.
Alvin mengaduh beberapa kali saat Rili memijatnya semakin keras.
"Tuh, Mas Alvin kecapekan ini."
"Iya, beberapa hari ini aku ikut angkat-angkat barang, dan di rumah tiap malam push up terus." Alvin tertawa kecil.
"Siapa yang udah tua. Belum juga kepala tiga."
Alvin merasakan kenyamanan pijatan Rili hingga membuat dia ingin memejamkan matanya.
Rili membungkukkan badannya dan melihat mata Alvin yang telah terpejam. "Udah tidur." Merasa tangannya sudah capek, dia turun dan membaringkan dirinya di sebelah Alvin. "Mas kalau tidur posisinya dibenerin dulu."
Alvin memiringkan dirinya lalu menarik tubuh Rili dalam pelukannya. "Sekarang libur dulu ya olahraganya. Aku lagi gak bergairah."
"Ih, masih aja mikirin itu."
Alvin tersenyum kecil lalu dia kembali memejamkan matanya.
...***...
Saat menjelang pagi, Alvin melepas pelukannya. Badannya terasa semakin sakit semua. Tenggorokannya terasa pahit, dan kepalanya sangat pusing. "Kayaknya aku beneran sakit ini," gumamnya.
__ADS_1
Dia membalikkan badannya, memunggungi Rili. Takut jika Rili akan tertular. "Aduh, tumben perut aku gak enak banget." Alvin bangun lalu menuju kamar mandi. Dia merasa sangat mual tapi saat dimuntahkan hanya air saja yang keluar.
"Udah kayak orang hamil aja sih aku ini, pagi-pagi udah mual," gumam Alvin tapi sedetik kemudian dia melebarkan matanya sendiri. "Sekarang tanggal berapa?" Alvin justru bergegas melihat kalender. "Pantas aku gas sebulan penuh tanpa libur, Rili udah telat." Alvin berpikir sesaat. "Apa do'a aku terkabul buat ngerasain apa yang dirasakan Rili."
Alvin berjalan mendekat dan menatap Rili yang masih tertidur dengan pulas. Dia tersenyum kecil, jika memang apa yang dirasakannya adalah tanda kehamilan Rili, dia sangat bahagia. Tidak perlu lagi melihat Rili merasakan morning sickness dan segala macamnya.
Alvin meminum air putih yang ada di atas nakas, tapi perutnya terasa semakin mual. Dia kembali lagi ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang hanya air putih saja.
"Jadi rasanya kayak gini. Hebat para wanita yang kuat merasakannya. Semoga beneran udah berhasil."
Alvin berjalan gontai kembali ke ranjang. Dia rebahkan dirinya dan menatap Rili yang masih tertidur dengan pulas. Tangannya perlahan mengusap lembut perut Rili.
"Mas?" Mendapat usapan dari Alvin seketika Rili membuka matanya. "Mas kok udah bangun?"
"Udah gak bisa tidur lagi."
Rili menatap dengan seksama wajah Alvin yang kian memucat. "Mas, kok pucat banget?!" Tangan Rili terulur meraba wajah Alvin.
"Aku gak papa. Udah, kamu lanjut tidur ya." Alvin mengusap lembut puncak kepala Rili.
"Aku buatkan teh hangat ya, biar enakan." Rili bangun dan akan beranjak dari tempat tidur tapi tangannya di tahan oleh Alvin.
"Jangan, biar aku buat sendiri. Kamu istirahat saja."
"Mas Alvin yang sakit, kok malah aku yang disuruh istirahat. Aneh." Rili tetap keluar dari kamar dan turun menuju dapur.
Alvin menghela napas panjang. "Dugaanku benar gak ya?"
Beberapa saat kemudian Rili datang dengan membawa secangkir teh hangat. "Ini Mas diminum."
Alvin menerima cangkir itu dan langsung meminumnya pelan. Lagi-lagi perutnya benar-benar terasa diaduk-aduk. Dia berusaha untuk menahannya. Dia letakkan cangkirnya di atas nakas lalu berlari ke kamar mandi.
Perutnya sampai terasa kaku karena dorongan mual yang amat sangat tapi hanya keluar air saja.
"Astaga Mas, kita periksa aja ya." Rili mengusap punggung Alvin agar rasa mualnya sedikit reda.
"Iya, nanti setelah kamu sarapan kita periksa." Alvin kembali merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Mas, aku buatkan bubur dulu."
__ADS_1
"Di sini aja. Kamu jangan naik turun tangga terus."
Rili justru mengecup singkat pipi Alvin. "Gak usah bawel. Sekarang saatnya aku yang merawat Mas Alvin kalau sakit gini." Rili berlenggang keluar tanpa lagi mau mendengar larangan dari Alvin.