
"Wah, sudah hamil?" Mami Lisa begitu bahagia mendengar kehamilan Dira. Dia kini melihat hasil USG calon cucunya itu. "Selamat ya... Udah 8 minggu. Kamu telat sampai sebulan tapi gak ngerasain morning sickness sama sekali?"
"Enggak Mi. Makanya aku juga gak ngerti. Ini aja Nana yang ngasih tahu soalnya Kak Rasya yang justru berubah sifat. Sering marah dan sensitif banget," cerita Dira yang langsung mendapat satu cubitan kecil dari Rasya di lengannya.
"Sayang, yang poin itu gak usah diceritakan."
"Tuh kan, sensitif banget."
Mereka semua tertawa, termasuk Rili. Dia hanya bisa berpura-pura ikut bahagia, meski dalam hatinya ingin menangis. Rasa iri seolah memenuhi hatinya. Dia tahu, harusnya dia tidak boleh seperti ini. Harusnya dia sudah merelakan semuanya dan ikut berbahagia atas kehamilan Dira.
"Keinginan semua ibu hamil nih gak ngerasain morning sickness jadi semua nutrisi dan vitamin bisa terkonsumsi dengan sempurna. Selamat ya sayang..."
"Iya, Ma."
"Pantes di rumah, Rasya terdengar cerewet dari biasanya." Kelakar Papa Dewa.
Mereka semua mengobrol sambil sesekali bercanda. Tapi Rili hanya terdiam, dia mengalihkan dirinya dengan sepiring makanan yang ada di depannya. Meski tenggorokannya terasa kering dan sulit untuk menelan makanan.
Satu genggaman hangat dari Alvin seolah mampu memberinya kekuatan dari hatinya yang rapuh. Dia kini menatap Alvin. Satu senyuman tulus terukir di wajahnya, seolah mengisyaratkan jika Rili tidak boleh sedih.
Sampai acara makan malam selesai, Rili hanya terdiam.
"Rili, Mami pulang dulu ya. Semoga kamu cepat menyusul Dira." Mami Lisa mencium pipi Rili kanan dan kiri.
"Iya, Mi."
"Rili, kapan-kapan menginap di rumah. Di rumah sepi sekarang," suruh Papi Rizal mengusap puncak kepala Rili.
"Iya Pi, kapan-kapan kita menginap di rumah."
"Ya udah. Vin, kita pulang dulu ya."
"Iya.."
Rili hanya menatap kepergian mereka semua.
"Kamu tunggu sebentar di kantor ya." Satu rengkuhan mengajak Rili menuju kantor. Tapi dia merasakan bahu Rili semakin lama semakin bergetar. "Sayang, kamu nangis?"
Alvin menutup pintu kantornya dan Rili langsung berhambur ke pelukannya. "Jahat gak sih kalau aku iri sama mereka."
__ADS_1
Dan untuk kesekian kalinya, hati Alvin terasa sakit melihat wanitanya bersedih seperti ini. "Iya, aku ngerti." Satu tangan Alvin mengusap punggung Rili agar dia sedikit tenang.
"Andai aja aku gak keguguran pasti perut aku sekarang udah kelihatan ya Mas." Rili semakin menenggelamkan wajahnya di dada Alvin.
"Sssttt, udah jangan diingat-ingat lagi. Kita harus ikhlas." Meski dalam hati Alvin juga sangat merasa kehilangan tapi dia berusaha tegar di hadapan Rili yang rapuh. Dia biarkan Rili menangis dalam pelukannya karena setelah menangis pasti perasaan Rili akan jauh lebih baik.
"Vin, udah ditunggu di dapur." Suara teriakan Adit dari luar membuat Alvin mengendorkan pelukannya.
"Sayang sebentar ya aku mau briefing sama orang dapur buat acara besok." Alvin menangkup kedua pipi Rili dan mengusap air mata di pipi Rili dengan jempolnya. "Udah jangan nangis lagi. Aku selalu ada buat kamu." Alvin mengecup singkat kening Rili.
Rili menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Alvin keluar dari kantor.
"Udah ditungguin dari tadi. Kamu lama banget ngapain?" Adit berjalan di samping Alvin. "Itu kenapa baju kamu basah?" Alvin menunjuk kemeja Alvin yang basah di bagian depan dadanya.
Alvin mengusap kemejanya yang basah di dekat dadanya. "Rili habis nangis."
"Nangis kenapa? Gara-gara Dira hamil?"
Alvin menganggukkan kepalanya, lalu menghentikan langkahnya sesaat. "Aku ngerti gimana sedihnya Rili. Aku sendiri juga merasakannya." Alvin menghela napas panjang.
"Sabar Vin. Kamu gas teruslah, bentar lagi juga pasti jadi."
"Serius? Udah dua bulan sejak kejadian belum buat lagi. Tumben tahan?" kata Adit tanpa filter lagi.
Satu jitakan di kepalanya didapat Adit dari Alvin. "Aku juga masih mikirin kesehatan fisik dan psikis Rili. Aku gak mau lah sampai nyakiti Rili."
"Tapi ini udah saatnya loh. Buat malam ini lebih berkesan, biar sedihnya Rili hilang." Adit membisikkan sesuatu pada Alvin. Otak liar Adit rupanya bekerja dengan sempurna.
Alvin tertawa. "Gila, otak kamu liar amat. Cepat nikah deh, kasian kebanyakan travelling otaknya." Alvin akan melangkahkan kakinya menuju dapur tapi urung. "Tapi bagus juga ide kamu. Ya udah kamu sekarang ke rumah. Atur di lantai atas, nanti aku kasih bonus."
"Kalau menyangkut soal bonus, berangkatlah. Lumayan buat modal nikah."
...***...
Alvin sengaja mengulur waktu sampai Adit selesai dengan pekerjaannya.
"Mas, udah selesai kan. Pulang yuk, aku ngantuk."
__ADS_1
"Oke, yuk." Setelah menutup kafe, dia menuju mobilnya bersama Rili. Dan beberapa saat kemudian mobil Alvin telah melaju.
Dalam perjalanan Alvin sesekali melirik Rili yang telah terkantuk-kantuk. Alvin hanya tersenyum kecil dan membiarkan Rili ketiduran. Meski sebenarnya dia ingin melukis momen indah malam ini.
Sampainya di rumah, Alvin turun dari mobil.
"Sayang, sini aku gendong kalau kamu ngantuk." Alvin membuka pintu di sebelah Rili.
"Aku bisa sendiri Mas." Rili turun dari mobil dan bergelayut manja di lengan Alvin.
"Kamu ngantuk banget gak?" tanya Alvin.
"Sedikit sih Mas. Kenapa?"
"Aku mau... Sini ikut aku." Alvin mengajak Rili menaiki tangga dan menuju kamar di lantai dua. Saat Alvin membuka pintu kamar itu, aroma therapy begitu harum tercium dengan lampu temaram. Dia menuntun Rili masuk ke dalam dan menuju rooftop.
Mata yang tadi sangat berat terbuka seketika terbuka dengan sempurna. Pemandangan rooftop yang tidak seperti biasanya. Ada karpet rasfur dan dua bantal di bawah, lengkap dengan cemilan dan minuman hangat. Banyak kelopak bunga yang bertabur di lantai, lengkap dengan pemandangan langit yang sangat indah bertabur jutaan bintang.
"Mas Alvin kapan nyiapin ini semua?"
"Nyuruh Adit."
Rili tertawa kecil. "Jujur banget." Lalu dia duduk di karpet rasfur sambil menatap langit indah malam itu.
"Jangan sedih lagi ya." Alvin duduk di sebelah Rili dan menarik Rili dalam pelukannya.
Rili menganggukkan kepalanya.
"Kita pasti akan mendapatkan kebahagiaan kita yang tertunda."
"Iya, makasih Mas selalu ada buat aku."
"Pasti, dan akan selalu ada buat kamu selamanya." Satu ciuman hangat mendarat di bibir Rili. "Kita berusaha lagu yuk?!"
Rili hanya menatap Alvin tak mengerti. "Berusaha apa?"
"Meraih kembali sesuatu yang telah gagal." Alvin tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda.
Rili tertawa. "Tumben betah sampai dua bulan, biasanya main serobot aja. Aku nungguin Mas Alvin loh."
__ADS_1
"Surely? Kenapa gak bilang?"
Satu cubitan manja mendarat di dada Alvin. "Malu Mas."