Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Terlalu Aktif


__ADS_3

Siang itu Zaki datang ke rumah Dea karena dia juga harus memastikan keadaan Dea sudah membaik atau semakin memburuk. Tak lupa juga dia membawa buah-buahan dan roti brownies dari outlet ternama.


Dea yang sedang duduk di ruang tengah seketika tersenyum merekah saat mamanya membawa masuk Zaki.


"Dea udah baikan kok. Gak perlu repot bawa apa-apa kalau ke sini," kata Bu Gita sambil membawa buah-buahan ke belakang setelah sebelumnya meletakkan kotak yang berisi brownis di atas meja.


"Gak papa tante." Zaki duduk di dekat Dea. "Udah gak sakit?"


"Udah gak terlalu Kak."


"Tapi tetap jangan digerakkan dulu. Oiya, motor kamu masih ada di bengkel," kata Zaki sambil membuka kotak brownis. "Aku gak tahu makanan kesukaan kamu apa. Brownis mau?"


Dea hanya tersenyum. "Apapun yang dibawakan Kak Zaki pasti aku suka apalagi kalau disuapi."


Adik Alvin ini memang tidak melewatkan kesempatan yang ada. Untung cewek jadi cuma beri kode, kalau cowok pasti tingkah polanya mirip seperti Alvin.


"Disuapin? Nih kakak aja yang nyuapi." Alvin yang tiba-tiba datang bersama Rili langsung menyomot brownis dan disuapkan ke bibir adiknya.


"Ih, Kakak. Ganggu aja sih." Meski demikian dia sudah terlanjur menerima suapan dari Alvin.


"Sorry Zak, adik aku terlalu jual murah."


"Gak papa. Paham, masih kecil."


Seketika Alvin dan Rili tertawa apalagi saat melihat bibir manyun Dea.


"Astaga, udah kuliah semester 7 tapi dibilang masih kecil. Ini pasti gara-gara dianiaya Kak Alvin sejak dini jadinya aku gak bisa tinggi. Ih, pada jahat."


Mereka bertiga tertawa. Bagi Zaki ini hiburan tersendiri untuk melupakan sejenak masalah hati dan keluarganya.


"Oo, ada Alvin sama Rili. Pantas jadi ramai." Bu Gita keluar dari dapur sambil membawa buah yang telah dikupas dan diletakkan di atas meja.


"Dea, gimana keadaannya?" tanya Rili yang duduk bersebelahan dengan Alvin.


"Cuma keseleo aja Kak. Ini udah mendingan," jawab Dea.


"Rili, gimana? Udah ada hasil kerjasamanya dengan Alvin?" tanya Bu Gita yang memang sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari mereka.


Rili hanya tersenyum malu.


"Baru juga seminggu, belum kelihatan hasilnya," jawab Alvin sambil mengunyah makanannya.


"Kak Alvin keluar siang-siang gini gak kebakar kulitnya?" tanya Dea mulai menggoda kakaknya itu karena dia bisa menangkap mahakarya Rili di leher Alvin.


"Nggak. Kan bawa mobil." Alvin tak mengerti.


"Kirain udah jadi vampir. Tuh dileher ada bekas gigitan."


Seketika Alvin menaikkan krah kemejanya. "Adik kecil jeli banget matanya."


Dea tertawa dengan keras. Sedangkan Bu Gita menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kalian udah makan?" tanya Bu Gita.


"Udah Ma, tadi mampir dulu ke kafe buat makan," jawab Rili.


"Ya udah, kamu istirahat saja di kamar. Alvin kamu balik ke kafe gak?"


"Gak, Ma."


"Ya udah aku ke kamar dulu aja." Rili berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Sayang aku ikut."


"Alvin, Mama mau ngomong sebentar. Ikut Mama." Bu Gita menarik tangan Alvin agar mengikutinya ke dapur. "Zaki makan dulu ya.."


"Tidak perlu repot-repot tante. Saya sebentar lagi mau balik."


"Ya, nanti aja deh Kak balik." Terdengar suara Dea yang menyahuti Zaki.


Kini Alvin duduk di dekat meja dapur bersama mamanya. Sepertinya sang mama ingin menanyakan suatu hal sama anaknya itu.


"Zaki itu menurut kamu gimana anaknya? Kok Dea kelihatannya naksir berat gitu."


Alvin tertawa kecil. "Memang dasarnya Dea, Ma yang centil. Tapi menurut aku sih Zaki itu baik dan gak aneh-aneh, pekerja keras lagi."


"Pantes Dea naksir gitu."


"Zaki kan cinta monyetnya Rili dulu."


"Iya. Dulu banget waktu SMP."


"Oo, dunia itu sempit ya."


"Iya, tapi kalau Dea memang suka Zaki ya gak papa. Kan aku juga udah kenal sama Zaki udah lama." Alvin berdiri lalu mengambil botol yang berisi air putih di dalam kulkas.


"Mau dibawa kemana itu airnya?"


"Ke kamar, siapa tahu habis beraktifitas haus."


Satu cubitan mendarat di lengan Alvin. "Rili biarin tidur siang dulu, beraktifitas aja terus."


"Ma, mau nyoba di kamar aku lah. Don't disturb." Kemudian Alvin berjalan menuju kamarnya.


Bu Gita hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alvin yang persis dengan papanya. "Dasar pengantin baru."


Alvin masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu. Dia letakkan botol minumannya di atas nakas. Dia tersenyum menatap istrinya yang telah memejamkan matanya sambil memeluk guling.


"Sayang, peluk aku aja jangan peluk guling." Alvin menarik guling itu hingga membuat Rili membuka matanya kembali.


"Mas aku ngantuk." Rili menguap panjang.


Alvin merebahkan dirinya di sebelah Rili lalu memeluknya dengan erat. "Coba di sini yuk."

__ADS_1


"Ngapain?" Rili masih setengah sadar.


"Main-main." Tangan Alvin mulai membuka satu per satu kancing kemeja Rili.


"Ngantuk ah. Nanti aja di rumah."


Alvin tak mengindahkan perkataan Rili. Dia justru semakin menggodanya. Memberi sensasi nikmat yang membuat bibir Rili melenguh tertahan. "Masss.." Rili akhirnya membuka matanya dan menatap Alvin yang tersenyum penuh arti.


"Ayo, biar ada kenangannya di kamar ini. Siang yang membara."


Rili merangkum pipi Alvin lalu mencium bibirnya sesaat. "Tapi aku jadi pemain pasif ya. Capek."


"Iya, sayang. Aku yang akan beraksi." Alvin mencium kembali bibir Rili, dengan lembut dan begitu dalam.


Meski Rili bilang ingin menjadi pemain pasif, tapi bibirnya begitu liar membalas pagutan Alvin yang kian memanas bahkan tangannya sudah membuka kancing kemeja Alvin satu per satu.


Alvin melepas ciumannya, dia segera membuka seluruh kain yang melekat di dirinya dan Rili.


Tangan Alvin segera menjamah titik-titik sensitif Rili. Dia menahan suara lenguhannya karena saat ini sedang berada di rumah mertuanya.


"Aku mulai ya. De sah nya jangan keras-keras."


Rili menganggukkan kepalanya lalu melingkarkan tangannya di leher Alvin. Dia hanya mampu menggigit bibir bawahnya saat Alvin mulai menghujamnya lagi. Merasakan setiap pegerakan yang dilakukan Alvin. Semakin lama rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuh.


"Dulu aku nikmati malam-malam sendiri di kamar ini dan sekarang aku nikmati duet bersama kamu. Biarkan tembok-tembok di kamar ini menyaksikan adegan ini sama kamu."


Rili tertawa kecil mendengar Alvin. "Ih, ngomong apa sih."


Alvin mengecup kening Rili. Kemudian dia semakin menambah ritme gerakannya. "Enak sayang?"


Rili menganggukkan kepalanya pelan dengan wajahnya telah memerah. Berulang kali dia gigit bibir bawahnya menahan suara yang hampir saja lolos.


Alvin membungkam bibir Rili dengan bibirnya saat Rili telah mencapai puncaknya hingga membuat suara lenguhan itu tertahan.


Setelah Rili melemas, Alvin menegakkan dirinya. Dia ubah posisi kaki Rili hingga berada di depannya dan terangkat ke atas. Dia semakin menggencarkan serangannya. Semakin terasa sempit menggigit. Alvin hanya berdesis pelan merasakan kenikmatan yang semakin menjadi candu.


Tok! Tok! Tok!


"Alvin, mobil kamu menghalangi jalan. Zaki mau balik, ada kerjaan mendadak." teriak mamanya dari depan pintu.


"Ah, nanggung banget." umpat Alvin pelan.


💞💞💞


.


.


Aduh... 🤦🏻‍♀️


Mereka terlalu aktif...

__ADS_1


__ADS_2