Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Suami Posesif


__ADS_3

Fandi yang berdiri tak jauh dari tempat mereka, telinganya bisa menangkap cerita kedua ibu itu. Dia semakin sadar, semua ini hanyalah sandiwara semata.


"Kak, kita duduk di sana aja ya," ajak Dira yang baru saja mengambil minum.


Fandi hanya terdiam dan menuruti ajakan Dira. "Ra, selesai acara aku mau ngomong sama kamu."


Dira hanya menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara riuh dari tamu undangan terutama para wanita. Mereka seperti menyambut kedatangan seorang artis.


"Ada apa tiba-tiba ramai gitu."


"Zal, lo gak tahu?"


Rizal menggelengkan kepalanya.


"Itu, pasti Rey yang datang," kata Dewa yang memang ada dalam satu grup youtuber Indonesia dengan Alvin termasuk Rey juga.


"Rey??" ucap mereka secara bersamaan.


"Rey penyanyi itu?" tanya Andri.


"Iya man..." Dewa menghentikan perkataannya saat akan menyebut kalau Rey adalah mantan Lisa, apalagi saat melihat ekspresi Rizal sudah berubah. "Rey, teman sekelas gue."


"Ehem.. Ehem.." Evan berdehem saat melihat Rey yang masih nampak muda dan sangat keren sedang berjalan ke arah mereka.


"Katanya Rey sekarang duda anak satu, kita kan dalam satu grup youtuber Indonesia, termasuk Alvin juga. Alvin yang mengundang dia ke sini." lanjut Dewa bercerita.


Mendengar kata duda, hati Rizal menjadi panas. Ditambah, kini dia melihat Lisa yang nampak terpesona melihat Rey yang kian mendekat.


"Masih ganteng dan keren gitu, panteslah banyak fans cewek. Apalagi statusnya duda, makin banyak aja yang ngejar. Harus hati-hati ini, takut istri gue ngelirik. Nanti kena pemikat dia, wah bahaya," sindir Evan yang sudah tanggap dengan perubahan ekspresi Rizal.


"Kalian semua juga di sini? Apa kabar?" Pertanyaan itu sekarang begitu dekat di telinga Rizal. Rey memang sengaja berdiri di antara Rizal dan Lisa.


Lisa mendongakkan kepalanya menatap Rey. Wajah itu memang masih tampan, dengan senyuman lesung pipi yang sangat menggoda.


"Baik.." jawab mereka bersamaan kecuali Rizal dan Lisa.


"Pak Rizal," Rey kini menatap Rizal. "Awalnya aku gak tahu kalau Alvin itu calon mantu kamu. Baru ngeh waktu lihat undangan tadi." Rey tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Selamat Pak Rizal. Hebat bisa punya menantu seperti Alvin."


Rizal menjabat tangan Rey sesaat. "Iya, terima kasih sudah datang," jawabnya kaku.


Pak?? Memang aku sudah setua itu? dumel Rizal dalam hatinya.


Rey kini beralih menatap Lisa, cinta pertamanya dulu.


"Lisa, apa kabar?" Rey sedikit membungkukkan badannya karena ingin melihat wajah cantik Lisa lebih jelas lagi.


"Iya, baik Rey."


"Kamu masih sama kayak dulu ya, malah makin cantik."


Mendengar kalimat itu, hati Rizal semakin memanas. Rasanya dia ingin mengusir orang itu sekarang juga.


"Sebentar ya, aku ke sana dulu." Rey kembali menegakkan dirinya lalu berjalan menuju Aksa yang sedang bermain piano. Rey diundang Alvin ke acaranya memang untuk menyanyikan sebuah lagu. Gratis untuk sesama kerabat di grup youtuber.

__ADS_1


"Mami, tolong pandangannya dijaga."


Mendengar suaminya, seketika Lisa mengalihkan pandangannya dari Rey.


"Iya Pi, Mami cuma lihat bentar."


"Kenapa? Masih terlihat muda daripada Papi? Barusan aja Rey panggil Papi, Pak. Emang Papi setua itu."


Evan dan Andri sudah tidak tahan lagi menahan tawanya. Sahabatnya satu itu dari muda sampai sekarang masih saja posesif.


"Papi, kita kan emang udah tua. Lupa kalau kita udah punya mantu. Jangan menolak tua deh."


Rizal berdengus kesal. "Terserah Mami lah."


"Waduh, suasana mulai memanas."


"Berasa jadi kayak anak SMA lagi kalau ada cemburu-cemburu gini."


"Benar-benar dapet feel nya reoni SMA."


Sahabat Rizal malah tertawa di atas penderitaannya.


"Hai, apa kabar semua??" Rey mengambil mic di dekat Aksa lalu segera menyapa para tamu undangan.


Suara sorakan semakin ramai terdengar.


"Sebelumnya aku mau mengucapkan selamat kepada mempelai pengantin, semoga selalu diberi kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Siapa yang mau request lagu??"


Beberapa tamu undangan menyebutkan judul lagu.


Rey berjalan menuju meja teman-teman lamanya. Apakah dia akan mengajak Dewa untuk bernyanyi bersama atau yang lainnya?


Dia justru menghentikan langkahnya di dekat Lisa. "Masih bisa bernyanyi kan?" Tanyanya sambil mengulurkan sebuah mic ke hadapan ibu dari Rili itu.


"Aku udah lama gak pernah nyanyi."


"Just for this moment. Aku yakin suara kamu masih sama seperti dulu."


Lisa menganggukkan kepalanya sambil meraih mic itu.


Rey tersenyum lalu membalikkan badannya dan berjalan kembali di area music corner.


"Mi, gak usah." Rupanya hati Rizal semakin memanas.


"Sebentar aja, Pi." Lisa berdiri lalu mengusap bahunya sesaat dan mendekati Rey.


Rizal hanya berdengus kesal. Dia mengerti, dia sudah berumur jadi harus bisa menekan egonya. Tapi kesabaran juga ada batasnya.


Para sahabat yang tidak tahu diri itu justru tertawa puas.


"Hati-hati nanti kena pelet lagi," celetuk Andri.


"Iya, pemikat sekarang lebih canggih, sekali lirik cewek langsung ngikut." Evan semakin menambah panas suasana.


"Sial kalian!! Tertawa di atas penderitaan gue!"

__ADS_1


Duhai engkau sang belahan jiwa


Namamu terukir dalam hatiku


Di setiap langkah ku selalu berdoa


Semoga kita bersama


Mendengar suara Rey, seluruh penonton mulai bersorak. Suaranya masih sangat merdu, dengan paras yang rupawan tentu menjadi daya tarik sendiri.


Duhai engkau tambatan hatiku


Labuhkanlah cintamu di hidupku


Ku ingin kau tahu betapa merindu


Hiduplah engkau denganku


Rizal menatap tajam istrinya yang sedang bernyanyi itu. Selama menikah puluhan tahun, mengapa dia tidak pernah mengajaknya untuk bernyanyi bersama. Sampai suara khas yang mirip Erin Kangen Band saja dia tidak tahu. Benar-benar selama ini dia hanya sibuk mengajaknya duel di kamar.


"An jir, suara istri sahabat kita merdu banget ternyata. Selama ini lo kemana aja, baru tahu kalau istrinya memiliki suara emas."


Tanpa cerita, sahabat Rizal ini seolah tahu isi hatinya.


"Sibuk dong. Sibuk karaokean di kamar. Hahaha.."


"Widih, kalau kayak gitu yang bersuara merdu malah Rizal."


"Eh, kalian bisa diem gak!!" Emosi Rizal sudah mencapai puncaknya. Apalagi saat melihat Rey dan Lisa yang sesekali saling menatap.


Dengarkanlah


Di sepanjang malam aku berdoa


Bersujud dan lalu aku meminta


Semoga kita bersama


Dengarkanlah


Di sepanjang malam aku berdoa


Cintaku untukmu selalu terjaga


Dan aku pasti setia


"Sial!!" Rizal kini berdiri dan berjalan cepat, bukan menuju music corner yang dikerumuni banyak orang tapi menuju pelaminan.


Sahabat-sahabat Rizal ini masih saja tertawa. "Pemirsa, apa yang akan terjadi? Kita lihat saja part selanjutnya...."


💞💞💞💞


😆😆😆😆😆


Author jadi ingat kisahnya Rizal, Lisa, dan Rey. Jadi mau ngakak pas buat bab ini.. 🤣

__ADS_1


__ADS_2