
Beberapa hari telah berlalu. Hari pernikahan Rasya dan Dira tinggal satu minggu lagi.
"Pak Rasya sama Dira mau menikah?!" Beberapa karyawan di perusahaan Rasya terkejut karena tiba-tiba mendapat undangan dari atasannya. Dan lebih terkejut lagi karena atasannya itu menikah dengan sekretarisnya.
"Tapi dengar-dengar mereka sahabat dari kecil."
"Wah, akhirnya Pak Rasya mendapatkan jodohnya ya."
Nana masuk ke dalam kantor saat teman lainnya sedang asyik membicarakan pernikahan bosnya.
"Na, kamu gak papa kan?" tanya Doni yang melihat Nana tengah menatap undangan pernikahan itu.
"Emang aku kenapa? Pak Rasya bukan jodoh aku, ya udahlah."
Doni tersenyum simpul. Nana sudah banyak berubah. Mungkin hatinya juga sudah berubah.
Nana keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruangan Dira.
"Nana?" Dira cukup terkejut melihat kedatangan Nana yang tiba-tiba. Selama ini Nana sangat jarang sekali mengobrol dengannya meskipun mereka dalam satu kantor.
"Ra, selamat ya. Udah mau nikah sama Pak Rasya. Jadi bu bos dong." Nana bersalaman dengan Dira sesaat.
"Iya, makasih. Kamu datang ya di acaranya."
"Iya, pasti. Tenang aja, aku pasti datang. Di kafenya Kak Alvin kan?"
"Iya,"
Nana ikut duduk di sebelah Dira sesaat. Mereka mulai mengobrol tanpa lagi ada rasa sakit di hati Nana.
...***...
Malam itu, Rili tersenyum menatap hasil USG buah hatinya yang kedua kalinya. Sudah terlihat janin sebesar buah strawberry.
Alvin yang baru saja dari kamar mandi, merangkak naik ke atas ranjang dan duduk di sebelah Rili. Dia ikut menatap foto itu.
"Syukurlah semua sehat."
Rili menganggukkan kepalanya.
"Tapi kamu harus tetap banyak istirahat soalnya kata dokter kandungan kamu masih lemah."
"Iya, Mas." Rili kembali meletakkan foto itu dalam buku pemeriksaan lalu meletakkannya di atas nakas. Kemudian Rili menyandarkan dirinya di dada Alvin. "Tiga hari lagi Kak Rasya akan menikah. Aku udah gak sabar lihatnya Mas."
"Iya, tapi nanti tetep kamu gak boleh capek-capek. Duduk aja selama acara berlangsung."
__ADS_1
"Iya Mas. Protektif banget sih."
"Iyalah, kamu tiap kali kecapekan perutnya langsung kram. Kan aku takut sayang." Alvin mengecup puncak kepala Rili sebagai tanda sayang.
Rili tersenyum dan semakin mengendus dalam aroma maskulin Alvin.
"Mas..." Rili memainkan dada Alvin dengan telunjuknya membentuk pola abstrak.
"Apa?" tanya Alvin karena sepertinya istrinya itu menginginkan sesuatu.
"Mas gak pengen? Terakhir kan Mas Alvin lakuin itu dua minggu yang lalu waktu mau acaranya Kak Rasya."
Alvin tersenyum kecil lalu mengecup puncak kepala Rili lagi. "Kalau ditanya pengen, ya jelas pengen. Tapi aku juga harus jaga kondisi kamu. Memang kenapa tiba-tiba tanya gitu?"
Rili tersenyum lalu dia mendongak dan mengecup singkat bibir Alvin.
"Lagi pengen, ya?" Alvin membalas kecupan singkat dari Rili.
Rili mengangguk malu-malu.
"Tapi emang gak papa?" Alvin masih meragu. Walau tadi sempat bertanya pada Dokter dan memang boleh asal tidak terlalu sering.
"Tadi kan habis periksa. Kata dokter juga gak papa asal gak terlalu sering."
Wajah Rili yang memerah begitu sangat menggemaskan. Alvin mencium bibir itu. Begitu lembut, yang semakin lama semakin dalam.
Alvin melepas pagutannya. Mereka sama-sama mengambil napas dalam. Saling menatap beberapa saat lalu tersenyum.
"Kenapa aku jadi deg-deg an kayak malam pertama gini." Perlahan tangan Alvin membuka kancing piyama Rili.
"Emang waktu malam pertama Mas Alvin deg-deg an? Kayaknya langsung trabas aja deh."
Alvin tertawa. Karena memang iya, dia langsung main trabas saja. Dia kini menegakkan dirinya sambil melepas semua pakaian yang melekat. Di tubuh Rili dan dirinya.
Dia pandangi tubuh Rili yang sedikit berkurang berat badannya karena makan yang tidak teratur. "Sayang kamu kurusan."
"Cuma turun satu kilo Mas. Kata Dokter biasa di awal hamil asal gak turun drastis."
"Kamu makan yang banyak ya." Alvin kembali mendekatkan dirinya.
"Iya Mas. Tapi kadang rasanya mual banget jadi gak enak makan."
Alvin kembali mencium lembut bibir yang sedang berbicara itu. Tangannya sudah mulai menciptakan sensasi yang membuat Rili melenguh tertahan.
"Sudah basah dari tadi ya."
__ADS_1
Rili tersenyum. "Gak tahu, dekat Mas Alvin tiba-tiba pengen. Ayo Mas, masukin."
Suara manja Rili benar-benar membuat Alvin semakin menegang. Dia berlutut dan bersiap mengarahkan miliknya.
"Sayang, ayah main bentar ya," kata Alvin sambil mengusap perut Rili yang masih terlihat datar.
"Mas..." Rili berdesis nikmat saat mikik Alvin mulai menerobos masuk dan bergerak berirama.
"Kalau kram lagi bilang ya." Alvin kembali mengungkung Rili dengan tangan yang terpaut di jemari Rili.
Rili hanya menganggukkan kepalanya. Rasa nikmat itu semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan ritme yang lebih lembut dari biasanya, sudah mampu meloloskan suara erotis itu.
Alvin berkali mengecup kening, pipi, hingga bibir Rili.
Napas Rili semakin terengah. "Mas, cepetin dikit."
"Kamu mau sampai?"
Rili mengangguk dengan wajah yang semakin memerah.
Alvin semakin menambah pompaannya. Dia tegakkan dirinya agar miliknya melesat masuk dengan sempurna.
"Mas..." Rili mengejang sesaat yang di barengi re ma san nikmat di bawah sana.
Alvin sedikit mendongakkan kepalanya merasakan nikmat yang kian menjadi. Bibirnya terus men de sah nikmat.
Untuk sesaat dia semakin mempercepat dirinya untuk meraih puncak yang sudah diujung. "Sayang... Argghh.." Milik Alvin berkedut beberapa kali menuntaskan hasratnya di dalam sana.
Alvin mengatur napasnya sesaat lalu melepaskan dirinya dan berbaring di samping Rili. Dia tarik tubuh yang berkeringat itu dalam pelukannya.
Rili sedikit meringis sambil mengusap perutnya. Hal itu jelas membuat Alvin menjadi sangat khawatir.
"Sayang sakit?"
"Iya, nyeri kram gitu Mas kayak biasanya."
Tangan Alvin kini ikut mengelus perut Rili dengan lembut. "Aku jadi khawatir. Udah ya, besok-besok gak usah main lagi. Nunggu sampai lahir aja."
"Dibuat tidur pasti hilang Mas, jangan terlalu panik."
"Tapi kan aku jadi khawatir. Apalagi tiap periksa, dokter selalu bilang kalau kamu punya kandungan lemah."
Rili menganggukkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya.
"Sayang pakai baju dulu." Alvin mengambil kaos miliknya yang longgar agar Rili tidur dengan nyaman. "Kamu tidur ya, sini aku usap perutnya biar nyaman."
__ADS_1
Alvin terus mengusap perut Rili dengan lembut, dia mendekatkan wajahnya pada perut Rili. "Hei, sayang sehat-sehat ya di dalam. Gak akan Ayah ajak main lagi kok di dalam. Oke." Lalu Alvin mencium perut Rili.
Setelah itu dia beralih menatap Rili yang sudah tertidur dengan nyenyak. Satu kecupan mendarat di kening Rili. "Met, tidur sayang. I love you..."