Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Aku Selalu Ada Untukmu


__ADS_3

Setelah mereka semua keluar dan pintu telah tertutup. Tangis Rili langsung pecah. "Mas..." Air mata itu jatuh dengan derasnya.


"Iya, aku ngerti apa yang kamu rasakan." Alvin naik ke atas brangkar, dia raih tubuh yang bergetar karena isak tangis itu ke dalam peluknya.


"Mas, maaf aku gak bisa pertahanin calon anak kita." Rili menenggelamkan wajahnya di dada Alvin. Dia semakin terisak. Dia sangat merasa bersalah.


"Ini sudah jalannya sayang. Kita harus ikhlas. Meskipun sebenarnya aku juga sangat sedih, bahkan aku juga merasa gagal jagain kamu." Alvin mengusap lembut rambut Rili. Kaos depannya sekarang sudah terasa basah karena air mata Rili. Melihat kesedihan Rili seperti ini, dadanya bagai diremat sesuatu. Apalagi Alvin tahu tidak hanya hati Rili yang sakit tapi juga raganya.


"Ini bukan salah Mas Alvin. Aku yang gak bisa hati-hati."


"Udah, kita gak perlu menyesali yang terjadi." Alvin beberapa kali menyusut air matanya agar tidak sampai menetes melewati pipinya. "Kamu malam ini boleh menangis sepuasnya tapi besok aku gak mau lihat kamu menangis lagi."


Tangis Rili semakin menjadi. Dia terisak dalam pelukan Alvin. Ini pertama kalinya dalam hidupnya merasakan sedih dan kehilangan sampai sedalam ini.


Alvin beberapa kali mencium puncak kepala Rili. Dia usap punggung Rili agar sedikit tenang. "Andai aku bisa, aku ingin bisa menggantikan semua yang kamu rasakan. Aku tahu saat ini gak hanya hati kamu yang sakit tapi juga tubuh kamu."


Sampai beberapa menit suara isak tangis Rili berangsur mereda. Dia sudah lelah untuk menangis.


"Nanti kita pasti akan mendapat gantinya sayang. Dan, aku rela merasakan semua yang kamu rasakan saat hamil jika nanti kamu hamil lagi."


Rili sedikit mendongak menatap Alvin. "Emang bisa? Jangan bilang gitu Mas. Aku bahagia merasakan kehamilanku kemarin meski hanya dua bulan. Aku merasa menjadi seorang wanita yang sangat sempurna."


"Semoga saja. Aku sayang sama kamu melebihi apapun. Aku rela melakukan semuanya asal kamu bahagia." Satu kecupan hangat mendarat di kening Rili.


Rili sudah lebih tenang dari sebelumnya. "Mas..." Rili kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alvin. "Sebenarnya aku takut..."


"Takut apa?"


"Tadi aku sempat tanya sama dokter kenapa kandungan aku bisa lemah, dan kata dokter itu memang dari rahim aku jadi kehamilan selanjutnya juga pasti akan beresiko mengalami hal yang sama."


Sebenarnya Alvin sudah paham dengan hal itu sejak pertama kali Rili periksa kandungan. "Jangan takut, justru selanjutnya kita bisa lebih hati-hati dan nanti pasti aku akan lebih jagain kamu."


"Tapi kalau..."


"Ssttt, udah gak usah mikir macam-macam." Alvin semakin mengeratkan pelukannya, memberi kehangatan yang bisa membuat hati tenang.


"Mas Alvin kok bisa nangis juga?"


"Karena aku sayang banget sama kamu. Aku gak mau lihat kamu sakit. Aku gak mau lihat kamu sedih."


"Aku juga sayang sama Mas Alvin."


Perasaan Alvin sedikit lega karena Rili sudah berhenti menangis, bahkan dia sudah mulai berbicara banyak hal.


Di dekat pintu ada dua ibu kepo yang sedang mengintip mereka. Pintu memang sengaja mereka buka sedikit untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


Lisa justru menangis. Benar sekali kata suaminya itu, sedari tadi Rili sedang menahan tangisnya.


"Mami udah keponya?"


Lisa justru berhambur ke pelukan suaminya. "Kasihan Rili, Pi. Benar kata Papi dia lagi nahan tangis. Dia gak mau kita tahu kesedihannya."


"Kan Rili selalu berusaha kuat di depan kita dari dulu. Cuma sama Alvin dia bisa mencurahkan semua kesedihannya."


"Untung Alvin sayang banget sama Rili, Pi."


Bu Gita ikut terenyuh, dia juga sesekali menyeka air matanya.


"Rasya, kalau kamu mau pulang dulu gak papa. Besok kan kalian berangkat honeymoon," suruh Papi Rizal.


"Iya Pi, kami pulang dulu."


Rasya dan Dira pulang terlebih dahulu. Sedangkan kedua orang tua Alvin dan Rili masih mengobrol di lorong rumah sakit.


...***...


Alvin tak melepas pelukannya dari Rili semalaman. Rili yang tertidur pulas karena lelah menangis, sampai matahari menunjukkan sinarnya, dia belum juga membuka matanya.


Berbeda dengan Alvin, hampir semalaman dia tidak bisa tertidur. Dia terus menjaga Rili dan memberi kenyamanan, walau tangannya terasa pegal karena dibuat bantal Rili semalaman.


Sampai suster pagi itu datang dan memeriksa keadaan Rili.


"Iya," Alvin berusaha menarik tangannya dari kepala Rili tapi tidak bisa.


Pergerakan Alvin membuat Rili terbangun.


"Ada suster, aku turun dulu."


Rili sedikit mengangkat kepalanya agar Alvin bisa melepas tangannya.


Alvin kini berdiri di sisi brankar Rili melihat suster memeriksa tensi darah Rili.


"Di bagian perut sudah tidak sakit?"


Rili menggelengkan kepalanya. "Kapan boleh pulang sus?" tanya Rili.


"Nanti sore sudah boleh pulang. Tapi masih tidak boleh beraktifitas selama dua hari ya."


Rili menganggukkan kepalanya.


Setelah melakukan pemeriksaan, suster itu keluar.

__ADS_1


"Mas, aku mau ke kamar mandi."


"Ayok, aku gendong."


Rili duduk secara perlahan. "Aku bisa sendiri, Mas."


"Gak papa," Alvin meraih tubuh Rili lalu menggendongnya menuju kamar mandi. "Kamu mau mandi sekalian?"


"Iya Mas, aku kemarin sore gak mandi kan cuma di lap aja."


Alvin tertawa menggoda Rili. "Pantes bau."


"Ih, Mas."


"Aku ambil pakaian ganti kamu dulu."


"Iya Mas."


Alvin keluar mengambil pakaian sedangkan Rili melanjutkan keinginannya untuk buang air kecil, setelah itu dia membasuh dirinya.


Beberapa saat kemudian Alvin masuk sudah membawa perlengkapan mandi dan pakaian lengkap Rili yang semalam dikirim oleh Lela.


"Sini aku bantu." Alvin menggantung pakaian Rili terlebih dahulu lalu dia mulai membantu istrinya membersihkan diri.


"Mas, aku malu. Biar aku sendiri, ini masih keluar..."


"Sama suami sendiri kenapa malu? Lagian aku juga ikut andil buat kamu kayak gini." Alvin dengan telaten membasuh tubuh Rili hingga bersih dan wangi. Dia juga mengeringkan seluruh kulit Rili, setelah itu membantunya memakai baju.


"Mas, aku tuh udah gak papa. Sampai dipakaikan baju kayak gini."


"Coz you are my wife, my love, my everything."


Rili tertawa, suaminya itu memang selalu bisa menghiburnya.


"Udah wangi, udah cantik," Alvin kembali mengangkat tubuh Rili membawanya keluar dari kamar mandi.


Dia turunkan Rili di atas brangkar. "Dandan dulu biar gak pucat."


"Memang bawa make up."


"Bawa dong, Mbak Lela kan the best. Pouch make up kamu." Alvin menyerahkan kantong make up yang biasanya Rili bawa kemana-mana. Sedangkan dirinya sendiri kini mulai menyisir rambut Rili.


"Mas mandi dulu saja. Aku bisa sisir sendiri."


"Iya, bentar lagi. Nih, rambut kamu kusut."

__ADS_1


Mereka sudah bisa saling bercanda untuk menghilangkan rasa sedih di hati mereka.


__ADS_2