Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Kedatangan Kakak Ipar


__ADS_3

"Sayang kamu tidur dulu ya. Aku masih bahas acara selanjutnya yang diadakan di kafe," kata Alvin di seberang sana lewat panggilan whatsapp. Bahkan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam.


"Iya, Mas. Pulang jam berapa kira-kira?"


"Belum tahu, soalnya akan ada acara dari kecamatan jadi harus benar-benar terkonsep."


"Ya sudah. Hati-hati ya nanti di jalan. I love you."


"I love you too."


Rili kini duduk di depan televisi sambil mencari chanel yang bagus untuk dia tonton. Rasanya sepi juga di rumah sebesar itu hanya ada dirinya saat ditinggal Alvin bekerja.


"Sepi banget." Rili mulai merebahkan dirinya. "Nanti kalau udah punya anak pasti ramai ya." Rili tersenyum kecil sambil membayangkan dirinya ketika punya anak nanti. Lama kelamaan matanya terasa berat dan dia akhirnya tertidur di atas sofa.


Hampir jam 11, Alvin baru sampai di rumah. Setelah mengunci pagar, dia masuk ke dalam rumah secara perlahan. Menutup kembali pintu itu dan menguncinya. Saat sampai di ruang tengah, dia tersenyum kecil menatap Rili yang sedang tertidur dengan pulas di atas sofa.


"Sebahagia ini rasanya ditungguin istri di rumah. Sampai ketiduran di sini." gumam Alvin lalu mematikan televisi dan perlahan mengangkat tubuh istrinya. Dia berjalan pelan menaiki anak tangga.


Setelah sampai di kamar, Alvin merebahkan tubuh Rili dengan pelan agar dia tidak sampai terbangun. Setelah itu, dia selimuti Rili sampai menutupi tubuhnya. "Tidur yang nyenyak sayang..." Setelah mengecup kecil kening Rili, Alvin beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum tidur.


...***...


Rili bergeliat saat merasakan tangan Alvin yang begitu erat memeluk dirinya. Dia kini menatap wajah tampan itu yang sedang terlelap dalam tidurnya.


"Mas Alvin semalam pulang jam berapa? Aku sampai gak merasa kalau sudah dipindah ke kamar," gumam Rili begitu pelan. Dia tidak mau mengganggu tidur suaminya.


Rili melihat jam dinding yang sudah hampir pukul 5 pagi. Perlahan dia menyingkirkan tangan Alvin lalu bangun. Tanpa suara dia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan dirinya, dia keluar dari kamar dan turun menuju dapur.


"Buat susu terus buat nasi goreng. Meskipun gak seenak buatan Mas Alvin, tapi setidaknya aku buat dengan cinta." Rili tersenyum kecil. Lalu dia mulai beroperasi di dalam dapur.


Rambut yang dicepol ke atas dan tubuh yang berbalut daster tidur pendek itu membuat Alvin yang sedari tadi mengikutinya secara diam-diam ingin sekali segera mendekat.


"Lagi apa sih?" Alvin menyelipkan kedua tangannya di sela lengan Rili dan memeluknya dari belakang.


"Ih, Mas Alvin ngagetin aja. Untung gak kena pisau."


Alvin tersenyum lalu mencium sesaat leher putih itu. "Mau buat apa?"


"Buat nasi goreng."


"Emang bisa?"

__ADS_1


"Bisa, meskipun gak seenak Mas Alvin." Rili meletakkan pisaunya lalu tangannya meraih segelas susu yang baru saja dia buat. "Minum dulu Mas." Rili membalikkan badannya dan memberikan susu itu pada suaminya.


"Aku maunya susu kamu."


"Ih, minum ini dulu."


Alvin meraih gelas itu lalu meminumnya sampai habis.


Kemudian Rili mengambil gelas yang telah kosong lalu meletakkannya kembali di atas meja. Dia kembali berkutat dengan bumbu dapur.


"Caranya cincang bawang itu gini." Alvin kembali memeluk Rili dari belakang dua pegang tangan Rili yang memegang pisau, tangan kirinya memegang bawang yang telah terkupas. Alvin mulai menggerakkan pisau itu tanpa melihat gerakan tangannya. Dia justru menatap wajah Rili.


Merasa ada sapuan napas di dekat pipinya, Rili menoleh. Pandangan mereka terpaut.


"Mas, kok gak lihat. Nanti tangannya kena pisau."


"Udah hafal." Alvin tersenyum kecil lalu mencium bibir Rili.


Pisau itu terlepas dari tangan mereka saat ciuman itu semakin liar dan dalam.


Alvin melepas ciumannya sesaat. Dia membalik tubuh Rili lalu bergeser ke kanan dan mendudukannya di atas meja dapur yang kosong. Lagi, Alvin kembali mencumbunya dengan tangan yang sudah merayap kemana-mana dan berhasil membuat suara lenguhan terlepas dari bibir Rili.


"Mas, aku mau masak," kata Rili sambil mengatur napasnya yang tersenggal.


"Tapi sebagai ibu rumah tangga yang baik dan benar juga harus bisa masak."


"Iya, nanti kamu juga akan bisa dengan sendirinya tapi kamu nikmati aja sekarang keuntungan mempunyai suami seorang chef dan pemilik kafe." Satu kecupan mendarat di pipi Rili.


Rili tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher Alvin. "Nanti aku gendut."


"Gendut? Mana? Dari dulu makannya banyak tapi badan tetap segini aja."


Rili tertawa mendengar pernyataan Alvin yang memang benar adanya. "Cacingan kali ya..."


"Oiya, satu minggu lagi Mbak Lela mau kerja di sini. Bantu kita di rumah sama nemeni kamu kalau aku belum pulang."


"Mbak Lela? Oo, yang tinggal di Donomulyo itu."


"Iya. Gak papa kan? Aku cuma khawatir aja kalau kamu di rumah sendiri."


"Iya, gak papa."

__ADS_1


"Jadi sebelum Mbak Lela ada di rumah ini, kita coba lakuin di berbagai tempat dulu yuk?" Alvin menyingkap daster pendek Rili hingga pa ha mulus itu terekspos dengan sempurna.


"Masak iya iya di dapur sih Mas."


"Ala-ala film blue." Alvin kembali mencium Rili dengan tangan yang sudah menyusup di balik daster itu. Lenguhan semakin terdengar saat Alvin menyentuh titik sensitif Rili di bawah sana.


Alvin sudah menurunkan celana pendeknya, dia sudah bersiap menggencarkan serangannya tapi tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi.


"Mas, ada yang pencet bel."


"Udahlah biarin."


"Tapi itu gak berhenti." Rili menepuk jidatnya sesaat. "Aku lupa, Kak Rasya memang mau ke sini pagi-pagi."


Alvin menghela napas kesal. Miliknya sudah tegak dengan semangat juang tapi malah gagal menembak.


"Ngapain jam 6 udah ke rumah pengantin baru."


"Mungkin mau sekalian ke kantor. Naikin dulu celananya, ih."


Alvin kali ini mengalah. Meski sangat kesal. Hasratnya sudah di ubun-ubun yang membuat kepalanya menjadi pening. Dia menaikkan kembali celananya lalu duduk di dekat meja makan.


Sedangkan Rili turun dan merapikan dirinya yang baru saja diacak-acak Alvin, lalu dia segera melangkah cepat menuju pintu depan.


"Duh, untung kakak ipar. Ganggu aja!!" Alvin masih saja mendumel.


"Kak Rasya mau bicara apa?" tanya Rili sambil berjalan masuk ke arah dapur. "Kita baru aja mau buat nasi goreng. Kak Rasya sudah sarapan?" tanya Rili sambil duduk di sebelah Alvin.


"Belum. Ada sesuatu yang lebih penting. Aku mau minta pendapat dari kamu, Vin."


Alvin hanya menautkan alisnya. Pikirannya sedang membayangkan yang enak-enak bukan memikirkan masalah Rasya untuk saat ini.


"Apa?" tanyanya kesal.


"Jadi gini..." Rasya mulai menceritakan tentang Dira meski sebenarnya pikiran Alvin sedang tidak fokus dengan curhatan itu.


Rili justru tersenyum melihat sesuatu dibalik celana pendek itu yang masih menegang dengan sempurna. Dia arahkan tangannya perlahan lalu hinggap di sana dan me re mas nya pelan.


"Ough, sayang..." jelaslah apa yang dilakukan Rili semakin membuat Alvin tersiksa.


"Kenapa?" tanya Rasya yang melihat wajah Alvin sangat memerah sedangkan Rili terus tersenyum kecil.

__ADS_1


.


.


__ADS_2