Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Dunia Terasa Sempit


__ADS_3

Pagi itu, Nana berjalan masuk ke dalam lobi sambil tersenyum. Harinya kini sedikit lebih cerah dibanding sebelumnya. Apalagi saat melihat sang pujaan hati yang telah datang dan sedang menunggu lift terbuka. Dia segera mempercepat langkahnya lalu berdiri di depan lift.


"Pagi Pak Rasya." Nana langsung menggandeng tangan Rasya yang seketika dilepas oleh Rasya.


"Jaga sikap kamu kalau di kantor," kata Rasya sambil menautkan alisnya. Inilah salah satu alasan kenapa sampai sekarang dia tidak bisa menerima Nana lebih dari sekedar menganggapnya seperti adik sendiri.


Pintu lift terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam lift tapi saat pintu lift itu akan tertutup, ada seseorang yang menahannya lalu dia ikut bergabung dengan Nana dan Rasya dalam lift.


Keadaan seketika terasa canggung saat ada Dira yang kini berdiri di depan mereka berdua.


Nana justru memanfaatkan kesempatan yang ada, dia kini bergelayut manja di lengan Rasya karena kali ini Rasya pasti tidak akan menolak.


"Pak Rasya udah sarapan?"


"Udah. Nanti siang kita makan diluar ya, kebetulan aku gak bawa bekal."


Seketika Nana merasa terbang ke awan mendengar ajakan dari Rasya, apalagi kini tangan Rasya sudah berpindah ke pinggangnya dan merengkuhnya.


"Iya Pak. Boleh."


Dira merasa salah tempat. Harusnya dia tidak buru-buru masuk. Dia gigit bibir bawahnya sendiri, merasakan hatinya yang sakit walau dia memang sudah tahu kenyataannya.


Setelah pintu lift terbuka, Dira melangkahkan kakinya cepat. Memang kebetulan di lantai lima terdiri dari berbagai ruang untuk karyawan penting di perusahaan itu, termasuk ruang kerja Nana.


Dira masuk ke dalam ruangannya sedangkan Nana semakin bergelayut saja di pundak Rasya, bahkan pintu ruangannya saja sudah terlewat.


"Na, kamu masuk ruangan kamu."


"Kirain mampir dulu ke ruangan Pak Rasya."


"Udah, kamu lepas ya." Rasya berusaha melepas tangan Nana dari lengannya.


"Ih, bentar banget sih Pak sikap manisnya."


"Na, kamu ngapain?" tanya Doni yang melihat Nana masih saja tidak mau melepas lengan Rasya. "Jaga sikap dong kalau di kantor."


"Ngapain sih Kak Doni ini, iri banget. Aku kan sekarang udah jadian sama Pak Rasya."


Seketika Doni terkejut. "Hah!! Gak mungkin!! Kamu jangan halu."

__ADS_1


Rasya melepaskan tangan Nana. "Sudah waktunya kerja, jangan pada ngobrol," kata Rasya lalu dia masuk ke dalam ruangannya.


"Tuh kan, Pak Rasya aja gak mengelak. Itu tandanya aku benar-benar udah resmi jadi pacar Pak Rasya."


Doni hanya bisa terdiam. Memang cinta dipendam itu sakit. Cinta? Apa iya Doni cinta sama Nana yang sangat usil dengannya itu.


"Terserah kamu lah. Aku minta laporan keuangannya Pak Riko. Cepat print out, mau aku cek." seketika Doni berbicara dengan kaku dan formal.


"Iya," jawab Nana singkat sambil masuk ke dalam ruangannya.


...***...


Siang itu Alvin datang ke toko Rili, seperti biasa dia selalu membawa beberapa makanan yang langsung disambut bahagia oleh tiga karyawan Rili.


"Mas Alvin, jangan mojok di dalam ada Mami," seloroh Reta yang memang suka menggoda pasangan bos itu.


"Iya, biar aku ajak mojok diluar aja." Alvin masuk ke dalam ruang kerja Rili lalu meletakkan sekotak makanan di meja Rili. "Buat Mami."


Rili kini mendongak menatap calon suaminya itu. "Kok cuma satu. Buat aku gak ada?"


"Kita makan di kafe aja ya. Sekalian kita ngobrol sama EO soal konsep acara pernikahan kita."


"Yang sebentar lagi mau nikah, udah siap-siap aja." Mami Lisa tersenyum. "Udah, berangkat aja. Biar Mami jaga di sini. Kalau butuh hal lainnya kamu bilang sama Papi Rizal ya."


Rili kini berdiri, "Mi aku ikut Mas Alvin dulu ya.."


"Iya..." Mami Lisa tersenyum menatap punggung putrinya yang kian menjauh. Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sebentar lagi putri kecilnya yang manja itu akan menjadi seorang istri.


Seperti biasa sebelum naik ke boncengan, Alvin selalu membantu Rili memakai helm. Hal kecil tapi terasa sangat manis.


Setelah itu motor mereka segera melaju menuju kafe Ria. Tak butuh waktu lama karena jalanan yang mereka lalui memang tidak terlalu macet saat menuju siang hari.


Mereka turun dari motor lalu masuk ke dalam kafe sambil bergandengan tangan dan menebar senyum.


"Kita tunggu sini aja ya, kayaknya masih dalam perjalanan. Soalnya pemilik Home EO sudah menyerahkan pekerjaan sama anaknya," kata Alvin sambil mengajaknya duduk di meja vip kafe yang biasa dibuat pertemuan, dengan sofa merah yang empuk dan nyaman. "Kamu mau minum apa?"


"Apa aja deh. Emang ada menu baru?"


"Kalau minuman sih gak ada. Kalau makanan, tuh si Adit lagi praktek di dapur. Mau nyoba masakan Adit?"

__ADS_1


"Iya deh, Mas."


"Ya udah aku ambilkan sebentar."


Alvin berdiri dan segera menuju dapur. Beberapa saat kemudian Alvin datang dengan membawa piring yang berisi black pepper steak dan gelas yang berisi jus jeruk.


"Nih, cobain masakan Adit. Kayaknya kamu mulai bosan menu kafe."


Rili tersenyum lalu menerima suapan dari Alvin. Mengunyahnya pelan sambil merasakan cita rasa yang berbeda dari masakan Alvin.


"Gimana?"


"Lumayan sih Mas."


"Kalau aku sih gak. Rasanya gak imbang banget. Udah kayak ayam kecap."


"Ini kayak kolaborasi antara masakan western sama Indonesia sih."


Alvin terus menyuapi Rili. "Kalau gitu sekalian aja pakai saus kacang gak usah pakai black pepper."


"Enak kayaknya Mas. Steak with peanuts sauce."


"Kapan-kapan bisa dimasukkan ke menu."


"Mas Alvin gak makan? Sini aku suapin." Rili meraih garpu yang ada di tangan Alvin lalu bergantian menyuapinya.


"Kalau kamu yang nyuapi sih jadi enak," gombalnya Alvin padahal soal rasa tidak akan berubah.


Di depan kafe ada seseorang yang sedang melangkah masuk. Dia bertanya pada kasir keberadaan pemilik kafe. Karena kasir telah diberi pesan oleh Alvin, dia langsung paham dan mengantarnya sampai di meja Alvin.


Dia sangat terkejut melihat client yang sedang dia temui saat ini. Ditambah tindakan mesra sepasang calon suami istri yang sedang saling bersuap mesra.


"Zaki..." Rili melihat Zaki yang sedang berdiri mematung.


"Zaki, sini duduk dulu.."


"Iya." Zaki duduk di dekat Alvin.


Alvin nampak biasa saja, sedangkan Rili menjadi canggung. Meskipun diantara mereka sudah tidak apa-apa lagi. Bahkan kedekatan mereka juga sudah lama sekali berlalu.

__ADS_1


"Kamu apa kabar? Aku baru tahu kalau kamu anaknya Pak Heru."


"Baik, aku memang baru beberapa hari ini memegang EO milik Ayah. Akhirnya kalian akan menikah. Selamat ya..." Senyuman tulus mengembang di bibir Zaki. Mengapa dunia terasa sesempit ini sekarang.


__ADS_2