
Alvin merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah membersihkan dirinya di kamar mandi. Dia pandangi langit-langit kamarnya. Bahkan Rili saja tidak menyusulnya ke kamar.
"Ngapain aku kesal merasa tidak dibutuhkan. Ini kan bukan mau Rili." Alvin bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia meraih tas kecilnya dan mengambil dua alat tes kehamilan yang sempat dia beli saat pulang dari kafe.
"Coba aja. Siapa tahu beneran positif." Alvin tersenyum bahagia membayangkan jika memang benar itu terjadi. Dia meletakkan alat itu di atas nakas. Kemudian dia turun. Ternyata sudah ada Rasya dibawah sana.
"Sorry merepotkan, soalnya tadi aku beliin gak mau," kata Alvin sambil duduk di dekat Rili yang sedang menuang baksonya.
"Iya gak papa, gak biasanya ngotot banget kayak gini. Mungkin aja lagi ngidam," kata Rasya.
Seketika Rili tersedak kuah bakso itu.
"Sayang pelan-pelan." Alvin mengambilkan minuman yang ada di gelas.
Rili meminumnya dan tenggorokannya seketika terasa lega.
"Iya sih, aku mikirnya juga gitu. Tadi pagi juga gak mau masakan aku. Malah pengen masakannya Adit." lanjut Alvin.
Seketika Rili meletakkan sendoknya. "Ngidam gimana sih Mas? Kita kan nikah baru tiga minggu."
"Tapi kan kamu udah telat dua minggu. Kalau memang jadi berarti usia kandungan kamu udah 6 mingguan." jelas Alvin lagi.
"Eh, bisa gitu." Rili tak mengerti persoalan biologi seperti ini. "Kok Mas Alvin bisa tahu. Kayak bidan aja."
Alvin dan Rasya justru tertawa. "Kita dulu di Amerika pernah mempelajari tentang ginian kan ya."
"Iya, sebagai tambahan jurusan."
"Sebenarnya kita dulu juga bisa kan ambil kedokteran di Amerika."
"Iya, tapi sayang cita-cita kita jadi wirausahawan."
Alvin dan Rasya justru membahas kecil tentang kuliahnya di Amerika sedangkan Rili sudah sangat penasaran. "Tunggu dulu, aku aja belum tes kenapa langsung ambil kesimpulan sendiri."
"Habisin dulu baksonya. Nanti kita tes."
__ADS_1
Rasya melihat jam di tangannya. "Aku balik dulu ya, ada janji sama client. Ditunggu kabar baiknya." Rasya mengusap lembut puncak kepala adiknya lalu dia beranjak pergi.
"Iya kak, makasih."
Ingin Rili melanjutkan makan baksonya tapi sudah dingin. Bahkan satu sendok yang sudah terlanjur ada di mulutnya seolah membuat perutnya teraduk-aduk.
Rili menutup mulutnya lalu berdiri dan berlari ke dapur. Dia menuju kamar mandi lalu memuntahkan semua isi perutnya.
"Astaga sayang..." Alvin menahan rambut Rili agar tidak menutupi wajahnya sedang satu tangannya mengusap lembut punggung Rili.
Melihat semua makanan keluar dari perut Rili, Alvin menjadi tidak tega. Bahkan mata Rili sampai memerah dan berair karena dorongan paksa dari dalam perutnya.
Setelah mereda, Rili segera membersihkan mulutnya dan berkumur.
Alvin menekan tombol flush dan menyiramnya agar bersih dari kotoran.
Badan Rili tiba-tiba terasa lemas. Dia berpegangan pada lengan Alvin yang masih sibuk menyiram.
"Mas, aku kok lemas gini sih."
"Mas, baksonya taruh belakang. Baunya bikin mual lagi."
"Mbak Lela," panggil Alvin.
"Iya."
"Tolong dibereskan ya."
"Mbak Rili kenapa?" tanya Lela sambil membereskan mangkok bakso yang masih tinggal setengah.
"Lagi mual. Iya, sekalian kamar di bawah tolong dibersihkan."
"Iya." Lela segera mengerjakan tugasnya.
Alvin meletakkan kembali gelas yang telah kosong. "Kamu mau makan lagi?"
__ADS_1
"Nanti aja Mas. Masih gak enak perut aku."
"Mulai sekarang kita tidur di bawah aja ya."
Rili mengangguk pelan dan semakin menenggelamkan dirinya di dada Alvin. "Mas, masak iya sih aku hamil?"
"Kayaknya iya, kita coba tes ya. Aku udah beli testpack buat kamu."
Rili sedikit mendongak menatap Alvin. "Udah beli? Tapi kalau seandainya tidak Mas?"
"Ya gak papa. Atau kamu mau periksa saja langsung ke dokter biar pasti."
"Coba tes dulu aja Mas. Aku juga penasaran, masak iya nikah baru tiga minggu tapi udah jadi."
Setelah Lela selesai membereskan kamar yang berada di bawah, Alvin dan Rili berpindah ke kamar itu.
Alvin segera mengambil alat tes yang telah dia beli. Hanya beberapa detik, dia telah kembali ke kamar Rili.
"Aku bantu ya."
"Mas, aku bisa sendiri."
"Aku udah penasaran banget." Alvin tetap merengkuh tubuh Rili berjalan menuju kamar mandi.
"Emang caranya gimana?" Rili membaca petunjuk pemakaian sesaat.
Rili melakukan setiap petunjuk pemakaian dengan di temani si suami yang sudah sangat penasaran.
Rili menggenggam alat tes itu beberapa saat menunggu hasilnya terlihat.
"Aku deg-deg an banget Mas."
"Sama."
"Hasilnya apa ya?"
__ADS_1
Perlahan Rili melihat hasil dari alat itu...