Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Bukan Karena Orang Ketiga


__ADS_3

"Dit, besok di acaranya Aksa, kalian tidak perlu jadi waitress. Udah aku suruh waitress dari catering sebelah," kata Alvin sebelum pulang dari kafe malam itu.


"Sip. Baguslah."


Alvin berjalan keluar dari kafenya. Setiap hari dia selalu tidak sabar untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan kedua perempuan tersayangnya.


Dia segera melajukan mobilnya menuju rumah. Tak butuh waktu lama, Alvin menghentikan mobilnya di halaman rumah.


Dengan membawa makanan dari kafe, Alvin masuk ke dalam rumah.


"Kok sepi? Apa mereka sudah tidur?"


Alvin masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Rili sedang memiringkan dirinya mengasihi Ayla. Tapi satu tangannya mengusap perutnya sambil sedikit meringis kesakitan.


"Kamu kenapa sayang?"


"Perut aku sakit Mas."


"Kamu sudah makan?"


Rili menggelengkan kepalanya. "Aku seharian gak enak makan Mas."


"Ini aku bawa makanan. Kamu makan ya."


Ayla telah tertidur. Rili melepas bibir Ayla lalu dia perlahan duduk di tepi ranjang.


"Mas..."


"Apa?"


Rili tiba-tiba menangis terisak.


"Kamu kenapa?" Alvin berlutut di hadapan Rili sambil menangkup kedua pipinya.


"Mas selama berhubungan dikeluarin diluar gak sih?"


Deg!! Mendengar pertanyaan Rili seketika perasaan Alvin menjadi tidak tenang. "Diluar sayang, kan kamu tahu sendiri."


"Mas Alvin bohong kan?"


"Beneran sayang."


"Apa yang aku rasakan ini sama persis kayak kehamilan pertama aku. Mas itu tega ya. Ayla baru umur 4 bulan loh. Dia masih butuh ASI eksklusif." Rili semakin menangis.


"Aku juga gak tahu. Aku kira kb alami bagus buat ibu menyusui dan kesehatan kamu."


Rili menyingkirkan tangan Alvin dari wajahnya. "Kan, aku maunya konsultasi ke dokter dulu tapi Mas Alvin bilang sudah mengerti. Tapi nyatanya..."


"Kamu kan belum periksa. Kita periksa dulu besok untuk memastikan."

__ADS_1


Rili merebahkan dirinya dan memunggungi Alvin yang masih berlutut.


"Kalau memang hamil lagi kan gak papa. Ada aku."


"Mas Alvin enak bilang gitu. Mentang-mentang kemarin Mas yang ngerasain semuanya jadi sekarang langsung dijadiin."


"Astaga sayang, aku gak ada maksud kayak gitu."


"Gak kasian sama Ayla yang masih butuh kasih sayang."


"Ayla masih bisa dapat kasih sayang."


Rili hanya terdiam dengan tangis yang masih sesenggukan.


"Kamu makan dulu ya."


Rili menggelengkan kepalanya dengan punggung yang masih bergetar.


"Ya sudah kamu istirahat saja. Nanti Ayla kalau bangun biar sama aku." Alvin berdiri dan mengusap puncak kepala Rili tapi dia elak.


Alvin menghela napas panjang lalu dia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia rebahkan tubuhnya di samping Ayla. Dia tatap Rili yang sudah tertidur dengan mata sembab dan wajah pucatnya.


Dia sangat mengerti perasaan Rili saat ini. Rili pasti memikirkan keadaan Ayla yang masih sangat kecil dan sangat butuh kasih sayangnya. Belum lagi rasa trauma lainnya.


Ya, Alvin memang merasa menyesal melakukannya tapi ini sudah terjadi. Jika memang benar positif, dia harus bisa menjaga Ayla dan juga Rili serta calon anak di perut Rili yang juga butuh kasih sayangnya. Harus bisa sabar menghadapi Rili yang tidak bisa mengontrol emosinya.


...***...


"Mami, kita titip Ayla dulu ya."


Pagi itu Alvin dan Rili sudah datang ke rumah Mami Lisa untuk menitipkan Ayla.


"Rili, kamu kenapa? Pucat sekali."


Rili tak menjawab, dia justru sibuk menciumi Ayla yang akan dia tinggal beberapa saat.


"Rili sakit Mi. Kita mau periksa." Justru Alvin yang kini menjawabnya.


"Ya sudah. Semoga gak kenapa-napa ya."


"Iya Mi, kita berangkat dulu." Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan Rili masih saja membuang pandangannya dari Alvin. Dia tatap jalanan pagi itu yang cukup ramai.


"Sayang, kamu jangan terlalu stress kayak gini."


Tak ada jawaban dari Rili.


Alvin hanya membuang napas panjang. Ini pertama kalinya dia bertengkar dengan Rili setelah menikah. Bukan karena orang ketiga tapi karena calon buah hati yang ketiga.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit. Mereka segera mendaftar pada dokter kandungan yang biasa menangani Rili. Mengantri beberapa saat, setelah pada nomor urutan mereka, mereka masuk ke dalam ruangan Dokter Ani.

__ADS_1


"Pak Alvin, Bu Rili," senyum Dokter Ani mengembang.


Alvin dan Rili duduk di depan Dokter Ani.


"Bagaimana kabarnya si cantik?"


"Sehat Dok," jawab Alvin sambil tersenyum paksa karena sedari tadi Rili hanya diam saja.


"Mau konsultasi kb?"


Alvin terdiam sesaat sambil melihat Rili yang juga hanya terdiam.


"Mau USG Dok. Soalnya Rili mengalami morning sickness dua hari ini," jelas Alvin.


"Wah, aktif sekali. Apa memang ingin langsung punya adik?"


Alvin menggeleng ragu. "Hmm, sebenarnya saya coba kb alami. Tapi mengapa ini bisa terjadi ya Dok, soalnya saya selalu keluarkan diluar."


Dokter Ani tersenyum lalu menjelaskannya, "Eja kulasi diluar itu tidak menjamin 100% tidak hamil. Meskipun peluangnya sangat kecil tapi hal itu masih bisa terjadi. Mungkin saja ada sper ma yang keluar pra eja kulasi atau mungkin saja sper ma keluar terlalu dekat dengan **** * karena sper ma bisa hidup diluar organ selama beberapa detik."


Alvin hanya terdiam. Jadi selama ini dia yang salah.


"Kita langsung USG saja ya. Tidak apa-apa hamil lagi, kan ada suami yang sangat bertanggung jawab." Melihat ekspresi Rili, Dokter Ani bisa menebak jika Rili belum siap menerima kehamilannya kali ini.


Mereka berdua mengikuti Dokter Ani masuk ke dalam ruang USG. Setelah Rili merebahkan dirinya, Dokter Ani membuka perut Rili dan mengolesnya dengan gel setelah itu dia arahkan alat USG itu.


"Selamat ya. Memang ada janin dalam rahim Bu Rili. Nih, kantong rahim sudah ada dan janin juga sudah terlihat. Usia kandungannya sekitar 6 minggu."


Mata Rili berkaca-kaca. Harusnya dia bahagia tapi dia terus memikirkan Ayla yang masih sangat kecil untuk punya adik.


Rili sudah tak mendengar penjelasan Dokter Ani, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


Sampai saat kembali duduk di depan Dokter Ani, hanya ada satu pertanyaan yang dia jawab.


"Bu Rili setiap me nyu sui apa perutnya terasa kram?"


"Iya Dok."


"Kalau begitu, disarankan untuk ganti susu formula saja. Hisapan pada pu ting akan menyebabkan kontraksi dan karena kandungan Bu Rili lemah, ini sangat beresiko. Nanti saya rekomendasikan sufor yang cocok."


Wajah Rili semakin keruh. Kemudian dia berdiri. "Saya permisi dulu." Dia keluar tanpa lagi menunggu Alvin.


"Rili..."


Dokter Ani menyerahkan obat vitamin pada Alvin. "Yang sabar menghadapi ibu hamil dengan jarak dekat. Karena pasti psikisnya belum siap."


"Iya Dok, terima kasih. Saya permisi."


Alvin keluar dari ruangan Dokter. Dia mencari keberadaan Rili tapi tidak dia temukan. Bahkan sampai ke tempat parkir dan bertanya pada satpam tapi tidak ada yang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2