Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Cinta yang Rumit


__ADS_3

"Kita coba jalani sebagai pacar. Tapi kalau memang Kak Rasya sekarang mau jadi pebinor, ya aku berhenti sampai di sini."


Angin malam yang berhembus menerpa tubuh mereka tak menyurutkan tatapan mata dari Nana. Dia menunggu keputusan dari seseorang yang berhati sedingin es. Walau itu hanya sebuah harapan semu.


Rasya berpikir sesaat. Apa dia memang harus membohongi perasaannya sendiri?


"Ya sudah, kita coba jalani saja. Kita mulai hubungan kita dari pacaran." Akhirnya Rasya mengungkap keputusannya. "Ayo masuk, aku antar kamu pulang."


Nana tersenyum kecil lalu dia kembali masuk ke dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, mobil Rasya kembali melaju. Dia menghela napas panjang, apa keputusannya kali ini benar? Menjalani sebuah hubungan semu dengan seseorang yang tidak dia cintai.


...***...


Mobil Fandi berhenti di depan rumah Dira. Sedari tadi Dira hanya terdiam saja, entah apa yang sedang gadisnya pikirkan saat ini.


"Kamu kenapa?" tanya Fandi sambil merapikan anak rambut Dira yang sedikit berantakan.


Dira hanya menggelengkan kepalanya.


"Ra, apa kamu tidak bahagia bersama aku?" Satu helaan napas panjang terdengar di ujung pertanyaannya.


Dira hanya menatap mata Fandi. Dia sendiri tidak tahu, apakah dia bahagia bersama Fandi atau tidak.


"Ra, kita sudah bersama sejak kecil. Aku sangat bahagia ketika tahu jika aku dijodohkan sama kamu. Apa kamu bahagia dengan perjodohan ini?"

__ADS_1


Bagi Dira, Fandi sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Sebenarnya antara bahagia dan tidak. "Aku... Ya, aku seneng akhirnya bisa sama Kak Fandi dan ini juga keinginan almarhumah mama Icha yang tidak mungkin aku tolak."


Fandi menatap wajah Dira. Sebenarnya dia bisa menangkap raut keterpaksaan itu. Tapi, sebagai lelaki dia memutuskan untuk sedikit egois. Mungkin saja suatu saat nanti Dira benar-benar akan mencintainya.


Fandi mencium singkat pipi Dira. "Aku masih menunggu kamu bilang cinta sama aku."


Dira terperanga sesaat menatap senyum tulus Fandi. Cinta?? Selama ini Dira memang belum pernah membalas ungkapan cinta dari Fandi.


"Tapi aku yakin, suatu saat nanti pasti kamu akan membalas cinta aku. Yang terpenting, aku telah memilikimu." Fandi keluar dari mobil yang diikuti oleh Dira. Mereka masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh kedua orang tua Dira.


"Masuk dulu, Fan?"


Fandi tersenyum. "Besok-besok saja om, tante. Oiya, mungkin dua minggu lagi orang tua saya akan ke sini membicarakan soal pertunangan."


"Kalau begitu saya permisi dulu Om, sudah malam." Fandi berpamitan pada kedua orang tua Dira.


Setelah kepergian Fandi, Dira berjalan masuk ke dalam kamarnya yang diikuti oleh mamanya.


"Ra," panggil Mama Karin sambil duduk di samping Dira.


"Iya, Ma."


"Kamu serius mau menerima perjodohan ini?" tanya Mama Karin karena dia bisa menangkap keraguan di wajah putrinya itu.


"Mau gimana lagi Ma. Ini sudah pesan dari almarhumah Mama Icha," jawab Dira pelan sambil menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau, biar kita batalkan perjodohan ini."


Dira menggeleng pelan lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang Mama. "Aku gak mau Kak Fandi kecewa. Dia sudah baik banget sama aku, Ma."


"Tapi Mama gak mau lihat kamu sedih kayak gini. Selain tentang perjodohan ini apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Rasya?"


Seketika Dira mengangkat kepalanya dan menatap wajah Mamanya. "Darimana Mama tahu soal Kak Rasya?"


Mama Karin tersenyum kecil sambil mengusap rambut Dira. "Dara dulu pernah cerita sama Mama kalau kamu pernah menemui Rasya waktu kamu masih SD. Soalnya Dara itu paling malas kalau keluar rumah."


"Iya, tapi kan itu hanya masa lalu."


"Masa lalu? Mama baru paham, kenapa dulu Rasya begitu mencintai Dara, karena dia menganggap Dara itu kamu. Sedangkan Dara sendiri, dulu dia justru cinta sama Alvin."


Mama Karin menghela napas panjang. "Entahlah, mengapa kisah cinta kalian rumit seperti ini. Tapi satu saran Mama, kamu itu harus jujur. Jangan bohongi dari kamu sendiri. Ya sudah, kamu sekarang istirahat ya, sudah malam."


Mama Karin berdiri lalu keluar dari kamar Dira, yang tak lupa menutup pintu kamarnya.


Kini Dira berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya lalu duduk sambil mengambil sebuah buku. Ada satu foto yang terselip di dalamnya. Dia menatap foto itu sambil tersenyum kecil. Ya, andai saja waktu bisa berputar kembali.


💞💞💞


.


..

__ADS_1


__ADS_2