Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Sudah Ada yang Memiliki


__ADS_3

Di saat matahari mulai bersinar terang, Rili membuka matanya. Kepalanya terasa berat dan pusing. Dia mengedarkan pandangannya sambil mengingat kejadian semalam. Dia sedikit terkejut melihat dirinya yang masih memakai gaun bahkan tanpa membersihkan wajahnya terlebih dahulu.


"Aku kok gak ingat apa-apa soal semalam? Semalam kan aku sama Mas Alvin terus...." Rili berusaha mengingatnya lagi tapi ingatannya hanya sebatas sampai saat dia makan malam.


Dia bangun secara perlahan mengambil tasnya yang berada di atas nakas. Dia ambil ponselnya lalu membuka whatsapp nya dan menghubungi Alvin tapi hanya bertuliskan memanggil tanpa adanya nada sambung.


Lalu dia mengirim pesan untuk Alvin, benar saja hanya satu centang abu. Mencoba lagi menghubungi Alvin lewat panggilan selular tapi tetap sama, tidak aktif.


Rili menghela napas panjang. Dia berusaha berpikir positif, ya mungkin saja ponsel Alvin sedang lowbath. Lalu dia beranjak dari ranjangnya dan bergegas ke kamar mandi. Dinginnya air di pagi hari yang sudah memiliki sinar matahari terang itu berhasil mengusir rasa berat di kepalanya.


Setelah selesai membasuh diri dan berganti pakaian, Rili keluar dari kamarnya, berjalan menuju meja makan. Terlihat Mami dan Papinya baru saja selesai sarapan.


"Mi, Kak Rasya sudah berangkat?" tanya Rili sambil menyambar segelas susu yang telah tersedia.


"Sudah barusan. Kamu gak enak badan? Kalau gak enak badan biar Mami aja yang ke toko."


Rili meletakkan gelas yang tinggal setengah di atas meja. "Cuma pusing aja Mi. Hmm, semalam Mas Alvin yang antar Rili?"


Papi dan Maminya saling melirik beberapa saat.


"Rasya yang jemput kamu," jawab Papi Rizal kemudian. "Mungkin karena kamu ketiduran jadi minta Rasya yang jemput, kan Alvin gak bawa mobil."


Rili merasa seperti ada yang janggal. Maski dia tertidur, tapi setidaknya dia merasa kalau digendong atau dipindah tempat. Semalam dia benar-benar tidak merasakan apa-apa.


Rili masih saja berpikir sambil terus memakan sarapannya.


"Rili, Mami berangkat dulu ya. Diantar sama Papi. Kamu istirahat saja di rumah," kata Mami Lisa setelah Rili menghabiskan sarapannya.

__ADS_1


"Iya Mi."


Setelah itu Rili kembali melihat ponselnya. Nomor Alvin masih saja tidak aktif. Bahkan sampai siang. Dia mencoba menghubungi ke kafe, hanya ada Adit yang mengangkatnya dan bilang jika Alvin sama sekali belum ke kafe.


...***...


Pagi itu, di kantor Rasya. Dira berjongkok beberapa kali demi mencari barang miliknya yang mungkin terjatuh di bawah meja.


"Kalung itu dimana? Kenapa aku bisa lupa gak aku masukin sih kemarin." Dira kembali berdiri dan mengacak berkas-berkas yang berada di atas meja kerjanya.


Merasa yang dicari tidak ada, Dira keluar dan menemui cleaning service yang membersihkan ruangannya. Dia bertanya tentang kalungnya tapi cleaning service itu menjawab bahwa dia tidak melihat barang tertinggal di sana.


Ya, meskipun kalung itu hanya kalung titanium yang harganya tidak sampai 100 ribu tapi tetap saja itu berharga buat dia karena hanya itu kenang-kenangan dari seseorang yang mungkin tidak bisa dia miliki.


Saat akan masuk ke dalam ruangannya, dia berpapasan dengan Rasya. Dira hanya tersenyum kecil lalu berlenggang masuk. Dira masih saja melanjutkan pencariannya di dalam ruangan.


"Iya, Pak."


"Saya hari ini pulang agak cepat. Nanti kalau seandainya Pak Setyo ke sini, kamu tangani sama Doni ya."


Seperti biasanya. Pesona yang dipancarkan Rasya selalu berhasil membuat Dira terpaku dan gelagapan. "I-iya, Pak."


Rasya membalikkan badannya, tepat saat itu juga Dira kembali mencari barangnya. "Dimana sih?"


Gumaman Dira berhasil ditangkap telinga Rasya. Dia kini membalikkan badannya. "Nyari apa?" tanya Rasya sambil berjalan mendekat.


"Hmm, bukan apa-apa Pak. Cuma nyari bulpoin."

__ADS_1


"Bulpoin? Nih banyak di atas meja." Rasya menunjuk beberapa bulpoin yang ada dalam tempatnya.


Dira hanya menggigit bibir bawahnya tidak berani menoleh Rasya yang berada tepat di belakangnya.


"Sepenting apa kalung ini sama kamu?" tepat saat Rasya bertanya hal itu, Rasya membungkuk dan memasangkan kalung itu di leher Dira.


Dira terperanjat kaget. Bahkan pengait kalung itu belum terpasang, dia kini berdiri. Dia mengambil kalung itu dan melihatnya. Benar, itu kalungnya.


Rasya menautkan alisnya menatap Dira. "Pertanyaanku belum kamu jawab. Sepenting apa kalung itu sampai kamu mencarinya ke sana kemari dan bertanya pada cleaning service. Bukankah itu hanya kalung biasa yang bisa kamu beli dengan mudah?"


Dira hanya menggigit bibir bawahnya. "Bukan apa-apa, Pak. Makasih." Dira mengalihkan pandangannya dari Rasya. Tatapan tajam Rasya benar-benar seolah menusuk hatinya.


"Sorry, kemarin aku tidak sengaja menemukan itu di dekat komputer saat aku mencari berkas."


Dira hanya menganggukkan kepalanya kecil.


"Ra, jujur sama aku. Kalung itu pemberian dari aku kan?"


Lagi, Dira tak menjawab.


"Ra," Rasya menghela napas panjang."Oke, kalau kamu gak mau cerita sama aku. Aku ngerti hati kamu sudah ada yang memiliki."


Rasya membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Dira.


Setetes air mata kini lolos dari matanya.


Andai kamu tahu, aku gak pernah mencintai Kak Fandi...

__ADS_1


__ADS_2