Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Kabar Bahagia


__ADS_3

Sore itu, Rasya berdiri di ambang pintu ruangan kerja Nana. Hingga waktunya pulang Doni dan Nana belum juga selesai menyunting data.


"Ini sudah waktunya pulang, kenapa kalian belum selesai juga!" Rasya kembali memarahi mereka. Sedikit saja mereka berbuat salah, amarah Rasya langsung terpancing.


"Iya Pak maaf, tadi ada kesalahan jadi kita harus masukan entry ulang," kata Nana mencari alasan padahal mereka sengaja mengulur waktu untuk memberi kejutan pada bosnya itu.


Rasya hanya berdengus kesal.


"Ada apa sih?" Dira kini ikut masuk ke ruangan Nana. Dia menahan senyumnya melihat wajah kesal suaminya.


"Sampai pulang mereka belum juga selesai."


"Ya udahlah biar mereka selesaikan dulu. Aku bantu." Dira ikut bergabung dengan mereka.


Rasya akhirnya kembali ke dalam ruangannya. Dia duduk di kursinya. Dia sendiri juga bingung, mengapa dia begitu cepat terpancing emosi. Padahal sebelumnya juga sering seperti ini, bahkan sering lembur sampai malam.


Beberapa saat kemudian mereka bertiga masuk. Rasya menatap mereka bertiga berjalan mendekatinya.


"Sudah selesai semua?" tanya Rasya. Dia masih saja menunjukkan wajah kesalnya.


Nana menganggukkan kepalanya sambil menyerahkan sebendel kertas pada Rasya.


Rasya mengambil berkas itu dan mulai memeriksanya. Membalik kertas itu satu persatu. Tepat diurutan kelima dia menemukan sesuatu. Rasya mengerutkan dahinya menatap benda kecil dan panjang itu.


"Ini?" Rasya mengambil benda itu. "Garis dua? Punya siapa?" Entahlah kenapa kerja otaj Rasya juga ikut melambat.


Nana dan Doni sudah menahan tawa. Punya siapa lagi? Yang sudah menikah hanya Dira di antara mereka bertiga yang datang. Tak mungkinlah milik Nana apalagi milik Doni.


"Memang di antara kita yang sudah menikah siapa Pak?" goda Dira. Dia juga merasa gemas melihat wajah bingung Rasya.


Sedetik kemudian Rasya tersenyum. Dia berdiri dan mendekati Dira. "Punya kamu?"


Dira menganggukkan kepalanya.


Seketika Rasya menarik tubuh Dira dalam pelukannya. "Ini beneran?" Rasya masih saja tidak percaya.


"Iya Pak Rasya. Pak Rasya harus tanggung jawab udah hamilin sekretarisnya."


Rasya tertawa lalu mencium puncak kepala Dira. Rasa bahagia itu begitu membuncah.


"Makasih ya..." Rasya merenggangkan pelukannya lalu menatap Dira.


"Kok makasih sama aku. Kita kan bekerja sama."


Rasya semakin tersenyum sampai matanya mengembun. Dia semakin mendekatkan dirinya.


"No, no, no. Kalau mau ciuman kita keluar dulu. Takut kena sawan." Nana memutar tubuhnya begitu juga dengan Doni.

__ADS_1


"Na, makasih ya.."


"Oke, sekali lagi selamat," ucap Nana sambil berlalu.


Rasya kembali menatap Dira. "Nana?"


Dira menganggukkan kepalanya. "Yang kasih tahu aku Nana, katanya Pak Rasya sekarang gampang marah, sensitif, udah kayak cewek yang PMS."


"Emang ada hubungannya?"


Dira menggedikkan bahunya. "Aku juga gak ngerti tapi nyatanya berhubungan."


Rasya menarik tubuh Dira menuju kursi kebesarannya lalu mendudukkannya di pangkuannya. Hal yang sering dia lakukan di kantor setelah menikah. Dia kini mengusap lembut perut Dira yang masih datar.


"Semoga kamu dan calon anak kita selalu sehat. Besok pagi kita langsung periksa. Setelah dapat hasil USG baru kita beritahu orang tua kita."


Dira menganggukkan kepalanya.


Satu kecupan mendarat di pipi Dira. Kini Rasya merasakan kebahagiaan yang teramat besar. Berulang kali dia bersyukur, dia sampai di tahap ini.


"Tapi Pak Rasya jangan marah-marah lagi sama anak buah. Mereka pada takut. Dulu kalem dan cool, sekarang jadi galak banget." Dira tertawa kecil.


"Aku juga gak tahu. Tiba-tiba aja pengen marah."


"Ditahan, Pak." Dira mengecup singkat bibir Rasya. "Bibirnya jangan ngomel terus."


...***...


"Mas, ada acara apa Kak Rasya mengajak kita semua makan malam?"


Alvin yang sedang duduk di tepi ranjang sambil melihat istrinya bersolek sedikit membuang napas dalam. Dia sudah bisa menebak kabar apa yang akan diumumkan kakak iparnya itu.


"Ya, apalagi sih sayang kalau bukan kabar bahagia."


Raut wajah Rili seketika berubah bahkan dia berhenti memoles wajahnya. "Pasti Dira sudah hamil ya Mas." Rili tersenyum getir. Dia ikut bahagia, tapi entahlah di satu sisi dia masih merasa iri.


Melihat istrinya kembali bersedih, Alvin berdiri dan membungkukkan badannya dengan tangan yang mengalung di lehernya. "Jangan sedih lagi." Satu kecupan hangat mendarat di pipi Rili.


Rili menggeleng pelan. "Aku ikut bahagia Mas. Aku cuma teringat aja."


"Kamu mau ikut acara ini gak?"


"Ya ikut dong, Mas. Kebahagiaannya Kak Rasya harus dirayakan. Yuk." Rili berdiri dan menggamit lengan Alvin.


Alvin tahu, perasaan Rili saat ini pasti sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya baru kemarin dia mengumumkan kabar bahagia darinya dan sekarang semua keadaan terbalik.


Setelah mereka menaiki mobil, beberapa saat kemudian mobil mereka melaju menuju kafe. Tak butuh waktu lama, mobil Alvin sudah berhenti di tempat parkir kafe.

__ADS_1


"Mas, aku bantu siapin makan malamnya ya," pinta Rili.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya. "Sekalian aku bantu juga."


Mereka berdua segera menata meja untuk makan malam yang diadakan di taman.


"Wih, kompak sekali pengantin lama rasa baru ini." Adit meletakkan beberapa menu pembuka di atas meja yang sudah tertata piring dan peralatan makan lainnya dengan rapi.


"Sambil menunggu acara."


"Mas, dia siapa?" Rili menunjuk seseorang yang sedang membantu Adit membawa hidangan.


"Juna. Gantinya Aksa di sini."


Juna tersenyum hormat pada Rili lalu dia berlalu bersama Adit.


"Masih muda banget Mas."


"Iya, dia masih SMA. Dia cuma bisa main gitar. Ya, gak papalah biar dia bisa belajar banyak di sini. Kasihan juga dia anak yatim piatu yang cari uang sendiri."


"Kasihan juga Mas. Tiap hari suruh makan di sini aja Mas, biar gajinya utuh."


"Iyalah, siang sama malam dia makan di sini, malamnya aku suruh bawa roti kafe biar bisa buat sarapan."


Rili tersenyum lalu memeluk suaminya dari samping. "Mas Alvin baik banget sih."


"Aku buka kafe ini memang untuk membantu mereka yang membutuhkan. Aksa sekarang sudah menuju sukses. Semoga Juna nantinya juga bisa sukses."


Rili mendongakkan kepalanya sambil menatap Alvin dengan binar matanya. Dia merasa bangga memiliki Alvin. Seseorang yang sederhana tapi memiliki hati yang sempurna.


"Apaan sih, kok mellow gini."


"I love you..."


"I love you too." Satu kecupan hangat mendarat di kening Rili.


"Mami, mereka buat iri aja."


Suara Papi Rizal membuat Rili melepaskan pelukannya.


"Loh, kok dilepas. Lanjut aja kan udah halal."


Mereka berdua hanya tersenyum malu.


"Sampai gak tahu kalau udah pada datang semua..."


"Iyalah, pemilik kafenya malah asyik bermesraan."

__ADS_1


Alvin hanya tergelak lalu dia duduk bersebelahan dengan Rili...


__ADS_2