Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
In Our Home


__ADS_3

"This is our home," ucap Alvin saat turun dari mobil bersama Rili.


Rili menatap takjub rumah yang cukup luas itu. "Our home?" Dia tidak percaya jika ini memang rumahnya dan Alvin. Suami barunya itu sama sekali tidak pernah mengungkit tentang rumah baru itu.


"Iya, rumah yang akan kita tempati setiap hari." Alvin merengkuh pundak Rili dan mengajaknya masuk ke dalam tapi langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia menatap kaget pada mobil berwarna hitam lengkap dengan hiasan pita. Seperti baru saja dapat hadiah dari undian. "Mobil? Dari Mama sama Papa?" tanya Alvin pada kedua orang tua Alvin yang berada di dekatnya.


"Dari Aditya's family," jawab Papi Rizal yang baru saja keluar dari mobil.


"Serius Papi?"


"Iya, kan Papi udah nawarin sama kalian, mau honeymoon kemana tapi gak mau. Udah aku tawarin dana buat acara resepsi tapi gak mau juga. Ya udah Papi beli ini aja buat kalian pergi-pergi. Patungan sama Rasya."


"Makasih Pi."


"Tapi tetep, Rili gak boleh mengemudi sendiri."


Rili kini memeluk Papinya, "Papi, protektif banget."


"Iya, tugas Papi buat jagain kamu sudah diambil alih sama Alvin mulai sekarang. Kamu jangan bandel lagi."


"Ih, emang aku masih anak kecil."


Satu kecupan sayang mendarat di puncak kepala Rili.


"Kita masuk dulu, kita mengobrol di dalam sekalian makan malam."


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Setelah makanan tertata di atas meja makan, kemudian mereka menikmati makan malam bersama sambil sesekali bercanda menggoda sepasang pengantin baru itu.


Dua keluarga dan beberapa sahabat dekat yang saat ini sedang bersama itu terlihat sangat bahagia. Sampai tak terasa sudah hampir jam 9 malam.


Kali ini Rili merasa sudah sangat lelah, bahkan dia sudah menguap beberapa kali.


"Wah, pengantin barunya sudah mengantuk," celetuk Nana sambil tertawa.


"Apaan sih, aku mau mandi dulu. Gerah banget. Mami tadi bawa baju ganti aku kan?"


"Iya, tadi Nana yang nyiapin baju kamu. Dimana, Na?"


Nana berdiri dan mengambil tas yang dimaksud. "Ini. Jangan lupa dipakai." Nana tersenyum penuh arti.


Rili hanya menautkan alisnya. Dia mencium bau-bau mencurigakan.


"Mami, ayo pulang," ajak Papi Rizal tapi langsung ditahan oleh Rili.

__ADS_1


"Mami temani aku ke kamar dulu."


"Eh," Mami Lisa tersenyum. Wajah putrinya saat ini benar-benar menggemaskan. Dia jadi teringat malam pertamanya dulu, yang awalnya malu-malu juga meski sudah berpacaran lama.


"Sayang, kamar kita ada di atas," kata Alvin yang membuat Aksa dan Adit tertawa.


"Kayaknya kita juga harus pulang. Mereka sudah mau unbox oey."


"Hah, iya."


Rili hanya tersenyum malu sambil menggandeng tangan Maminya menaiki anak tangga. Rili membuka pintu kamarnya. Dadanya semakin berdebar saat melihat kamar pengantin itu. Sudah ada kelopak bunga mawar yang berbentuk hati di atas ranjang. Aromatherapy humidifier juga telah menyala. Pasti Alvin barusan sempat ke atas untuk menyalakannya.


"Wow, viewnya keren." Mami Lisa justru membuka tirai pintu kaca yang cukup besar mengarah ke rooftop. Yang segaris dengan ranjang berukuran king size itu.


"Ya udah, Mami pulang dulu ya." Mami Lisa mencium pipi Rili sesaat. "Papi kamu udah rewel aja dari tadi."


"Mami gak mau menginap gitu di sini."


Mami Lisa justru tersenyum sambil mencubit kecil pipi yang terus merona itu. "Ya, nggak dong sayang. Nikmati saja malam ini sama Alvin. Moga sukses." Setelah memeluk putrinya sesaat, Mami Lisa keluar dari kamar.


Rili segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia membasuh dirinya untuk menghilangkan penat di tubuhnya. Air hangat dari shower mengucur tubuhnya dari puncak kepala sampai kaki. Air yang mengalir membuat otot-otot yang menegang itu kembali rileks.


Setelah selesai membasuh dirinya, dia memakai bathrobe yang telah tersedia di dalam kamar mandi.


Rili melihat lingerie itu satu persatu, mungkin saja ada yang lebih tertutup. "Warna merah kayak jaring ikan. Nih, warna hitam kurang kain banget. Ini warna putih transparant gini. Yang ini udah kayak kostum kucing garong. Ini, dokter cinta."


Rili memanyunkan bibirnya sambil menggulung kostum itu jadi satu.


"Sayang kamu ngapain?" pertanyaan Alvin yang baru saja masuk dan menutup pintu, membuat Rili berjingkat kaget.


Seketika Rili menyembunyikan baju itu di belakangnya.


"Apa itu?"


Rili menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa."


"Mana lihat?"


Rili justru memundurkan langkahnya. Alvin semakin mendekat hingga kaki Rili terhadang tepi ranjang dan membuatnya jatuh ke atas ranjang di bawah kungkungan Alvin.


Alvin meraih lingerie itu lalu melihatnya sesaat. "Mau pakai ini?" Alvin mengerlingkan matanya sambil tersenyum nakal.


"Itu kerjaan Nana, aku gak bawa baju sama sekali jadinya."

__ADS_1


Alvin semakin tersenyum. "Gak papa, aku malah suka. Nanti kalau kamu kedinginan kan ada aku." Alvin semakin mendekatkan dirinya. Menatap kedua netra Rili cukup dalam. "Aku cinta kamu."


"Aku juga cinta kamu."


Satu ciuman hangat mendarat di bibir Rili. Menikmati ciuman pertama mereka setelah sah menjadi suami istri. Begitu mendebarkan dan bergelora. Bahkan kedua tangan Rili kini sudah mengalung di leher Alvin.


Napas mereka semakin memburu. Pagutan mereka semakin mendalam bahkan kini Alvin sudah mulai menyentuh pinggang Rili dan mengusapnya lembut. Tangannya sudah tidak bisa diam dan begitu ingin singgah di balik bathrobe itu.


Tok! Tok! Tok!


Alvin melepaskan ciumannya dan mengatur napasnya. "Pasti Mama sama Papa. Sebentar." Alvin bangun dan merapikan rambutnya sesaat. Begitu juga dengan Rili. Dia menutup bathrobe nya yang sedikit tersingkap. Mendapat sedikit sentuhan dari Alvin saja sudah membuatnya melambung.


Alvin membuka pintunya. Benar saja, kedua orang tuanya kini tengah berdiri di depan pintu.


"Maaf ada iklan sebentar." Mama Gita tersenyum menggoda Alvin. "Mama sama Papa mau pulang dulu. Sudah kita bereskan semua. Masih ada lauk di kulkas, besok kalau kalian bangun kesiangan bisa tinggal hangatin aja."


"Mama benar-benar pengertian."


"Rili, Mama pulang dulu ya?"


"Iya Ma." Rili kini berdiri di belakang Alvin karena dirinya hanya memakai bathrobe saja.


"Ya sudah kalian lanjut saja."


Beberapa saat kemudian Rasya juga menghampiri mereka. "Rili aku pulang dulu. Udah beres, tadi Nana diantar Adit."


"Kak Rasya ambilin piyama aku di rumah dong." Rili masih saja bersembunyi di belakang Alvin.


"Loh, tadi kan sudah dibawakan Nana."


"Duh, Nana resek. Masak baju aku diganti sama baju lak nat."


Jelas, Rasya hanya menautkan alisnya tak mengerti. "Lagian mulai malam ini Alvin gak akan biarin kamu tidur pakai baju."


"Ih, Kak Rasya."


"Bener banget Bang Rasya."


"Ya udah, aku mau pulang dulu."


Rasya membalikkan badannya dan berjalan menuju tangga.


"Sayang sebentar ya, aku mau tutup pagar sama pintu dulu."

__ADS_1


Seiring langkah Alvin yang menjauh, Rili kembali masuk ke dalam kamar dan menutupi dirinya dengan selimut. Dadanya masih saja berdebar tak karuan. Apakah malam ini akan menjadi malam yang panjang?


__ADS_2