Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Bahagia Bersama


__ADS_3

Hari Minggu yang cerah, dihiasi oleh suara riang anak-anak yang berlarian masuk ke dalam sebuah mall. Lebih tepatnya menuju play ground.


"Kak Arsyad, ayo." Si cerewet Ayla yang sekarang sudah berumur 6 tahun itu sudah sangat tidak sabaran untuk bermain.


"Aduh Mas, anak-anak larinya cepat banget sih." Rili yang sedang menuntun Airin dibuat kuwalahan mengejar Arsyad dan Ayla yang memang sama-sama aktif.


"Biar aku susul." Alvin melangkah jenjang lalu menarik tangan Ayla dan Arsyad. "Jangan lari-lari. Banyak orang. Kalau Ayla sama Arsyad masih bandel gini, kita gak jadi main."


"Ih, Om kita kan udah gak sabar main."


"Iya Ayah, nanti di dalam keburu ramai."


Kedua anak ini berbeda orang tua kenapa sifatnya bisa mirip seperti ini. Justru yang anteng dan kalem itu Airin, mirip kayak Papanya Arsyad. Apakah mereka tertukar? Gak mungkin kan.


"Gak bakal penuh juga. Play groundnya luas. Tungguin adeknya kan kasihan ditinggal."


Saat Rili dan putri keduanya sudah dekat, mereka menuju loket untuk membeli tiket.


"Ay, nanti aku mau mandi bola."


"Ih, ke rumah balon dulu."


Kedua anak itu masih saja beradu argumen. Untung saudara kalau tidak mungkin mereka jodoh sedari kecil seperti di novel-novel.


"Main bareng!" Tegas Alvin. "Ajak Airin juga."


Ayla kembali memanyunkan bibirnya. Karena kesukaan dan sifat mereka yang berbeda, Ayla justru lebih senang bermain dengan Arsyad daripada adiknya sendiri.


Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang tanpa sengaja menabrak Ayla hingga membuatnya mengaduh.


"Ryan, kan bunda sudah bilang jangan lari-lari." Andini menarik putranya agar tidak berlarian lagi.


"Loh, Pak Alvin."


"Pak Eza, lama tidak bertemu." Mereka berjabat tangan sesaat. "Mau ke play ground juga?"


"Iya mumpung hari Minggu." Eza melihat tiga anak yang berjejer di samping Alvin. "Anaknya semua?"


"Yang cowok anaknya abang."


"Rayn, Ryan, gabung saja sama mereka biar banyak temannya. Kenalan dulu." suruh Eza. Si kembar yang sudah berusia tujuh tahun itu begitu menurut mendengar perintah Ayahnya. Mereka saling berkenalan.


"Ryan," Ryan bersalaman dengan Ayla, tapi karena Ryan memang suka iseng, tiba-tiba dia menarik kuncir dua Ayla.


"Ryan, gak boleh nakal!"


"Bunda, kok dia rambutnya panjang sih."


"Iya, kan perempuan."

__ADS_1


"Iya bunda Ryan tahu, Ryan cuma bercanda."


Andini menghela napas panjang. Ryan memang anaknya suka bercanda beda dengan Rayn yang cenderung pendiam dan sangat serius menghadapi segala hal.


Setelah tiket digelangkan ke pergelangan tangan mereka masing-masing, mereka langsung berlari masuk.


"Arsyad, Rayn, ayo kita main. Jangan bermain sama anak perempuan."


"Ih, aku juga mau main sama Kak Arsyad." Ayla berlari mengejar mereka dan meninggalkan Airin sendiri.


Airin mulai menangis karena tidak ada yang mengajaknya bermain. "Bunda, kenapa kak Ayla gak mau main sama Airin."


Rili berjongkok dan menghapus air mata Airin. "Airin sayang jangan nangis ya. Airin main sama bunda saja ya."


Airin menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nangis?" tanya seorang anak kecil dengan suara imutnya. Dia tersenyum cantik seperti seorang bidadari kecil. "Ayo main sama aku."


"Airin, ini ada teman. Namanya siapa cantik?"


"Aku Melo." Melo mengulurkan tangannya pada Airin dan mereka pun berkenalan.


"Melodi?" Rili memastikan pemilik nama itu, sudah jelaslah dia putri dari Nada dan Aksara.


"Pak Alvin. Apa kabar?" Aksa menjabat tangan Alvin sesaat.


"Baik, Pak Dosen. Lama gak bertemu. Melo udah besar ya."


Melo mencium satu per satu punggung tangan mereka.


"Pintar sekali. Ya sudah, ayo masuk ke dalam. Kamu main sama Airin ya."


Melo menggandeng tangan Airin, mereka mulai berceloteh dan bermain.


Andini, Nada dan Rili duduk di dekat playground sambil mengawasi mereka.


"Untung ada Melo jadi ada teman Airin main. Kakaknya malah asyik main sama cowok-cowok tuh." tunjuk Rili pada putrinya yang asyik bermain mandi bola dengan tiga cowok. "Punya dua anak perempuan tapi beda sekali sifatnya."


Nada tersenyum. "Yang kembar putranya..."


"Putra aku. Nama aku Andini. Panggil aja Dini gak papa."


"Iya. Ganteng ya. Yang satu putranya Pak Rasya?" tanya Nada.


"Iya, dititipin ke kita soalnya mamanya lagi teler hamil muda. Kamu kapan nambah momongan?"


Nada hanya tersenyum. "Belum dikasih kepercayaan lagi. Mungkin Kak Rili yang punya program lagi?"


Rili tertawa. Dia jadi teringat perjuangannya dulu saat hamil Airin. "Sudah cukup. Dua anak lebih baik. Kalau kamu Din? Si kembar udah besar, udah bisa mandiri."

__ADS_1


"Sama, dua anak lebih baik. Lagipula aku juga sering kena anemia akut. Jadi Mas Eza trauma gara-gara waktu bayinya si kembar aku sampai pingsan dan transfusi darah juga."


"Bisa sampai kayak gitu?"


"Iya..."


Ketiga ibu-ibu muda ini mulai bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing.


Begitu juga dengan ketiga bapak yang menunggu mereka sambil meminum kopi di coffee shop dekat play ground.


"Kita bertiga ini punya latar yang beda-beda ya. Oiya, baru ingat. Aksa ini loh kakaknya Juna, Eza pemilik Hans Group."


Aksa sedikit terkejut. "Juna temannya adik aku itu?"


"Iya..."


"Juna apa kabar sekarang?" tanya Aksa.


Eza tersenyum kecil. "Baik, dia pegang salah satu cabang perusahaan. Jadi kamu pianis muda yang sempat diceritakan Juna dulu. Hebat! Seingat aku waktu kuliah Juna pernah buat biografi kamu. Dia pernah ngajar di tempat kursus kamu juga kan." Eza menepuk bahu Aksa sesaat. Bahkan sekarang pun dia masih terlihat begitu muda.


Aksa ikut tertawa kecil. Nasib baiknya tentu karena orang-orang yang mendukung impiannya. "Biasa saja Pak. Ini juga karena dukungan dari Pak Alvin."


"Dukungan apa? Ini karena usaha keras kamu sendiri. Karena usaha itu tidak akan pernah mengkhianati hasil."


"Betul," jawab Eza lalu meminum kopinya pelan.


Alvin menoleh sesaat melihat anak-anaknya yang bermain dengan ceria.


"Pak Alvin gak nambah adik lagi?" tanya Aksa sambil tersenyum. Dia jadi teringat dulu sering ber-ghibah dengan teman kafenya tentang keromantisan Alvin.


Alvin kembali meluruskan pandangannya. "Udah gak. Cukup dua saja. Kasihan lihat perjuangan dramatis waktu kehamilan anak kedua."


"Iya, aku dulu sempat diceritakan sama Mas Adit soal itu."


"Kamu yang masih satu, Melo udah saatnya punya adik."


Aksa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang. "Satu tahun yang lalu, Nada habis kuret karena blighted ovum dan dia juga kena penyakit paru-paru. Sampai sekarang masih pengobatan." Sangat terlihat rasa khawatir dan kesedihan yang mendalam dari sorot mata Aksa.


"Aku punya kenalan dokter spesialis paru-paru yang menangani Papa. Saya kasih kartu namanya ya. Bilang saja rekomendasi dari Eza."


"Terima kasih Pak Eza. Semoga istri saya segera sembuh."


"Iya sama-sama. Bagi kita yang paling penting adalah kesehatan dan kebahagiaan istri serta anak-anak kita."


"Iya benar sekali...."


Obrolan mereka berlanjut mulai dari keluarga sampai masalah pekerjaan. Karena anak-anak mereka sudah jelas betah bermain di dalam play ground.


Ketiga kepala keluarga ini begitu mencintai keluarganya dan menomor satukan istri. Apa mereka budak cinta? Bukan! Mereka hanya suami yang sadar jika masa tua nanti, hanyalah akan ada istri yang setia menemani. Begitupun dengan mereka, harus setia menemani istri dalam suka dan duka.

__ADS_1


...💞💞💞💞💞💞💞...


Sampai jumpa lagi di cerita selanjutnya... 😘😘😘


__ADS_2