
"Ayla, mainan nih. Ayo kejar sini." Alvin meletakkan mainan jauh dari Ayla agar Ayla mengejarnya dengan cara merangkak. Ya, sekarang usia Ayla sudah 7 bulan. Dia sudah bisa merangkak dan duduk mandiri. Tumbuh kembangnya begitu cepat.
Setiap berhasil mendapatkan mainannya dia tertawa dengan riang. "Wah, Ayla hebat."
Ayla kembali merangkak sambil membawa mainannya dan dia kasihkan pada opanya.
"Ayla mau main sama opa? Besok jalan-jalan yuk sama oma dan opa." Rizal meraih cucunya dan menggendongnya tapi Ayla justru menangis dan mencari bundanya.
"Sayang, bunda lagi tidur siang. Main sama Ayah saja ya." Alvin meraih kembali putrinya. Dia berusaha menenangkannya tapi sepertinya dia ingin tidur sambil ditemani Rili.
Perlahan Alvin masuk ke dalam kamar.
Mendengar rengekan Ayla, Rili membuka matanya. "Ayla mau bobok siang juga ya. Sini..." Rili menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya.
Alvin menurunkan putrinya di samping Rili. "Bentar ya, aku buatkan susu dulu." Alvin keluar dari kamar menuju dapur.
Rili menepuk-nepuk pantat Ayla tapi terasa basah. "Sayang sebentar bunda ganti diaper nya dulu."
Rili bangun dan beranjak dari tempat tidur. Dia mengambil diaper dan celana Ayla. Tapi saat membalikkan badannya Ayla sudah berada di ujung ranjang.
"Ayla, awas!" Dengan cepat Rili
duduk dilantai dan menangkap tubuh Ayla. "Aww..." Justru kini perutnya yang terasa sakit karena tekanan dari Ayla dan benturan dengan sisi ranjang.
Alvin masuk ke dalam kamar dan melihat Rili duduk di lantai dengan Ayla yang ada di pangkuannya. "Sayang kenapa?"
"Ayla hampir jatuh Mas."
__ADS_1
"Kamu gak papa?" Alvin meraih tubuh Ayla lalu membantu Rili berdiri.
Rili masih memegang perutnya yang telah membuncit itu. "Perut aku kram Mas."
Alvin menjadi sangat khawatir apalagi saat melihat setetes darah menembus daster birunya. "Sayang kita ke rumah sakit saja. Kamu duduk dulu."
Alvin segera menitipkan Ayla pada Mami Lisa lalu dia kembali ke kamar dan segera menggendong Rili.
"Semoga gak kenapa-napa." Lisa juga sangat khawatir dengan keadaan putrinya, tapi dia harus tetap di rumah menjaga Ayla yang ditemani oleh Lela.
"Papi antar saja, kamu temani Rili di belakang."
Alvin masuk ke kursi belakang sambil terus merengkuh Rili.
"Mas aku takut."
"Sssttt, semua pasti baik-baik saja." Walau sebenarnya Alvin sangat khawatir dan takut, dia berusaha untuk tenang. Alvin terus mengusap lembut perut Rili. Selama tiga bulan ini, dia selalu menjaga Rili. Memastikan Rili tidak sampai kecapekan bahkan Lela juga ikut pindah ke rumah Mami Lisa untuk membantu merawat Ayla. Dia jadi menyesal meninggalkan Rili barusan. Hanya beberapa menit saja hal ini terjadi.
"Kamu tenang. Semua pasti baik-baik saja."
"Iya Pi, semoga saja."
Setelah 15 menit pemeriksaan, Dokter Ani yang menangani kehamilan Rili akhirnya keluar.
"Bagaimana keadaannya Dok." Alvin seketika berdiri dan mendekati Dokter Ani.
"Syukurlah hanya terjadi pendarahan luar. Janin dan ibu baik-baik saja. Tapi tetap harus bed rest selama tiga hari di sini agar perkembangannya terus saya pantau."
__ADS_1
"Iya Dok." Alvin kini mengikuti brangkar Rili yang didorong menuju rawat inap. Dia mengenggam tangan Rili yang terasa sangat dingin.
"Syukurlah semua baik-baik saja."
Rili tersenyum dengan mata yang mengembun.
Setelah sampai di ruang rawat, Alvin duduk di dekat brangkar Rili sambil mengusap perut Rili. "Anak kuat Ayah."
Rili masih tersenyum sambil meneteskan air matanya.
"Syukurlah semua baik-baik saja. Kalau begitu Papi pulang dulu ya. Nanti Papi balik lagi bawa baju ganti sama makanan buat kalian."
"Iya Pi, makasih."
"Kalian tenang saja di sini. Fokus sama pemulihan Rili. Ayla biar kita jaga." pesan Papi Rizal sebelum pulang.
"Iya Pi."
Setelah itu Papi Rizal keluar dari ruangan Rili.
"Aku nyesel Mas dulu menolak kehadirannya. Padahal dia anak yang kuat. Mau bertahan demi aku." Rili tak hentinya mengusap perutnya.
"Udah sayang. Semua udah berlalu. Sekarang kamu istirahat ya. Biar cepat pulih. Aku temani di sini."
"Mas, nanti video call sama Ayla ya."
"Iya." Alvin mengusap lembut rambut Rili agar dia segera terlelap.
__ADS_1
Sebenarnya hatinya terasa sakit melihat Rili lemah seperti ini. Perjuangannya begitu luar biasa untuk mempertahankan calon buah hatinya.
Aku sayang kamu melebihi apapun. Setelah ini, aku gak akan buat kamu seperti ini lagi. Semoga kita bisa merawat kedua buah hati kita sampai tua sama-sama....