Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Obsesi atau Cinta


__ADS_3

"Iya Pak... Sekarang?.. Iya baik, saya akan segera ke sana..." Setelah mendapat telepon dari Pak Riko, Rasya segera memakai blazernya dan membawa kelengkapan berkas-berkas. Dia kini berjalan menuju ruangan Dira.


"Kamu sekarang ikut aku ya. Pak Riko mau membahas proyek barunya. Sekalian bawa berkas yang aku minta tadi."


"I-iya, Pak." Dara mengambil tasnya dan berkas-berkas yang dimaksud. Dia segera mengikuti langkah Rasya di belakangnya.


Satu jam setelah itu, waktunya istirahat. Nana yang memang telah membuat janji dengan Rasya, dia bergegas masuk ke dalam ruangan Rasya. Tapi ternyata hanya ada Doni yang sedang bergelut dengan banyak kertas sambil duduk di atas sofa.


"Pak Rasya mana?"


Doni melirik sesaat Nana. "Keluar. Ketemu client sama Dira."


Seketika Nana mengerucutkan bibirnya lalu duduk di dekat Doni. "Katanya tadi mau makan siang bareng, eh, sekarang malah pergi sama Dira."


Doni tersenyum kecil. "Makan siang sama aku aja yuk."


Nana menatap Doni, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tuh maunya sama Pak Rasya." Nana menyandarkan dirinya sambil menghela napas panjang.


"Kamu kenapa sih gak pernah nyerah deketin Pak Rasya?" tanya Doni sambil menata kertas-kertas yang telah selesai dia cek.


"Soalnya aku cinta." Nana mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Rili menanyakan keberadaannya.


"Kamu harus bisa bedain yang namanya cinta sama obsesi." Doni kini menatap gadis yang ada di sampingnya itu.


"Obsesi?? Obsesi itu apanya cinta?"


"Obsesi itu gak baik. Obsesi itu egois. Hanya keinginan menggebu untuk memiliki saja."


Nana hanya tersenyum miring. "Terserah apa filosofi kamu." Nana kini berdiri dan akan beranjak pergi setelah mendapat balasan dari Rili.


"Kamu mau kemana?" tanya Doni sambil mengikuti langkah Nana.


"Mau ke kafe ketemu Rili."


"Aku ikut lah."


"Jangan. Nanti bisa telat. Kalau aku aja yang telat gak papa."


"Gak papa kalau kita telat bareng. Di hukum suruh keliling kantor juga gak papa."


"Eh, emang kamu pikir kita anak sekolahan." Nana tertawa lalu membiarkan Doni mengikutinya. "Ya udahlah, tapi kamu bayar ya. Yang makan gratis cuma aku aja. Kasian nanti calon suaminya Rili bangkrut."


Doni hanya tertawa. "Punya teman kayak kamu nih bisa buat bangkrut." Doni menaiki motornya. "Sini naik motor aku aja."


"Oke, meski deket tapi lumayan hemat bensin dan tenaga."


Motor Doni mulai melaju dengan kecepatan standart menuju kafe Ria yang memang masih satu kecamatan. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kafe itu.


Nana turun dan bergegas masuk ke dalam kafe.

__ADS_1


"Na, helmnya dilepas dulu."


Nana tersenyum lalu melepas helmnya. "Lupa ding. Nih." Setelah melepas helmnya dia menyerahkan begitu saja pada Doni.


Doni hanya berdecak sambil menaruh helm di spion. Kemudian dia segera menyusul langkah Nana.


Di dalam Nana menebarkan pandangannya mencari keberadaan Rili. "Rili, mojok dimana sih?"


"Nyari Rili?"


Pertanyaan itu membuat Nana bergidik. Seperti hantu yang tiba-tiba muncul. "Iya. Masak iya mau nyari kamu?"


Adit hanya tersenyum sambil menunjuk keberadaan Rili.


Nana kini melangkahkan kakinya menuju meja Rili yang diikuti oleh Doni.


"Kirain sendiri. Aspri nya Rasya kenapa ikut Nana. Ada aja saingan baru," gumam Adit.


"Rili, untung lo masih ada di sini." Nana duduk di sebelah Rili.


"Aduh, si pemburu gratisan datang," canda Alvin sambil menepuk jidatnya.


"Amal. Kalau dia nih, biar bayar sendiri," tunjuk Nana pada Doni.


"Aku masih mampu buat bayar."


"Tumben sama Doni? Kak Rasya mana?" tanya Rili pada Nana.


"Oo, gitu."


Beberapa saat kemudian Adit datang dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya ada segelas orange juice dan sepiring nasi serta blackpepper gyudon (sejenis daging suir). Dia meletakkan hidangan itu di depan Nana.


"Especially for you..."


Nana hanya mengernyitkan dahinya. Kenapa Adit tiba-tiba menjadi sok sweet dan cool gini.


Sedangkan si pemilik kafe melihat menu spesial itu dengan mata yang melebar. "Adit, kamu yang mau bayar ini?"


"Iya, gak papa," jawab Adit singkat sambil mengulum senyumnya.


"Doni mau pesan apa?" tanya Alvin sambil memanggil Revi, waitressnya.


"Sama kayak punya Nana spesial."


"Oke." Alvin menyuruh Revi menyiapkan pesanan Doni lalu dia menggandeng tangan Rili setelah membisikkan sesuatu.


"Na, gue ke belakang dulu ya."


"Loh, gue kan ke sini mau ngobrol sama lo."

__ADS_1


"Iya, nanti aja. Lo makan dulu aja."


Setelah Rili dan Alvin beranjak dari tempatnya, Adit duduk di sebelah Nana begitu juga dengan Doni.


Nana yang sedang fokus dengan makanannya kini melirik Adit lalu Doni yang sedang mendekatkan makanan yang baru saja diantar waitress.


"Kalian bisa gak sih duduk di sebelah sana aja. Ngapain dempet-dempetan di sini. Udah kayak punya dua bapak aja aku."


Doni yang saat itu sedang minum hampir saja tersedak.


"Memang aku udah setua itu?" tanya Adit.


"Kalau kamu emang udah tua. Kalau aku masih muda," celetuk Doni.


Adit mencibir. "Kamu kan cuma satu tahun di bawah aku."


Nana hanya memutar bola matanya. Terserah dengan dua pria yang ada di sampingnya yang penting dia menikmati makan siangnya hari itu.


Adit tersenyum kecil menatap gadis yang ada di sebelahnya. Gaya makan yang tetap sama, begitu bersemangat.


Tak butuh waktu lama isi piring Nana sudah tandas. Merasa sedari tadi terus diperhatikan oleh Adit, dia kini menolehnya hingga pandangan mereka terpaut.


Dengan gerak pelan, Adit mendekatkan tangannya dan berniat mengambil nasi yang menempel di dekat bibir Nana.


Nana terkesiap, dia cepat-cepat menyambar tangan Adit tapi justru tangannya kini bersentuhan dengan tangan Adit.


"Pakai tisu." Doni menyodorkan tisu pada Nana.


Dengan cepat Nana meraih tisu itu dan membersihkan bibirnya. Nana yang biasanya anti salah tingkah, tiba-tiba menjadi salah tingkah menghadapi dua pria ini.


"Aku mau ke toilet dulu," Nana berdiri setelah menghabiskan minumannya.


Kedua pria ini saling tatap sesaat. "Lucu, udah tahu Nana sukanya sama siapa, kita masih saja deketin." Adit menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sumbang.


"Kita bersaing secara sehat bung. Selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan untuk menikung."


Sedangkan sepasang manusia yang sedari tadi mengintai di dekat pintu kantor hanya tersenyum.


"Aneh ya, mereka udah jelas suka sama Nana tapi Nana malah suka sama Kak Rasya yang gak mungkin suka sama dia. Dibuat simple aja bisa gak sih. Kan enak kalau dicintai seseorang."


"Saling mencintai lebih enak." Alvin menarik tangan Rili agar masuk ke dalam kantor lalu mengungkungnya di belakang pintu.


"Mas, tunggu sampai sah." Rili menahan bibir Alvin saat akan mendekat.


"Dikit aja."


"Ih, Mas. Nanti aja, biar kangennya maksimal."


"Sekarang udah kangen."

__ADS_1


Aduh, dasar Alvin...


__ADS_2