
"Pak, ini berkas yang Pak Rasya minta." Dira memberikan beberapa berkas yang langsung diterima oleh Rasya.
"Tadi ada telepon dari Pak Haris yang ada di Gresik dia bertanya, kapan bapak bisa ke tempat untuk mengecek proyek secara langsung," lanjut Dira menyampaikan pesan yang dia terima.
Rasya mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang ada di tangannya dan menatap Dira. "Nanti kalau Pak Haris telepon lagi bilang kita ke sana sekitar dua minggu lagi. Kamu bisa ikut kan?"
Dira terdiam sesaat. "Saya, Pak?" kemudian dia justru bertanya memastikan.
"Iya, soalnya Doni harus tetap stay di kantor pusat. Nanti saya usahakan tidak sampai menginap di sana."
Meski ragu akhirnya Dira menyetujuinya karena ini tuntutan pekerjaan jadi dia harus bisa profesional dan mengesampingkan urusan pribadi. "Iya Pak, saya bisa."
Rasya terus menatap Dira. Pandangan matanya kini bisa menangkap sebuah kalung yang menggantung di leher Dira. Kalung itu?
Seketika Rasya berdiri. Dia mendekati Dira.
Dira merasa semakin gugup saat tangan Rasya menahan pundaknya agar tidak mundur. "Kalung ini?" Tangan Rasya menyentuh kalung itu.
Dira dengan cepat menepis tangan Rasya. Dia berusaha untuk tetap tenang. "Ada apa, Pak?"
"Kalung ini persis dengan kalung yang pernah aku kasih ke Dara waktu aku ke Surabaya."
Dira semakin menutup kalung itu untuk menghalangi pandangan Rasya. "Maaf Pak, ini kalung saya. Saya sendiri yang beli."
Rasya kini beralih menatap Dira yang berusaha mengalihkan pandangannya. "Jujur sama aku, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?"
Dira menggelengkan kepalanya. Dira bukan seperti artis hebat yang bisa menyembunyikan semuanya dengan sempurna. Jelas Rasya merasa curiga.
"Ra, dulu Dara selalu bilang bahwa bukan dia yang aku temui di masa lalu itu. Bahkan dia juga bilang kalau bukan dia yang seharusnya aku cintai. Dan faktanya sekarang, kamu muncul sebagai saudara kembar Dara. Apa sebenarnya kamu seseorang di masa lalu itu dan mengaku menjadi Dara?"
Dira membalikkan badannya akan pergi meski tangannya sempat ditahan oleh Rasya. "Maaf Pak, mungkin karena saya saudara kembar Dara jadi Pak Rasya merasa kalau saya ini Dara. Dan satu kenyataannya kalau saya juga sudah memiliki calon tunangan."
Suatu kenyataan yang memang terasa menyakitkan untuk Rasya. Entah Dira masa lalunya atau tidak, yang jelas dia sama-sama tidak bisa memiliki.
Rasya melepaskan tangan Dira dan membiarkannya keluar dari ruangan.
Dira berjalan cepat lalu segera masuk ke dalam ruangannya. Segera duduk di depan komputer dan melepas kalung itu.
"Kenapa aku sampai lupa melepas kalung ini..."
__ADS_1
Pikirannya teringat pada satu kenangan di masa lalu.
"Kalung itu cantik ya..."
"Aku belikan ya buat kamu..."
"Jangan, kan kakak juga masih sekolah..."
"Gak papa aku punya tabungan sendiri..."
"Tapi harganya lumayan, itu titanium asli..."
"Gak papa. Inisial D kan? Nanti kalau kita sudah sama-sama dewasa aku ganti kalung ini dengan emas asli ya..."
"Memang nanti kita bisa bertemu lagi?"
"Pasti..."
Dira mengusap wajahnya asal, berusaha melupakan semua kenangan yang seharusnya tidak tercipta saat itu.
Dia letakkan kalungnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
...***...
"Biasa aja Mas. Aku dari dulu kan sama kayak gini." Rili tersenyum lalu dia bergelayut manja di lengan Alvin.
Kebetulan kafe saat itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung, karena memang hari itu bukan akhir pekan. Rili juga sudah hafal, Alvin sering mengajaknya makan malam justru di hari biasa agar mereka bisa menggunakan taman kafe sebagai private room.
Mereka kini duduk di tengah taman. Suasana outdoor kafe yang sangat romantis dan cuaca hari itu juga sangat mendukung, dengan langit malam yang berhiaskan bintang.
Beberapa saat setelah mereka duduk, Aksa datang sambil membawa makanan dan minuman.
"Aksa, kalau pengunjung tadi sudah pulang, kamu tutup kafenya ya."
"Iya Bos." Aksa menata makanan dan minuman di atas meja.
"Makasih Aksa. Tumben kamu yang antar?" Tanya Rili sambil menyomot makanan yang baru saja diletakkan Aksa.
"Iya, lagi gak main di music corner. Ya udah saya permisi." Aksa menatap bosnya sesaat. Dia sebenarnya tidak mau bosnya salah jalan seperti ini.
__ADS_1
Satu kode didapat Aksa dari Alvin agat dia segera pergi dari tempat itu.
Mereka mulai menyantap hidangan yang ada di atas meja.
"Kamu habiskan ya," Alvin tersenyum menatap gadisnya yang makan dengan lahap. Ya, meskipun hatinya sedang gundah tapi tidak akan menghilangkan selera makan Rili.
Rili kini meneguk minuman jeruk itu hingga setengah.
"Mas, aku tuh sayang sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu."
Alvin kini berpindah duduk ke sisi Rili lalu merengkuh bahu Rili. "Iya, aku juga sayang sama kamu. Kita akan selalu bersama."
"Maafin aku Mas. Aku yang terus mengulur waktu kita. Aku...." Perkataan Rili berhenti karena tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat dan pandangannya mulai kabur. "Mas, kok tiba-tiba aku pusing gini ya..."
Alvin tak menjawab. Dia hanya mengusap lengan Rili beberapa saat kemudian Rili benar-benar tertidur di bahu Alvin.
"Maafin aku..." Hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Alvin dan semakin mengeratkan pelukannya.
Dia tetap dalam posisi sampai Aksa datang dan memberi tahu keadaan kafe. "Bos, semua sudah pulang."
"Oke, kamu bersihkan dulu meja ini."
Aksa mengemasi piring dan gelas di depan meja Alvin.
"Bos, pikirkan lagi soal ini. Jangan sampai menyesal. Karena setelah tersadar mbak Rili pasti akan marah dengan apa yang udah bos lakukan. Bisa saja dia tambah benci sama bos."
Alvin hanya terdiam, lalu dia membuang napas kasar.
"Sudah setengah jalan. Aku gak mungkin putar haluan. Kunci kafe kamu bawa ya. Mobil kafe sudah kamu siapkan?"
"Sudah bos."
Alvin menggendong tubuh Rili. Dia berjalan keluar dari kafe. Setelah masuk ke dalam mobil, Alvin segera melajukan mobil itu menuju suatu tempat. Tempat yang hanya ada mereka berdua.
Di halaman sebuah rumah yang cukup luas, Alvin menghentikan mobilnya. Dia keluar dari mobil lalu menggendong Rili masuk ke dalam rumah. Dia baringkan Rili di sofa ruang tamu lalu dia kembali menutup pintu dan menguncinya.
Dia kini berlutut di dekat Rili. Mengusap lembut pipi Rili yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa dengan sentuhannya.
"Maafkan aku. Aku cuma gak mau kehilangan kamu. Aku sangat mencintai kamu." Satu kecupan mendarat di bibir Rili lalu dia kembali mengangkat tubuh Rili dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Dia hempaskan perlahan tubuh itu di tengah ranjang. Dia buka kemejanya lalu mengungkung tubuh Rili yang tak berdaya. Dia pandangi paras cantik itu, menyusurinya dengan jari telunjuk dari dahi sampai dagunya. Lalu turun ke leher dan berhenti di atas gaun yang menutupi dadanya.....
***