
Rasya buru-buru masuk ke dalam lift karena memang dirinya sudah terlambat. Sebagai seorang bos, dia memang menerapkan disiplin untuk dirinya sendiri. Baru kali ini dia terlambat datang karena sesi curhatnya bersama adiknya itu.
Setelah sampai di lantai 5, Rasya ke ruangan Nana untuk memberikan titipan dari Rili.
"Na, ini titipan dari Rili. Katanya makasih kadonya."
Nana meraih kotak makanan itu dengan sumringah. "Rili ngerti banget kalau aku lagi lapar. Ucapin makasih berarti kadonya sudah dimanfaatkan."
"Kado apa emang?"
Nana semakin tertawa saat Rasya justru ingin tahu. "Ih, Pak Rasya kepo. Pak Rasya sendiri ngapain pagi-pagi ke rumah pengantin baru?" tanya Nana sambil membuka kotak makan itu.
"Ada perlu. Laporan keuangannya sudah belum? Kok malah makan."
Nana menelan makanannya dengan cepat. "Oiya Pak. Lupa kalau sekarang akhir bulan. Sebentar aku kerjakan dulu."
Rasya keluar dari ruangan Nana. Dia hampir saja bertabrakan dengan Dira yang sedang berjalan cepat.
"Maaf Pak, saya buru-buru ke toilet."
"Setelah dari toilet, langsung ke ruangan saya," perintah Rasya yang langsung dijawab anggukan oleh Dira.
Rasya tersenyum kecil, lalu melanjutkan langkahnya. Dia kini duduk di kursi kantornya setelah membuka jasnya.
Dia topang dagunya sambil memikirkan waktu yang pas untuk menentukan acaranya.
Beberapa saat kemudian, ada sebuah ketukan pintu. Rasya segera membuka layar laptopnya dan menyalakannya lalu menyibukkan dirinya.
"Iya, masuk."
Dira masuk ke dalam ruangan Rasya. "Ada apa Pak?"
Rasya menatapnya sesaat. "Kamu duduk dulu." tangannya kini mulai mengarahkan kursor untuk membuka email. Banyak email yang masuk di hari itu. Rasya menautkan alisnya lalu menghela napas panjang.
"Pak Niko minta perubahan rencana anggaran perumahan. Tiga perumahan sekaligus. Deadline besok." Kepala Rasya seketika terasa pusing. "Gini aja, kamu panggil Doni dan Nana. Kita adakan meeting, nanti aku jelaskan bagaimana kemauan Pak Niko."
__ADS_1
"Iya Pak." Dira keluar dari ruangan.
"Ada aja masalah di akhir bulan. Belum lagi laporan keuangan punya bank dan lainnya." Rasya menghela napas panjang. Dia urungkan masalah hatinya. Dia harus fokus terlebih dahulu dengan pekerjaan yang tiba-tiba menumpuk.
...***...
"Dit, ada pesanan dari Rasya. Kamu antar ke kantornya ya." Alvin yang baru saja mendapat pesanan dari kakak iparnya itu segera menyuruh anak buahnya untuk mempersiapkan pesanannya.
"Berapa Vin?"
"10 pax. Pakai motor aja bisa."
"Kalau gitu sekalian aku pulang ya. Aku mau nemenin Nana. Biasanya kantor Rasya kalau lembur sampai malam."
Alvin menatap Adit sesaat. "Ya udah. Mumpung hari ini gak ada acara. Pepet terus lah."
"Siap!!" Adit segera menuju ruang karyawan. Dia mengambil jaket, kunci motor dan helmnya. Tak lupa berkaca sesaat dan menyisir rambutnya.
"Pulang cepet nih."
Adit tersenyum sambil mengangkat alisnya. "Mau jadi kurir makanan sama kurir cinta. Lo bawain tuh makanan yang udah siap ke motor gue."
Aksa meletakkan satu kantong besar yang berisi 10 pax makanan itu di depan motor Adit.
Setelah memakai helm dan menaiki motornya, beberapa saat kemudian motor Adit segera melaju ke kantor Rasya.
Tak butuh waktu lama, Adit telah menghentikan motornya di tempat parkir kantor Rasya.
Dia melepas helmnya lalu turun sambil membawa pesanan Rasya. Dia segera menuju lift dan naik ke lantai 5. Memang ada beberapa staf accounting yang masih lembur di hari yang sudah hampir malam itu.
"Tumben kamu yang antar. Biasanya Aksa?" tanya Rasya saat mengambil setumpuk berkas dari ruang Nana.
"Gak papa. Sekalian aja."
"Oo, Don, kamu bagikan ini. Biar mereka istirahat sebentar lalu pulang."
__ADS_1
Doni meraih pesanan itu. Dia menatap tajam Adit sesaat. Persaingan mulai ketat.
"Jadi sebentar lagi sudah pulang?"
"Iya, staf lainnya."
Adit tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan Nana tanpa permisi dan duduk di sebelahnya.
"Mas Adit, aku lagi sibuk jangan ganggu."
"Aku cuma duduk aja."
Nana masih sibuk mengoperasikan microsoft excel di komputernya.
Adit hanya mengamati apa yang dikerjakan dia. Laporan keuangan perusahaan properti Rasya memang serumit itu. Beda dengan dirinya yang bekerja di kafe Alvin. Dia hanya menghitung pemasukan dan pengeluaran serta laba/rugi setiap bulan saja. Itupun sering dibantu Alvin.
"Itu salah Na rumusnya."
"Eh, iya lupa." Saat badan mulai lelah, dia menjadi tidak fokus.
"Kamu istirahat aja, atau makan dulu. Biar aku bantu ngeprint."
"Mas Adit bisa?"
Adit tertawa kecil. "Aku kan juga dari jurusan manajemen akuntansi."
"Iya lupa. Ya udah nih. Aku mau buat teh aja di pantry. Mas Adit mau?" Nana berdiri yang sekarang tempatnya digantikan oleh Adit.
"Boleh." Adit sedari tadi terus menyunggingkan senyumnya. Sikap Nana pada dirinya sudah mulai melembut. Bahkan dia sudah jarang bertengkar seperti dulu.
Nana keluar dari ruangannya. Beberapa saat kemudian, Doni masuk sambil meletakkan makanan milik Nana.
"Kok ada lo. Nana mana?" tanya Doni sedikit mengeraskan suaranya karena dia mulai kesal dengan Adit yang terus mendekati Nana.
"Nana lagi buat teh di pantry. Nih, udah gue print. Lo bendel per laporan. Gue mau nyusul Nana." Adit berdiri dan dengan langkah cepat meninggalkan Doni.
__ADS_1
"Dasar!!" Doni menggerutu. Dia terpaksa membereskan pekerjaan yang hampir selesai itu.
Adit turun ke lantai bawah. Setahu dia letak pantry berada di ujung dekat tangga darurat. Dia berjalan dengan santai. Saat tiba di depan pintu yang tertutup itu, dia mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan...