Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Cinta Tulus


__ADS_3

Dalam perjalan menuju rumah Papi Rizal, Alvin sesekali masih melirik istrinya yang sedang berdiam diri sambil mengusap perutnya sendiri.


"Sayang perutnya masih kram?" Alvin sangat khawatir, karena setelah pelepasannya yang singkat barusan, Rili mengeluhkan kram pada perutnya.


Rili menggeleng pelan. "Udah gak Mas."


"Jadi nyesel ngelakuin barusan. Maaf ya..."


Rili menyelipkan tangannya di tangan Alvin yang sedang menyetir. "Kok minta maaf, kan tadi aku yang mulai."


"Nanti kalau masih kram kita periksa ya.."


"Udah gak papa Mas. Aku baca-baca artikel efeknya memang gitu tiap selesai pelepasan."


Alvin menghentikan mobilnya di halaman rumah Papi Rizal. Dia usap puncak kepala Rili sesaat. "Semoga kamu dan calon anak kita selalu sehat." Kemudian dia mencium singkat kening Rili.


"Iya Mas, amin. Masuk yuk Mas. Aku lapar, udah pengen masakannya Mami."


Mereka keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Semangat banget jam segini udah datang, papi baru aja mau siap-siap. Mami juga masih buat bingkisan."


"Mau makan dulu Pi." Rili berlenggang masuk ke dalam ruang makan yang memang berada di dekat dapur.


"Alvin makan aja sekalian," suruh Mami Lisa setelah menyelesaikan beberapa bingkisannya.


"Iya, Mi. Maaf Mi, maunya bumil makan di sini." Alvin mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk untuk Rili. "Kamu makan yang banyak ya."


Rili mendorong piring yang disodorkan Alvin. "Mas, gak mau."


Alvin menghela napas panjang. Maunya ibu hamil memang suka-suka seperti ini. Ya sudahlah, dia makan sendiri saja.


Rili kini justru menarik tangan Papinya. "Pi, ambilin makan dong."


"Calon cucu Papi mau diambilkan makan." Papi Rizal mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan nasi dan lengkap dengan lauk. "Makan yang banyak sayang."


"Makasih Papi."


Alvin hanya tersenyum melihat tingkah manja Rili. Bukan ke dirinya, tapi justru ke orang lain.


...***...

__ADS_1


Satu langkah penting telah dilewati hubungan Rasya. Saat dua keluarga saling bertemu dan menentukan hari pernikahan mereka.


"Jadi tiga minggu lagi?" tanya Dewa saat Rizal memutuskan hasil final hari pernikahan anaknya.


"Iya, gak perlu nunggu lama lagi. Iya kan, Sya?"


Rasya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, aku rasa waktu tiga minggu cukup untuk mempersiapkan semuanya."


"Soal acara gampang, ada event organizer. Tempat juga udah ada di kafe. Nanti tinggal cari waktu buat ketemu Zaki. Kebetulan tiga minggu lagi, kafe kosong tidak ada acara." kata si pemilik kafe itu.


Mereka berlanjut mengobrol rencana acara pernikahan Rasya dan Dira. Mereka berharap semoga semua berjalan lancar sesuai rencana mereka.


"Sekarang kita makan dulu yuk," ajak Karin pada keluarga Rizal. "Oiya, kalian udah mau punya cucu ya. Selamat ya.. Pasti senang banget."


Lisa tertawa sambil merengkuh Rili yang ada di sampingnya. "Iya, instant banget mereka."


"Iya, semoga kita nanti juga cepat dapat cucu ya, pasti rumah ini jadi ramai."


Rasya hanya tersenyum. Sepertinya setelah menikah, dia juga harus cepat-cepat membuatkan cucu untuk mereka.


"Mi, kalau kita tinggal berdua kita buat adik lagi ya," kata Rizal bercanda. Karena dia tahu setelah Rasya menikah pasti akan tinggal bersama Dira di rumah Dewa. Dia tidak akan melarang anak-anaknya untuk tinggal dimana saja yang penting mereka bahagia. Dan yang terpenting dalam hidupnya adalah Lisa, yang akan selalu setia menemaninya hingga tua nanti.


"Wah, beres," jawab Alvin yang langsung dapat satu cubitan kecil dari Rili.


Mereka semua tertawa, memang satu keluarga yang suka bercanda.


...***...


Sepanjang hari itu, Adit seolah ingin terus tersenyum karena untuk pertama kalinya dia mendapat ajakan dari Nana menonton bioskop. Benar-benar satu kemajuan yang pesat.


Dengan bujuk rayu Adit, akhirnya Alvin memberi izin off di hari minggu itu yang biasanya memang ramai pelanggan. Setelah bersiap, dia kini mengendarai motornya menuju rumah Nana.


Tak butuh waktu lama, dia sampai di depan rumah Nana, kemudian dia turun dan melepas helmnya. Lalu berjalan masuk ke halaman rumah Nana. Tapi, tiba-tiba saja langkahnya berhenti saat melihat sesuatu yang membuat dirinya kecewa untuk kesekian kalinya.


Dia melihat Doni yang memberikan segebok bunga pada Nana.


Adit hanya bisa membalikkan badannya dan melangkah pergi. Dia tidak akan memaksa Nana untuk memilihnya. Jika ada seseorang yang lebih Nana cintai, dia siap untuk mengundurkan hatinya. Meski hati sakit dan terluka.


Mendengar kedatangan seseorang, Nana menoleh ke arah langkah kaki itu. "Mas Adit..."


Bunga yang memang niat awalnya Nana tolak, kini sedikit dia dorong. Ungkapan kata cinta Doni barusan juga cukup membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Maaf, aku gak bisa balas perasaan Kak Doni. Aku sudah memutuskan untuk membuka hati aku buat Mas Adit," kata Nana dengan pandangan mata yang menatap punggung Adit kian menjauh.


"Ya sudah, kamu kejar dia sekarang," suruh Doni. Karena dari semua yang dia lihat tentang Adit, Doni yakin perasaan Adit begitu tulus pada Nana.


Nana kini menatap senyum tulus Doni.


"Aku cuma ingin melihat kamu bahagia, dan dia pria yang tepat buat kamu."


Senyum Nana semakin mengembang. Lalu dia memutar langkahnya dan berlari mengejar Adit.


"Mas Adit!!" Panggil Nana saat Adit akan melajukan motornya.


Adit yang memang telah bersiap untuk pergi, kini mengurungkannya. Dia menjagrak motornya dan turun.


"Jangan pergi dulu." Nana semakin berjalan mendekat.


"Tapi Doni..."


Nana justru tertawa. "Mas Adit mau sampai kapan mengalah terus."


Adit tersenyum kecil sambil menatap Nana. "Bagi aku yang terpenting itu kebahagiaan kamu. Kalau kamu lebih bahagia bersama orang lain maka aku harus siap mengalah."


Kalimat Adit membuat haru Nana. Mengapa dia tidak membuka hatinya sedari dulu? Mengapa harus menunggu sampai banyak kejadian baru dia bisa melihat ketulusan Adit?


Setetes air mata kini jatuh di pipi Nana. "Makasih Mas Adit." Nana memeluk tubuh seseorang yang sekarang ada di hadapannya. Seseorang yang selalu menawarkan sejuta cinta untuknya. "Makasih sudah mau menungguku."


"Na?" Awalnya Adit ragu tapi sedetik kemudian dia mengeratkan pelukannya. "Aku yang seharusnya makasih sama kamu. Kamu sudah mau membuka hati kamu buatku."


"Kita jadi nonton bioskop kan?" Nana melepaskan pelukannya.


"Jadi."


"Sebentar aku mau ambil tas sama kunci pintu dulu." Nana berjalan kembali ke rumahnya.


Adit menuntun motornya menuju halaman rumah Nana. Dia berpapasan sesaat dengan Doni.


"Good luck," satu tepukan mendarat di bahu Adit.


"Iya, thanks."


Begitulah cinta. Cinta tidak bisa dipaksa. Biarkanlah cinta itu memilih jalannya sendiri dan di hati siapa akan singgah.

__ADS_1


__ADS_2