
Seminggu telah berlalu, inilah hari bahagia Alvin dan Rili. Pagi itu di Musholla kafe ria, sepasang pengantin yang siap melakukan ijab qabul sudah duduk berdampingan di depan penghulu dan Rizal sebagai wali nikah Rili.
Beberapa kerabat dan sahabat juga turut menjadi saksi cinta mereka.
Alvin belum pernah merasakan ketegangan seperti ini. Tangannya berkeringat dan sudah dingin, seolah darah itu membeku dan tak mengaliri telapak tangannya. Apalagi saat Pak Penghulu bertanya pada Alvin, "Sudah siap?"
Alvin menganggukkan kepalanya dan memantapkan hatinya. "Sudah." Dia menjabat tangan Papinya Rili.
Sebenarnya apa yang dirasakan Alvin sama dengan yang dirasakan oleh Papi Rili. Untuk pertama kalinya dia menikahkan putri tersayangnya. Rasa tegang dan haru bercampur menjadi satu. Dia teringat momen saat dia menjabat tangan mertuanya dan melakukan ijab qabul. Rasanya seperti baru kemarin tapi sekarang dengan posisi yang berbeda.
Papi Rizal mulai mengucapkan kalimat ijabnya untuk sang putri. Dengan sedikit hentakan tangan, Alvin langsung menjawab ijaban itu dengan qabul yang terucap dalam satu kali tarikan napas.
"Bagaimana saksi sah?"
"SAH!!"
"Alhamdulillahirobbil'alamin...." Do'a setelah ijab qabul dipanjatkan. Sepasang suami istri yang baru diresmikan ini tersenyum kecil. Satu langkah penting telah terlewati.
Setelah do'a selesai, mereka menanda tangani buku nikah. Hal yang selalu dilakukan oleh sepasang yang baru sah adalah memamerkan bukunya di depan kamera. Senyum bahagia mengembang di wajah keduanya. Setelah itu mereka bertukar cincin kawin. Dan lagi, mereka memamerkannya di depan kamera.
Kini saatnya Rili mencium punggung tangan Alvin dengan takzim sebagai rasa hormat dan ketaatannya kepada suami, rasa haru menyeruak di dadanya. Apalagi saat Alvin mencium keningnya dengan penuh kasih sayang, matanya sudah dipenuhi kaca.
Alvin merangkum kedua pipi Rili. Menatapnya begitu dalam dan penuh cinta. Dia mendekatkan dirinya. Rili sedikit tercekat, mana boleh Alvin menciumnya di depan umum. Tapi ternyata Alvin justru membisikkan sesuatu di telinga Rili. "Selamat, sudah berhasil menjadi nyonya Alvin Elvaro."
Satu cubitan mendarat di pinggang Alvin bahkan ucapan itu berhasil membuat air mata bahagia meleleh di pipi Rili.
"Duh, bahagianya pengantin baru. Selamat ya sayang." Bu Gita memeluk Rili sambil mencium kedua pipinya. "Semoga kalian selalu bahagia ya."
"Iya, Ma."
Sedangkan Pak Iwan menepuk pundak Alvin sambil tersenyum bangga.
"Rili, Mami selalu mendo'akan yang terbaik buat kamu." Rili beralih memeluk Maminya.
Setelah itu beberapa foto keluarga mereka lakukan termasuk dengan Rasya dan Dea, adiknya Alvin.
...***...
"Saya lepas dulu hiasan kepalanya ya," kata Bu Lim sambil melepas pelan hiasan kepala yang menempel di rambutnya.
__ADS_1
"Sayang makan dulu ya, kalau nanti malah gak sempat makan." Alvin duduk di dekat Rili dengan membawa sepiring nasi.
Pipi Rili seketika terasa merona. Meski Alvin dari dulu sering memanggilnya sayang tapi entahlah kali ini rasanya sangat berbeda.
"Mas Alvin udah makan?" tanya Rili balik.
"Udah tadi sama kedua orang tua kita."
Bu Lim tersenyum mendengar sepasang pengantin yang manis ini. "Ya udah, kamu makan dulu. Saya juga mau makan, kan lapar juga."
"Iya Bu Lim. Silahkan makan sepuasnya."
"Beres, yang punya acara pemilik kafe pasti yang dikeluarkan menu spesial semua."
Alvin hanya tersenyum. Setelah Bu Lim keluar dari ruangan. Alvin mulai menyuapi Rili.
"Mas, aku bisa makan sendiri."
Alvin tetap menyuapi Rili. "Suapan pertama sebagai seorang suami."
Seketika Rili kembali tersenyum malu sambil menerima suapan demi suapan dari Alvin.
Setelah menelan makanannya baru Rili menjawab pertanyaan Alvin. "Aku juga gak tahu. Rasanya kayak baru jatuh cinta aja sama Mas Alvin."
"Ciee, jatuh cinta lagi sama Mas Alvin." Alvin terus menyuapi Rili sampai seluruh isi piring tandas. "Mau nambah lagi?"
Rili menggelengkan kepalanya. "Sudah kenyang Mas." Kemudian dia mengambil air mineral dalam gelas dan meminumnya.
Alvin tak hentinya tersenyum menatap wajah yang menggemaskan itu. "Udah siap buat malam ini?"
Rili menelan salivanya berkali-kali. Dia sudah tahu persis sifat Alvin, jelaslah Alvin tidak akan menunda malam pertamanya. Rili hanya bisa tersenyum sumbang.
Alvin meraih tangan Rili lalu menciumnya dengan lembut. "Jangan tegang ya. Kan kita dulu pernah pemanasan. Hampir aja.."
"Ssstt.." Rili menghentikan perkataan Alvin, "Jangan dibahas sekarang nanti ada yang dengar."
Alvin kembali terkekeh. "Kalau untuk duet nyanyi bareng sama aku, udah siap kan?"
"Aduh, gak usah nyanyi. Malu..."
__ADS_1
"Ya udah, aku aja yang nyanyi buat kamu. Ingat gak waktu acara perpisahan di sekolah dulu."
Rili menganggukkan kepalanya. Kenangan terindah yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. Saat Alvin menyanyikan lagu romantis untuknya di atas panggung.
"Kita ulangi momen itu dengan status yang baru."
...***...
Rili menggamit lengan Alvin dengan mesra. Mereka berjalan menuju pelaminan yang berada di taman kafe. Seluruh tamu undangan terpesona melihat sepasang pengantin itu yang nyaris sempurna. Gaun berwarna gold yang sangat elegan dengan riasan tak terlalu mencolok. Warna yang senada dengan warna jas Alvin. Mereka sudah seperti pangeran dan putri dalam sehari.
Orang tua dan keluarga mereka juga berjalan di belakang mereka. Dari orang tua Alvin, yang memang sudah kepala lima tapi masih terlihat muda. Di belakangnya ada orang tua Rili, mereka tak kalah memukaunya dengan pasangan pengantin itu. Masih sangat terlihat muda, bahkan beberapa keluarga Alvin tidak menyangka kalau Rizal dan Lisa adalah orang tua Rili.
Host sudah bersuara dan memulai acara pembuka. Beberapa prosesi dilakukan hingga acara sungkem.
Rasya duduk dengan senyum yang terus mengembang menyaksikan kebahagiaan adiknya. Di dekatnya ada Nana yang sesekali menghapus air matanya karena merasa terharu. Dia yang telah menjadi saksi kisah cinta sahabatnya itu mulai dari nol.
Di sudut lain, ada sepasang mata yang justru memperhatikan Rasya. Tanpa sadar jika pria yang ada di sebelahnya itu terus memperhatikan gadisnya. Satu helaan napas berhembus, rasanya dia ingin menyerah memperjuangkan hatinya.
Setelah rentetan acara formal selesai, kini saatnya para kerabat dan tamu undangan memberi selamat pada mereka.
Rasya menjadi orang pertama yang naik ke atas pelaminan.
"Selamat adik bawel plus manja." Rasya memeluk sesaat Rili. "Gini aja pake drama segala."
"Ih, Kak Rasya sekarang juga lagi main drama kan."
"Drama apa?" Masih sempat-sempatnya Rasya mencubit hidung adik tergemasnya.
Seseorang yang lewat di belakang Rasya tentu mendengar obrolan itu.
Drama?
Di samping Rasya, ada Nana yang sudah tidak sabaran.
"Kak, lama banget sih. Minggir dulu, aku juga udah gak mau main drama sama Kak Rasya. Enak aja, dibayar kagak disakiti iya."
Alvin dan Rili tertawa yang disusul oleh tawa keras dari Adit yang sedari tadi mengekori Nana.
"Tenang, masih ada seseorang yang gak akan menyakitimu."
__ADS_1
Nana melirik seseorang yang berada di dekatnya dan sedang tersenyum manis padanya...