
Pagi itu Rasya menghentikan mobilnya di tempat parkir perusahaannya tepat saat mobil Fandi yang sedang mengantar Dira juga berhenti.
"Sya," panggil Fandi saat mereka telah keluar dari mobil.
Sebenarnya Rasya enggan mendekat, tapi karena panggilan itu, dia terpaksa mendekati mereka berdua.
"Nanti malam sibuk gak? Kita kumpul yuk di kafenya Alvin," ajak Fandi pada Rasya.
Rasya nampak berpikir sesaat. "Oke, langsung ke tempat ya. Kamu tahu kan kafenya Alvin?"
"Udah tahu. Jangan lupa bawa pasangannya." Fandi menepuk bahu Rasya sesaat lalu kembali masuk ke dalam mobil.
"Oke," jawab Rasya terpaksa. Pasangan? Jelas dia tidak punya pasangan tapi untuk mengatasi keadaan ini sepertinya dia butuh bantuan Nana. Dia tidak mungkin datang tanpa pasangan apalagi jika harus melihat Dira bersama dengan yang lain.
Rasya dan Dira berjalan berdua masuk ke dalam kantor. Mereka sangat canggung. Dira sengaja memelankan langkah kakinya agar Rasya bisa mendahuluinya.
Mereka kini sama-sama masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 5. Masih tetap dalam keterdiaman masing-masing, meskipun di dalam lift hanya ada mereka berdua. Tiba-tiba saja lift bergetar dan berhenti secara mendadak.
"Ini kenapa?" Rasya menekan tombol berkali-kali agar pintu lift terbuka. Tapi ternyata sia-sia. Karena lift berhenti di antara lantai tiga dan empat. "Sial!! Harusnya kemarin teknisi sudah ke sini." Rasya mengambil ponselnya dan segera menghubungi Doni.
"Don, saya terjebak di dalam lift. Cepat kamu panggil teknisi!"
Setelah memutuskan paggilannya, Rasya kini membalikkan badannya dan melihat Dira yang berdiri sambil memeluk tasnya. Terlihat, dia sangat ketakutan.
"Kamu tenang ya, sebentar lagi kita pasti akan keluar dari sini."
5 menit, 10 menit, Dira akhirnya berjongkok di sudut lift.
Rasya harus berbuat apa sekarang untuk menenangkan Dira? Dia sudah menelepon Doni, teknisi baru saja tiba dan memulai perbaikan.
Dia kini ikut berjongkok di dekat Dira. Ruangan persegi yang kecil itu mulai terasa panas. Mungkin saja pasokan oksigen telah menipis.
"Kamu jangan khawatir ya. Sebentar lagi pintu liftnya pasti akan terbuka."
Dira hanya terdiam sedari tadi dengan pelipis yang mulai berkeringat. Kenapa takdir selalu membuat dirinya bersama dengan Rasya.
Tiba-tiba saja lampu dalam lift padam yang membuat teriakan dari Dira terdengar.
"Ra, tenang ya. Ada aku." Rasya berusaha menyalakan senter ponselnya.
__ADS_1
Napas Dira sudah terdengar tak beraturan. "Saya fobia gelap, Pak. Apalagi di ruangan sempit kayak gini."
"Ini ada cahaya, Ra. Kamu tenang."
Dira terus menatap lampu senter yang menyala dari ponsel Rasya agar rasa takut pada gelapnya menghilang.
Namun lagi-lagi nasib sial menimpa mereka. Ponsel Rasya tiba-tiba padam karena lowbath.
"Baterai aku habis. Pakai hp kamu aja ya."
Tapi Dira tak menjawab, dia justru semakin mengeratkan tangannya memeluk lutut kakinya sendiri.
"Ra," Rasya menyentuh pundak Dira yang membuat Dira berjingkat. Napas Dira semakin terdengar sesak. "Ra, kamu kenapa?"
"Saya takut gelap, Pak. Kalau ada di dalam ruangan gelap dada saya sesak."
"Hp kamu mana? Sini aku ambilkan." Ingin Rasya meraih tas Dira tapi saat menyentuh tangan Dira, tangannya begitu dingin. "Ra??" Dalam keadaan gelap seperti itu, Rasya tak bisa memastikan bagaimana keadaan Dira. "Ra, kamu gak papa kan?"
"Saya..."
Seketika Rasya meraih tubuh Dira yang mulai melemas. Badan Dira bergetar dengan punggung yang telah basah oleh keringat dingin. Rasya memeluk tubuh itu meski dengan detak jantungnya yang tidak bisa terkontrol. Hanya ini yang bisa dia lakukan.
"Kamu jangan takut. Ada aku di sini. Maaf, aku peluk kamu..."
Sedangkan diluar lift, beberapa karyawan Rasya nampak panik, karena sampai 30 menit lift belum juga bisa diperbaiki.
"Pak, bisa cepat gak? Pak Rasya bisa kehabisan oksigen di dalam." Nana begitu panik sambil menunggu di depan lift bersama Doni.
"Pak Rasya di dalam sama Dira kan? Hp Pak Rasya juga tidak aktif."
Nana semakin histeris. "Aduh, Pak. Gimana ini kalau Pak Rasya sampai kenapa-napa? Jangan sampai nanti ada berita sepasang bos dan sekretaris nya terjebak di lift dan kehabisan oksigen. Aaa, mereka kan bukan pasangan."
Seketika Doni membekap mulut Nana agar tidak berisik. "Bisa diam gak!! Itu teknisi lagi fokus benerin. Jangan sampai salah potong kabel gara-gara suara kamu!"
Nana justru menggigit tangan Doni. "Iya aku diam! Gak usah pegang-pegang mulut aku."
"Aw!! Sadis!! Pantas Pak Rasya ogah sama kamu!!"
"Eh, dalam keadaan genting kayak gini gak usah bawa-bawa perasaan." Nana pun terdiam sambil berjalan ke kanan ke kiri tak beraturan.
__ADS_1
Doni menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nana. Cantik tapi kelakuan minus.
Di dalam lift, udara semakin terasa pengap. Bahkan Dira yang berada dalam dekapan Rasya semakin sesak napas.
Bayangan buruk terlintas lagi di benak Rasya. Dia tidak mau hal itu terulang lagi untuk kedua kalinya.
Ra, kamu harus bisa bertahan.
Dia tidak berbicara apa-apa lagi agar oksigen tidak semakin berkurang.
Beberapa saat kemudian lampu lift menyala dan lift pun bergerak ke atas.
Rasya menatap wajah Dira yang sangat pucat. "Ra?" Tidak ada sahutan dari Dira.
Tepat saat pintu lift terbuka Rasya langsung mengangkat tubuh Dira keluar dari lift.
"Pak, Dira kenapa? Perlu dipanggilkan Dokter?"
Rasya berjalan cepat menuju ruangannya dan menurunkan dia di sofa ruang kantornya.
"Iya, panggilkan dokter sekarang! Takut saturasinya menurun, barusan dia sesak napas."
Doni bergegas menelepon Dokter yang bekerja di klinik sebelah.
"Na, ambilkan kotak p3k," suruh Rasya pada Nana yang sedari tadi mengikuti mereka.
"Iya, Pak."
Nana segera mengambil kotak p3k yang berada di dekat ruangan bosnya itu. Tapi saat dia membalikkan badan dan berjalan mendekat, dia menyaksikan pemandangan dengan sisi lain yang berbeda dari Rasya.
Rasya memangku kepala Dira dan mengusap lembut rambutnya. Apa es kutub telah mencair? Apa Rasya juga mau menjadi pebinor?
Nana meletakkan kotak p3k cukup keras hingga membuat Rasya kini menatap Nana.
"Apa perlu saya pingsan dulu biar diperhatikan Pak Rasya kayak gitu?!"
"Na, bukan saatnya main drama," kata Rasya sambil meraih minyak kayu putih lalu dia oles di pelipis Dira.
Doni yang mendengar hal itu seketika tertawa. "Na, bukan saatnya main drama." Doni menirukan omongan Rasya lalu dia berlari keluar dari ruangan Rasya karena akan mendapat serangan dari Nana.
__ADS_1
Rasya tidak menggubris tingkah mereka, dia memijit pelan pelipis Dira sambil menuggu Dokter datang.
Dira mulai membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah Rasya. Seketika dia bangun dari pangkuan Rasya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia seolah akan pingsan untuk yang kedua kalinya...