Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Awal Kebahagiaan


__ADS_3

"Temani aku ke kafe dulu ya. Nanti agak siang aku antar ke toko."


Pagi itu Alvin mengendarai mobil barunya bersama sang istri. Wajahnya nampak begitu berseri dan segar. Jelaslah, sekarang dia sudah mempunyai partner tidur setiap hari.


Rili menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. "Biarin Mami dibantu sama Papi dulu."


"Iya, biar mereka tambah bucin." Alvin tertawa mengingat tingkah laku mertuanya itu di acara pernikahannya. Iya, sangat posesif.


Beberapa saat kemudian, Alvin menghentikan mobilnya di tempat parkir kafe khusus karyawan. "Udah berasa bos beneran kalau ke kafe bawa mobil,"


"Emang biasanya apa?"


"Pacarnya Rili, sekarang udah jadi suami." kekeh Alvin sambil keluar dari mobil.


"Ih, bisa aja." Rili menggandeng tangan Alvin sambil berjalan masuk ke dalam kafe yang baru buka.


"Wih, pengantin baru udah datang. Udah rela ninggalin kamar," sambutan Adit membuat karyawan lain menatap pada Alvin dan Rili.


Baru kali ini Alvin tersenyum malu. Belum lagi lehernya yang masih terlihat merah karena hasil karya Rili. Sudah diupayakan ditutup dengan krah kemeja tapi masih saja terlihat.


"Widih, lehernya pada merah-merah oey." Si Malik tukang rusuh sudah jelas bisa menangkap tanda merah di leher bosnya itu.


Seketika Rili menutupi lehernya juga dengan rambut panjangnya.


"Udah berapa ronde ini? Wih, udah berubah jadi vampir mereka."


Tawa dari para karyawannya pecah. Wajah Alvin sudah semakin memerah. Baru kali ini seorang bos digoda habis-habisan oleh anak buahnya dan baru kali ini juga Alvin tidak bisa memarahi mereka.


Alvin menaikkan krah kemejanya lagi lalu membawa Rili ke kantornya. "Sayang, kamu tunggu sini ya. Aku mau cek dapur dulu soalnya nanti malam ada acara ulang tahun anaknya Pak Camat."


"Iya."


Alvin keluar dari kantornya dan langsung menemui Adit. "Gimana persiapannya?"

__ADS_1


"Sudah 50 persen. Nanti biar aku sama Aksa yang atur dekornya. Kamu tenang aja, fokus dulu sama bulan madunya. Yang penting akhir bulan aku dapat bonus."


Mereka tertawa bersama sambil mengecek bahan-bahan yang ada di dapur dan sudah siap diolah.


"Sumpah, lihat cu pang lo pikiran gue jadi travelling. Ganas juga."


Alvin yang kadar malunya memang sedikit itu justru tertawa lebar. Meski dia sudah menaikkan krah kemejanya tapi tetap saja tanda merah dari istri nakalnya itu terlihat dan semakin jelas karena semalam vampir itu beraksi lagi. "Makanya cepat nikah sana." Alvin memelankan suaranya. "Yang nakal dan agresif itu lebih mantap."


Perkataan Alvin membuat badan Adit merinding. Hampir saja dia terkena sawan.


"Gue harus pepet Nana terus ini. Usaha. Usaha. Usaha." Adit memberi semangat pada dirinya sendiri.


Alvin hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya ini. "Sebentar aku mau antar Rili ke toko nanti balik lagi." Alvin mengambil beberapa tempat makan dan mengisinya. Kali ini dia mengisinya dengan menu sehat, tidak hanya protein saja tapi juga lengkap dengan sayuran.


"Spesial makan siang buat istri tercinta. Menu sehat biar tambah kuat," goda Adit.


"Iya dong. Bukan hanya cinta yang diberi tapi juga makan. Itu penting nomor satu." Iya, mulai dari pacaran dulu, memang bukan hanya cintanya yang diberi untuk Rili tapi juga makanan. Apalagi wanita yang sekarang telah menjadi istrinya itu sangat doyan makan. Benar-benar menjadi keistimewaan tersendiri bagi Alvin.


...***...


Seperti biasa, Fandi selalu menyapanya dengan senyum yang mengembang. "Mau balik??" tanya Fandi sambil menjabat tangan Rasya sesaat.


"Iya, baru ketemu client. Kapan nih pertunangannya?" tanya Rasya yang memang belum tahu kenyataan sebenarnya.


Fandi menautkan alisnya bingung. "Dira belum bicara sama kamu?"


Rasya menggelengkan kepalanya. "Ya udah aku duluan ya."


Rasya akan melangkahkan kakinya tapi dicegah oleh Fandi. "Aku mau ngobrol sama kamu. Ada waktu?"


"Iya, bisa. Sebentar." Rasya berbicara sesaat pada Doni. "Don, kamu balik ke kantor saja ya. Aku masih ada perlu sama Fandi. Nih, kunci mobilnya."


"Saya tunggu di mobil saja Pak, tidak apa-apa."

__ADS_1


"Ya sudah." Rasya berjalan kembali mendekati Fandi. Mereka kini kembali masuk ke dalam restoran. "Kamu saja yang pesan, aku sudah makan." tolak Rasya saat Fandi juga akan memesankan makanan dan minuman untuknya.


"Aku mau bicara soal kamu dan Dira."


"Aku?" Rasya masih tak mengerti dengan maksud Fandi. Apakah dia sudah mengerti tentang perasaannya?


"Iya, sebenarnya setelah aku sadari dalam hubungan ini, aku yang jadi orang ketiga." Fandi melipat tangannya sambil melanjutkan ceritanya. Meski hatinya sudah terluka tapi menyatukan seseorang yang saling mencintai adalah kebahagiaan tersendiri.


"Maksud kamu?"


"Sudahlah, kamu tidak perlu berpura-pura lagi. Aku tahu, Dira cinta pertama kamu. Bahkan sampai sekarang kamu juga masih mencintainya kan?"


Rasya hanya terdiam karena itu memang benar.


"Dan Dira juga masih mencintai kamu. Kalian saling mencintai, jadi harusnya bisa menyatu. Tidak ada tempat untuk orang ketiga seperti aku."


Rasya tersenyum simpul. "Tapi kamu yang lebih berhak atas Dira karena kamu yang telah dijodohkan."


"Masih bisa kamu bilang kayak gitu? Aku udah bilang sama orang tua aku kalau pertunangan ini batal. Kita tidak saling mencintai. Percuma aku menahan Dira dengan status kalau hatinya mencintai pria lain."


Rasya membulatkan matanya. Dia cukup terkejut dengan keputusan Fandi.


"Maaf, aku gak bermaksud merusak pertunangan kamu."


"Tidak, mungkin ini memang jalan takdirnya. Karena dari awal aku memang udah tahu, Dira hanya berkompromi tidak ada perasaan apapun sama aku. Dan kali ini waktu menjawabnya sudah. Aku senang karena pria yang Dira pilih adalah kamu. Sudah pasti Dira akan bahagia sama kamu."


Fandi menghela napas panjang. "Ya sudah, aku tunggu kabar baik dari kamu. Jangan buang waktu lagi, karena kamu dan Dira sudah terpisah bertahun-tahun, langsung saja lamar dia." Fandi tertawa kecil. Mendadak dia berkata seperti orang bijak padahal hatinya sendiri terluka.


"Kamu serius merelakan Dira?"


"Dira itu jodoh kamu yang justru aku pinjam dari kecil." Fandi tertawa lalu dia meneguk minumannya yang baru diantar oleh waitress. "Kamu duluan saja tidak apa-apa. Kasihan anak buah kamu menunggu di mobil. Aku juga lagi nunggu teman."


Mereka berdua berdiri dan saling berpelukan sesaat dengan tepukan di punggung masing-masing. "Thank you brother."

__ADS_1


Fandi tersenyum. "Good luck."


Rasya berjalan keluar dari restoran. Seulas senyum mengembang. Apakah ini awal dari kebahagiaannya?


__ADS_2