
Di sebuah taman menjelang siang hari itu, Zaki berjalan cepat menuju seseorang yang telah menunggunya.
"Ada apa kamu ngotot minta ketemuan sama aku?"
"Duduk dulu." Citra justru mempersilahkan Zaki untuk duduk di sebelahnya.
"Aku gak mau basa-basi. Kamu gak usah cari alasan yang seolah-olah aku yang bersalah dalam hubungan kita. Udah jelas-jelas kamu yang jalan sama cowok lain." Zaki membuang napas kasar.
"Iya, aku minta maaf. Aku janji gak akan gini lagi."
"Gak perlu!!"
Sikap acuh Zaki semakin membuat Citra kesal. Dia kini berdiri dan menatap tajam Zaki. "Oke, fine. Kalau kamu memang gak mau sama aku. Bilang sama Ayah kamu sendiri. Karena yang memaksa aku untuk bertemu kamu itu Ayah kamu."
"Kalau kamu memang mau sama aku, harusnya kamu gak jalan sama cowok lain. Aku sudah berusaha menerima dan mencintai kamu. Tapi nyatanya..."
"Karena kamu gak pernah ada waktu buat aku. Kamu sibuk dengan dunia kamu sendiri." Citra membalikkan badannya lalu dia pergi meninggalkan Zaki.
Zaki berdengus kesal, dia kini duduk dengan kasar di kursi taman. Sudah tiga kali dia dikhianati seperti ini.
Dia usap wajahnya. Apa ini kutukan untuknya? Dia teringat saat Rili tiba-tiba menuduhnya berselingkuh. Padahal dia tidak pernah melakukan hal itu. Dia telah dijebak.
Sejak saat itu seolah karma terus mengikutinya. Setiap dia berpacaran, dia selalu dikhianati. Sampai yang ketiga kalinya hubungannya dengan Citra. Bahkan perjodohan yang dia setujui pun berakhir dengan pengkhianatan.
Zaki berdiri, dia berjalan menuju tempat parkir dan segera menaiki mobilnya. Beberapa saat kemudian, mobil Zaki mulai melaju.
Pikirannya yang sedang tidak karuan dengan deadline pekerjaan yang kian menumpuk membuatnya tidak begitu fokus dengan jalanan siang itu.
Saat di pertigaan, tiba-tiba dia menabrak sebuah motor. Seketika Zaki menghentikan mobilnya. Dia keluar dan melihat seorang gadis dengan kaki yang tertindih motornya.
"Astaga, maaf. Kamu gak papa?" Zaki berusaha menarik sepeda motornya lalu meminggirkannya. Beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu juga ikut membantu.
Gadis itu meringis kesakitan. Banyak luka lecet di tangannya.
"Kamu.." Zaki terkejut saat melihat gadis itu.
"Kak Zaki..." Dea tersenyum kecil meski kaki dan tangannya sangat sakit.
Zaki membantu Dea berdiri tapi Dea semakin meringis kesakitan.
"Aw, sakit banget."
"Kaki kamu sakit? Kita ke rumah sakit sekarang." Zaki segera menggendong Dea dan membantunya masuk dalam mobil. Setelah itu dia bergegas menitipkan motor Dea di toko dekat jalan itu lalu kembali ke dalam mobilnya.
"Sabar ya. Aku segera bawa kamu ke rumah sakit." Zaki segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Beberapa saat kemudian Zaki sampai di rumah sakit. Dia segera membawa Dea ke IGD.
Selama menunggu pemeriksaan, Zaki menghubungi Alvin.
...***...
Adit tersenyum menatap balutan perban yang menempel di tangannya. Dadanya masih saja berdebar-debar membayangkan setiap sentuhan lembut dari Nana kemarin.
__ADS_1
"Dit, kan aku udah bilang kalau kamu mau izin gak masuk kerja gak papa."
Perkataan Alvin seketika membuat Adit menolehnya. "Aku gak papa. Cuma luka kecil doang."
"Ya udahlah. Kamu cek semua stok bahan-bahan ya. Aku mau tidur dulu di kantor."
"Wah, makanya jangan lembur semalaman. Untung bos."
Alvin berlenggang masuk ke dalam kantor. Dia kembali merebahkan dirinya di sofa. Berolahraga pada malam hari memang membuatnya lelah dan cepat mengantuk. Sepertinya dia membutuhkan suplemen.
Baru saja dia terlelap dan akan bertemu Rili dalam mimpinya, tiba-tiba ponselnya berbunyi beberapa kali.
Alvin meraih ponselnya dengan malas. "Zaki?" Kemudian Alvin mengangkat panggilan Zaki.
"Ada apa Zak?" Dia mengira panggilan Zaki berkaitan dengan pekerjaan tapi ternyata tidak. "Apa? Dea kecelakaan. Ya udah, aku segera ke sana."
Alvin langsung berdiri. Dia meraih kunci mobilnya dan keluar dari kantor.
"Dit, aku tinggal dulu ya. Dea kecelakaan."
"Hah? Adik imut kamu kecelakaan! Semoga gak kenapa-napa."
Alvin tak menanggapi lagi perkataan temannya. Dia segera menghubungi kedua orang tuanya lalu masuk ke dalam mobil.
Beberapa saat kemudian mobil Alvin melaju menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Alvin segera berlari menuju IGD. Saat di depan pintu IGD rasa khawatirnya tiba-tiba berubah jadi rasa kesal. Dia berjalan mendekati adiknya yang sedang tersenyum menatap Zaki. Dia cubit hidung mancung itu.
"Ih, Mas Alvin." Dea menepis tangan Alvin. "Nih, kaki aku yang sakit. Gak boleh gerak dulu sampai tiga hari."
"Kenapa bisa jatuh? Kamu ngebut kalau bawa motor? Kebiasaan." omel Alvin. Meskipun dia sering bertengkar dengan adiknya, tapi dia sangat menyayanginya.
"Bukan. Ini salah aku," kata Zaki. "Aku tadi yang kurang fokus menyetir sampai gak sengaja nabrak adik kamu."
"Tuh, dengerin."
"Ya udah, lalu kata dokter kenapa?"
"Hanya keseleo. Tidak boleh bergerak dulu selama tiga hari."
Alvin menghela napas panjang. "Gak perlu rawat inap kan?"
"Nggak. Sudah boleh pulang sekarang. Sebentar aku urus administrasinya dulu."
"Gak perlu. Biar aku saja."
"Ini salah aku, jadi aku yang harus tanggung jawab." Zaki akan melangkahkan kakinya tapi terhenti karena panggilan Dea.
"Kalau jadi kaki aku selama belum bisa jalan, Kak Zaki mau gak? Sebagai bentuk tanggung jawab."
Zaki tak menjawabnya, kemudian dia kembali melangkahkan kakinya.
Alvin menjitak kecil kepala adiknya. "Itu sih maunya kamu."
__ADS_1
"Ih, Kak Alvin. Kasar banget sama adiknya."
Beberapa saat kemudian, kedua orang tua Alvin datang.
"Dea, kok bisa kecelakaan? Apanya yang luka?" tanya Bu Gita sangat khawatir.
"Cuma keseleo aja Ma. Jadi gak boleh gerak dulu selama tiga hari."
"Kok bisa kamu sampai jatuh?"
Beberapa saat kemudian Zaki datang. "Sudah boleh pulang sekarang."
"Loh Zaki. Anaknya Pak Heru ya?" tanya Pak Iwan yang memang telah mengenal orang tua Zaki sebagai pemilik event organizer.
"Iya Om. Maaf, saya yang tidak sengaja menabrak Dea."
"Iya, yang penting kamu sudah mau bertanggung jawab. Ya sudah kita pulang sekarang."
Alvin berniat menggendong adiknya tapi urung karena Dea terus mendumel.
"Kak, pelan-pelan."
"Duh, bilang aja kalau gak mau." Alvin menjauh untuk meminjam kursi roda.
Zaki mendekat dan meraih tubuh Dea lalu mengangkatnya.
Dea tersenyum bahagia. Bahkan tangannya saja melingkar ke leher Zaki. Tapi saat Zaki baru saja melangkah, Alvin menghentikan kursi roda di depan Zaki.
"Jangan digendong. Nih aku udah pinjam kursi roda. Keenakan dia."
Seketika Dea memanyunkan bibirnya saat Zaki benar-benar menurunkannya di kursi roda.
"Kak Alvin resek banget. Gak bisa lihat adiknya seneng dikit."
"Heh, gak boleh. Belum muhrim."
"Hilih."
Bu Gita sedari tadi tertawa melihat anak-anak muda itu. Dia kini menggantikan posisi Alvin mendorong kursi roda.
"Sama Mama aja. Jangan berantem terus."
Saat akan mengikuti mereka tiba-tiba ponsel Zaki berbunyi. Dia segera mengangkatnya. "Iya Ma... Apa? Papa masuk rumah sakit? Iya sekarang aku ada di rumah sakit juga."
Zaki mematikan panggilannya lalu berpamitan pada keluarga Dea. "Maaf, saya gak bisa ikut ke rumah. Besok pasti saya berkunjung untuk melihat keadaan Dea."
"Papa kamu sakit?"
Zaki menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah semoga lekas sembuh."
"Terima kasih." Zaki segera memutar langkahnya. Dia berlari menuju tempat pemeriksaan Papanya di poli penyakit dalam.
__ADS_1