Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Wellcome Arsyad


__ADS_3

"Sayang aku yakin kamu bisa..."


Pagi itu, Dira akhirnya berangkat ke rumah sakit karena jeda kontraksi semakin sering. Kini Dira sudah berada di ruang bersalin bersama Rasya dengan pembukaan yang telah penuh.


Berkali-kali Rasya mengusap peluh yang membasahi pelipis Dira lalu menggenggam tangannya dengan erat saat dorongan itu semakin terasa kuat.


Dira berusaha mengejan sesuai arahan dari dokter yang menangani.


"Sakit..." Dira sampai menggertakkan giginya. Rasa sakit itu bagai tulang-tulang tubuh yang dipatahkan secara bersamaan.


"Iya sayang. Kamu pasti bisa. Sedikit lagi. Ayo..." Meski rasanya Rasya sudah tidak sanggup melihat Dira yang sangat kesakitan, dia harus tetap bisa menguatkannya. Memberinya semangat dan dukungan kasih sayang.


Ketika dorongan itu semakin kuat, Dira mengerahkan seluruh tenaganya, dan beberapa detik kemudian tangisan bayi untuk pertama kali begitu indahnya terdengar memenuhi ruangan itu.


"Kamu hebat." Satu kecupan hangat mendarat di kening Dira.


Bayi yang mungil dan masih merah itu kini diletakkan di atas dada Dira untuk melakukan IMD dan skin to skin untuk yang pertama kalinya.


Air mata bahagia itu meleleh dari kedua mata Rasya dan Dira.


"Hai, Arsyad." Bayi tampan berjenis kelamin laki-laki itu bergeliat gemas di atas dada Dira. Bibirnya bergerak mencari sumber kehidupannya untuk yang pertama kalinya.


"Semoga kelak kamu menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, terutama sama mama, yang telah berjuang sekuat tenaga agar kamu terlahir di dunia ini." Rasya mengusap lembut pipi merah itu. "Jadi orang yang bijaksana dan pintar dalam segala hal. Seperti nama kamu, Arsyad... Arsyad Aditya..."


...***...


"Mas, lucunya..." Rili langsung menggendong putra Rasya yang baru lahir beberapa jam itu saat datang menjenguk di rumah sakit.


"Ganteng. Tapi kok mirip Papi Rizal." Perkataan Alvin seketika membuat Rasya dan orang tua Dira kembali mengamati.


Sedangkan Papi Rizal dan Mami Lisa masih duduk dengan santai. "Iyalah, gen Aditya nurun dengan kuat."


"Ini sih mirip Rasya. Darimana ceritanya bisa mirip kakek tuanya." Papa Dewa tak setuju dengan pendapat itu. Dia tidak mau kalah dengan besan yang rasa sahabat itu.


"Eh, aku opa, kamu yang kakek tua. Enak aja."


Kedua kakek baru itu justru berdebat perihal siapa yang tua diantara mereka padahal sama-sama sudah tua meski sama-sama masih tampan dan berkharisma.

__ADS_1


"Udahlah sama-sama tua, harap mengalah," ucapan Mami Lisa membuat tawa renyah mereka. "Udah jadi aki-aki juga."


Rasya kembali duduk di dekat brangkar Dira. "Kamu mau makan lagi?"


Dira menggelengkan kepalanya. "Barusan kan habis makan. Nanti aja."


"Ya udah kamu istirahat dulu mumpung Arsyad masih tidur. Nanti dua jam lagi aku bangunin ya." Rasya mulai mengusap lembut rambut Dira agar dia beristirahat. "Makasih untuk semuanya."


Dira tersenyum dengan tulus. "Sama-sama Kak. Makasih juga sudah menemani aku berjuang..."


...***...


Sore itu, Dea menghentikan motornya di depan kafe kakaknya. Dia berjalan cepat masuk ke dalam kafe karena ada seseorang yang terus mengejarnya dari kampus.


"Dea..." Pria itu berhasil menahan tangan Dea.


"Vito, ngapain lo ngejar gue sampai sini!!"


"Please, kasih kesempatan gue buat dekat sama lo."


"Ada apa?" tanya Zaki bingung karena Dea terus memaksanya untuk mengikutinya.


"Aku udah punya calon suami, udah kamu jangan kejar aku terus." tunjuk Dea pada Zaki.


Vito menautkan alisnya. Mana mungkin tiba-tiba Dea memiliki calon suami. Selama ini Dea jomblo, meski banyak yang mengejarnya tapi Dea sangat pemilih. "Gak mungkin, lo bohong kan?"


"Nggak!" Dea menoleh Zaki yang juga menatapnya. "Iya kan Mas Zaki?"


Zaki terdiam beberapa saat. Lalu dia meluruskan pandangannya dan satu tangannya merengkuh pundak Dea. "Iya, aku calon suami Dea. Ada apa?"


Vito hanya terdiam lalu dia membalikkan badannya meninggalkan Dea.


"Makasih Mas Zaki," kata Dea. Dia tahu, Zaki hanya berpura-pura.


"Dea," kini Zaki yang berganti menarik tangan Dea dan mengajaknya duduk jauh dari Alvin.


Meski sebenarnya ingin tahu, tapi Alvin menahan niatnya untuk mendekat. Dia justru berdiri dan masuk ke dalam kantor. Mungkin ada satu hal yang ingin diselesaikan oleh mereka.

__ADS_1


"Ada apa Kak? Maaf, jangan marah. Aku cuma gak mau dia terus kejar-kejar aku." Dea merasa takut juga. Siapa tahu dibalik kalemnya Zaki ada sebuah kemarahan yang besar.


"Tidak apa-apa." Zaki menghela napas panjang. Dia kini memikirkan Ayahnya. Dia sudah berjanji pada Ayahnya untuk segera menikah. Apa gadis yang ada di dekatnya saat ini adalah pasangan yang cocok dan tepat untuknya?


"Hmmm..." Zaki masih nampak berpikir. "Kalau seandainya kamu menikah dengan aku apa kamu mau?"


Jelas saja hal itu membuat Dea sangat terkejut. "Hah? Yang benar saja? Mas Zaki bercanda?"


Zaki menggelengkan kepalanya. "Aku sebenarnya sedang mencari jodoh tapi aku gak ada waktu untuk mencarinya. Pekerjaanku sangat banyak."


Dea tertawa cukup keras. Pria yang ada di dekatnya itu terlalu jujur dan tidak ada sisi romantisnya.


"Kok malah ketawa?"


"Mas Zaki mau cari jodoh kayak cari barang aja, pakai bilang gak ada waktu segala. Gini aja, Mas Zaki ada perasaan gak sama aku? Okelah, memang lebih bagus kita ta'aruf an tapi paling gak, ada gak sedikit rasa suka sama aku?"


Zaki terdiam beberapa saat lalu dia menghela napas panjang. "Iya, aku suka sama kamu. Aku gak mungkin ajak kamu menikah kalau aku gak tertarik sama kamu."


Senyum Dea semakin mengembang.


"Kita saling dekat dulu ya selama 6 bulan sampai kamu lulus kuliah setelah itu baru kita merencanakan pernikahan. Tapi aku ingin kamu menemui orang tua aku dulu."


Hati Dea semakin berbunga-bunga. Ini nyata atau hanya mimpi? "Ini kenyataan kan Mas? Mas Zaki serius kan?"


"Iya. Hal kayak gini gak bisa dibuat bercanda."


"Iya Mas aku setuju." Dea kini berdiri dan sedikit berlari menuju kantor. Dia buka kantor itu cukup keras hingga membuat Alvin yang sedang merebahkan dirinya di sofa terkejut.


"Dea, bisa pelan gak! Aduh, kepala aku pusing." Alvin duduk secara perlahan sambil menekan ujung hidungnya.


"Eh, maaf Pakmil." Dea tak hentinya tersenyum lalu berjalan mendekat dan langsung memeluk kakaknya. "Mas Alvin, aku tuh senang banget Mas Zaki akhirnya ngajak nikah."


"Hah? Kamu mimpi?"


"Nggak, aku serius. Tanya sendiri sama Mas Zaki."


Alvin tersenyum, akhirnya adik satu-satunya itu mendapatkan lelaki yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2