
Beberapa saat kemudian Papi Rizal masuk ke dalam mobil dengan membawa satu kantong plastik hitam yang lumayan besar.
"Papi, ini kok banyak banget?" tanya Rili
"Gak papa. Ini perlengkapan kamu dan Alvin. Kamu lihat ya, kayaknya itu yang biasanya dibelikan Rasya buat kamu dulu." Papi Rizal memberikan kantong plastik itu pada Rili dan Alvin.
Ada obat lambung, aneka permen asem, lima toples manisan mangga kering, dan juga lima kardus susu untuk ibu hamil.
"Ingat bang Rasya, jadi pengen dibeliin bakso Bang Rasya juga."
Seketika Rili melirik Alvin cukup tajam. Ini dibuat-buat atau memang ngidam?
Papi Rizal mulai melajukan mobilnya. "Jangan, Rasya lagi sensitif. Gak bisa diganggu."
"Haduh."
Rili memutar bola matanya. Lucu juga melihat pakmil yang sedang ngidam seperti ini.
"Nanti sampai rumah aku telepon Kak Rasya biar dibelikan. Kalau sama aku pasti gak akan marah."
Alvin tersenyum lalu kembali bersandar di bahu Rili.
"Jangan-jangan Mas Alvin juga pengen masakannya Mas Adit juga "
Perkataan Rili seolah membangunkan seleranya untuk makan masakan Adit.
"Aku kok jadi pengen gini ya. Nanti telepon Adit suruh masak."
Rili menautkan alisnya menatap Alvin tak percaya. "Mas Alvin beneran pengen?"
Alvin menganggukkan kepalanya.
"Rili, jangan bilang makanan lagi, nanti semua yang kamu sebut ingin dimakan sama Alvin," goda Papi Rizal yang sedang mengemudi.
...***...
Setelah sampai di rumah, Rili memang langsung menghubungi Rasya meminta dibelikan bakso karena dia merasa kasihan pada Alvin yang sedari pagi tidak mau makan.
"Mas, udah enakan?" tanya Rili. Mereka berdua kini duduk di sofa ruang tengah.
"Dikit." Alvin menarik Rili dalam pelukannya. "Sini kamu tiduran aja."
"Aku gak papa Mas. Mas Alvin aja yang istirahat."
"Ya kamu dong. Kan kamu yang hamil. Aku gak papa."
"Mas, makasih ya udah mau ngerasain ini semua." Rili semakin bersandar di dada Alvin.
__ADS_1
"Iya sayang. Justru ini yang aku inginkan. Merasakan apa yang kamu rasakan dulu. Aku aja sampai kayak gini, gimana kalau kamu yang rasain. Sekarang kamu fokus sama kesehatan kamu dan calon anak kita." Lagi-lagi Alvin mengusap lembut perut Rili. "Sehat-sehat kalian berdua."
Rili tersenyum dan mengikuti gerakan tangan Alvin di atas perutnya.
Beberapa saat kemudian Rasya datang bersama Dira dengan membawa bakso sesuai pesanan Rili.
Alvin melepas pelukannya saat Rasya datang.
"Kamu hamil?" tanya Rasya sambil memeluk adiknya sesaat.
"Iya kak."
"Selamat. Aku ikut senang." Rasya menaruh bakso itu di atas meja lalu duduk bersebelahan dengan Dira.
"Selamat ya Rili. Nanti anak kita sepantaran," kata Dira sambil mengusap sesaat perutnya yang sudah terlihat.
"Iya, mungkin selisih 4 bulan ya.."
Alvin mengambil mangkok dan langsung membuka bakso yang dibawa Rasya. "Kok cuma satu?"
"Kan biasanya kamu gak suka jadinya aku belikan buat Rili aja."
"Mas makan aja gak papa."
Alvin langsung memakannya karena perutnya memang sangat lapar tapi harus menemukan makanan yang cocok, baru perutnya bisa menerima makanan.
"Aku yang pengen," jawab Alvin dengan mulut yang penuh makanan.
"Tahu gitu gak aku beliin." Si Pakmil satu ini masih saja sensitif. Dia kini meraih toples yang berada di atas meja lalu memakannya.
"Eh, itu punya aku kenapa dimakan?!" Alvin juga tidak rela manisan mangga keringnya dimakan Rasya.
"Minta dikit. Lagian ini punya Rili kan?"
Rili tertawa kecil. "Itu punya Mas Alvin. Jadi sebenarnya yang ngerasain ngidam itu Mas Alvin."
"Kualat sama istri!" Rasya meletakkan kembali toples itu.
"Kayak Bang Rasya nggak aja."
"Aku gak kepingin apa-apa."
"Tapi sensi."
Kedua bumil ini tertawa melihat tingkah konyol suaminya.
...***...
__ADS_1
"Mas, gak usah ke kafe kalau gak enak badan."
Pagi itu, Alvin masih saja mual muntah. Sepertinya dia harus mulai terbiasa dengan keadaannya. Karena nyatanya, dia sudah meminum obat lambung tapi hanya mereda sesaat, setelah itu kambuh lagi.
"Gak papa sayang. Aku juga harus mulai membiasakan diri, kan gak tahu sampai kapan morning sickness nya."
Rili memeluk Alvin dari samping. "Makasih ya Mas."
"Makasih lagi.." Alvin membalas pelukan Rili. "Kita sama-sama berjuang ya sayang." Satu kecupan dalam mendarat di puncak kepala Rili.
"Iya Mas. Mas hati-hati ya. Pakai masker kalau mual bau masakan."
"Oiya, untung kamu ingatin. Sementara chef pensiun dulu masak." Alvin tertawa lalu melepas pelukannya dan mengambil masker untuk dipakainya. "Aku berangkat ya. Jangan lupa istirahat yang teratur." Alvin mencium pipi kanan, pipi kiri, lalu bibir Rili.
"Iya Mas." Rili mengantar Alvin sampai depan rumah. Dia lambaikan tangannya seiring kepergian mobil Alvin.
Beberapa saat kemudian mobil Alvin berhenti di tempat parkir kafenya. Dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam kafe.
"Dit, kamu ya masak hari ini!
Adit meloading beberapa saat. "Buat Rili?"
"Buat aku," jawab Alvin singkat.
"Tumben?"
Alvin justru tersenyum sambil masuk ke dalam dapur kafe. Tak lupa memakai maskernya.
"Kamu flu?" tanya Adit lagi begitu ingin tahu.
Alvin menggelengkan kepalanya. "Perut aku gak enak kalau cium bau masakan."
"Kamu ngidam?" Adit tertawa dengan keras yang diikuti karyawan lain saat tak sengaja mendengar obrolan mereka.
"Jangan ketawa!!"
"Itu namanya kualat sama istri. Makanya jangan kebanyakan gaya lo!!" Ejek Adit. Dia memang sangat suka membuat kesal sahabatnya itu.
"Sial lo!! Ini namanya cinta dan sayang sama istri."
"Bucin parah lo! Mau masak apa? Gue masakin daripada anak lo ileran."
"Terserah lo. Tapi yang enak." Alvin berlenggang menuju kantornya karena perutnya terasa tidak enak lagi.
"Kalau mau enak ya masak sendiri sana." teriak Adit meski kini tangannya meraih beberapa bahan masakan.
Alvin sudah tak menyahuti, dia kini sudah masuk ke dalam kantornya untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1