
"Kamu kemana?" Alvin sangat khawatir. Dia kembali masuk ke dalam rumah sakit setelah mampir sebentar ke apotek yang berada di depan rumah sakit untuk membeli susu formula Ayla sesuai rekomendasi Dokter. Lalu mencoba mencari lagi dengan teliti di setiap sudut. Dia yakin Rili belum keluar dari rumah sakit.
Alvin menghela napas lega saat melihat Rili sedang duduk di bawah tangga sambil menangis.
"Sayang, aku cariin kamu..." Alvin duduk di sampingnya dan merengkuh tubuh itu.
"Lepasin Mas." Rili mendorong dada Alvin agar menjauh darinya.
Alvin tidak mau memaksa. Dia tahu Rili sedang marah dengannya.
"Tuh kan Mas. Ayla jadi minum sufor. Mas tega, gak mikir akibatnya kayak gimana!"
Alvin kembali menghela napas panjang. Di posisi ini, selalu lelaki yang salah. Meski saat melakukannya Rili sangat menikmati bahkan kadang minta lagi tapi, sudahlah, tidak perlu membahas soal itu. Lebih baik Alvin mengalah saja.
"Oke, maafin aku. Kamu boleh marah sama aku, tapi please biarkan anak kita yang ada di perut kamu bertahan. Ayla tatap mendapatkan kasih sayang dari kita begitu juga dengan janin yang ada di perut kamu, mereka sama-sama anak kita."
Rili menghapus air matanya asal.
"Sekarang kita pulang ya, kamu istirahat. Sementara kita tinggal saja di rumah Mami, biar kamu lebih tenang dan nyaman."
Rili menutup mulutnya karena sedari tadi dia menahan rasa mualnya.
Alvin mengambil permen yang memang sengaja dia bawa untuk Rili dan dibukanya. "Makan permen dulu biar gak mual."
Rili mengambil permen itu dan memakannya. Tanpa berkata lagi, dia berdiri dan berjalan mendahului Alvin.
Lagi, Alvin hanya mengikuti kemauannya. Yang penting sekarang dia mau pulang bersamanya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Rili masih saja membuang pandangannya dari Alvin. Baru kali ini Rili benar-benar marah sampai mendiamkannya.
Sabar.
Satu kata itu yang Alvin tekankan dalam hatinya. Dia tidak mau emosinya ikut terpancing.
Sampai di rumah Rili, dia turun tanpa lagi menunggu Alvin dan langsung masuk ke dalam rumah. Buru-buru Alvin mengikutinya dengan membawa barang-barangnya.
Mami Lisa dan Papi Rizal yang sedang bersama Ayla sampai terkejut melihat kedatangan Rili.
"Sayang, gimana periksanya? Kamu sakit apa?" tanya Mami Lisa.
Rili tak menjawab. Dia masuk ke dalam kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Sepertinya memang Alvin yang harus menghadapi kedua orang tua Rili. Apa kedua orang tua Rili juga akan marah padanya?
__ADS_1
"Vin?" Papi Rizal menatap Alvin yang berdiri mematung.
Alvin mendekat, meletakkan kantong plastik di atas meja lalu meraih Ayla yang merentangkan tangan padanya ingin digendong Ayahnya.
"Hmm, Rili hamil lagi Mi, Pi. Maaf, aku..." Alvin duduk sambil memangku Ayla yang sedang bermain dengan tangannya.
"Loh, kok minta maaf. Ini kabar bahagia. Kita justru senang mau dapat cucu lagi. Iya kan, Mi?"
"Iya. Biar rumah kita tambah ramai. Kenapa? Rili marah sama kamu?"
Alvin mengangguk pelan.
"Ya sudah, biar Mami bicara sama Rili."
Alvin mengangguk. Beban di hatinya sedikit berkurang. Setidaknya orang tua Rili tidak menyalahkannya.
Satu tepukan didapat Alvin di bahunya. "Hebat, benar-benar tokcer."
Alvin hanya tersenyum malu lalu menggoda Ayla yang ada di pangkuannya.
"Ayla, maaf ya. Mulai sekarang minum susu di botol ya.."
Ayla yang tidak mengerti apa-apa hanya tersenyum dengan cerianya.
"Rili..." Mami Lisa masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelah Rili.
Seketika Rili memeluk maminya dari samping.
"Sudah jangan sedih. Harusnya kamu bahagia. Ini anugerah sayang." Mami Lisa mengusap lembut rambut Rili.
"Tapi kasihan Ayla, Mi. Dia jadi minum sufor."
"Gak papa sayang. Sekarang bukan cuma Ayla yang harus kamu sayangi tapi juga adik Ayla."
Rili mulai memahaminya.
"Dulu kamu juga minum sufor, bukannya Mami gak sayang sama kamu tapi karena ASI mami waktu itu seret karena terlalu capek mikirin skripsi dan merawat kakak kamu. Nyatanya kamu juga sangat aktif dan pintar."
Hati Rili mulai melunak. Dia semakin menyandarkan kepalanya di bahu maminya.
"Jangan marah sama Alvin ya. Ini bukan saatnya saling menyalahkan. Alvin itu lelaki yang sangat bertanggung jawab. Dia pasti gak akan biarkan kamu kerepotan ngurus anak."
Rili mengangguk paham.
__ADS_1
"Kamu minta maaf ya sama Alvin."
"Iya, Mi." Rili menegakkan dirinya dan menghapus sisa-sisa air matanya. "Mi, kata Mas Alvin untuk sementara kita akan tinggal di sini."
"Bagus dong. Semoga seterusnya ya. Mami sama Papi kesepian. Kalau gini kan jadi ramai di rumah."
"Iya Mi."
"Ya sudah kamu istirahat. Sebentar lagi Ayla pasti tidur. Lagi sama Ayahnya di depan."
Rili mengangguk.
Setelah itu Mami Lisa keluar dari kamar Rili.
Rili merebahkan badannya sambil menatap langit-langit kamarnya. Beberapa saat kemudian Alvin membuka pintu. Dia sedang menggendong Ayla yang sudah terlelap dengan dot yang masih menempel di bibirnya.
Lagi-lagi hati Rili masih belum rela. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga harus bisa menyayangi calon buah hati yang sekarang ada di perutnya.
Secara perlahan Alvin menurunkan Ayla di tengah ranjang lalu melepas botol dot yang telah kosong. Satu kecupan lembut mendarat di pipi chubby Ayla.
"Pinter ya sayang." Gumam Alvin sambil mengusap lembut rambut Ayla yang baru tumbuh.
Hati Rili menghangat melihat kasih sayang Alvin. Dia menyesal sudah marah dengan Alvin sejak semalam.
"Mas maafin aku..."
Perkataan Rili membuat Alvin seketika mendongak. Dia berpindah ke sisi Rili lalu memeluknya. "Kamu gak salah. Justru aku yang salah udah buat kamu kayak gini."
"Nggak, Mas. Aku yang terlalu emosi. Semoga adiknya Ayla sehat-sehat terus ya Mas dan dia gak marah sama aku karena aku sempat gak mau menerima kehadirannya."
Alvin menghapus air mata Rili yang masih saja merembes. "Sssttt, udah ya. Mulai sekarang jangan menangis lagi. Aku akan selalu menjaga kamu, Ayla, dan calon adik Ayla." Tangan Alvin mengusap lembut perut Rili. "Usapan pertama aku sejak tahu kamu hamil. Sehat-sehat ya di dalam sana. Ayah sama Bunda sayang kamu."
Rili mengikuti tangan Alvin untuk mengusap perutnya. Rasanya dia menyesal ingin menolak kehadirannya.
"Mas, kayaknya hari ini ada sesuatu yang terlupa."
"Apa?"
"Nikahannya Aksa ya Mas." Rili baru teringat akan hal itu.
"Iya, tadi pagi aku udah pesan sama Adit kalau kita gak bisa datang. Biar Adit yang urus semuanya." Alvin semakin mengeratkan pelukannya. "Aku sayang sama kamu. Apapun yang terjadi, kita harus tetap bersama ya. Aku akan selalu menjaga kamu dan anak-anak kita. I love you..."
"I love you too..."
__ADS_1