
Zaki yang saat itu masih bersama Dea, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia segera mengangkat panggilan teleponnya.
"Iya, hallo... Sekarang.. Iya, 15 menit lagi aku sampai."
Zaki mematikan panggilannya. "Dea, aku balik dulu ya. Ada client yang tiba-tiba minta ketemuan."
"Iya Kak gak papa. Besok kalau gak sibuk ke sini lagi ya." Dea tersenyum dengan manis berharap jika Zaki akan menemuinya lagi besok.
Zaki hanya mengangguk kecil. Kemudian dia berpamitan pada Bu Gita yang kebetulan ada di teras rumah. "Tante, saya permisi dulu. Ada kerjaan mendadak."
"Oiya, makasih ya sudah ke sini."
Zaki berjalan menuju mobilnya tapi sepertinya mobil Alvin menghalangi jalannya. "Alvin tidur tante? Soalnya mobilnya menghalangi jalan, saya tidak bisa lewat."
"Oo iya, sebentar tante panggil dulu." Bu Gita masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar Alvin. Dengan terpaksa dia mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu. Meski sebenarnya Bu Gita sudah tahu apa yang dilakukan anaknya di dalam kamar.
"Alvin, mobil kamu menghalangi jalan. Zaki mau balik, ada kerjaan mendadak." teriak mamanya dari depan pintu.
Tak ada sahutan dari dalam. "Vin, cabut dulu nanti aja lanjut," teriak Bu Gita lagi. "Zaki udah nunggu."
Sedangkan di dalam kamar, Alvin semakin mempercepat gerak pinggulnya.
"Mas, dipanggil Mama."
"Nanggung bentar lagi sampai."
"Ya udah jawab dulu."
"Iya Ma, sebentar!!" Alvin berteriak agar mamanya yang masih berdiri diluar mendengarnya.
Alvin menghentakkan miliknya semakin dalam saat dia meraih pelepasannya dengan suara era ngan yang tertahan.
Setelah hasratnya tuntas, buru-buru dia melepas miliknya. Meraih selimut dan menutup seluruh tubuh Rili. "Sebentar aku mau keluar dulu." Alvin memakai celananya lalu kemejanya tanpa dikancing terlebih dahulu dia keluar dari kamar.
Di depan pintu, Bu Gita terkejut melihat penampilan Alvin yang acak-acakan. "Astaga, kancing dulu kemejanya."
"Iya, iya." Alvin menutup pintu itu kembali. Berjalan ke depan rumah sambil menyugar rambutnya yang acak-acakan.
"Mau balik Zak?" tanya Alvin
"Iya, mendadak diajak ketemuan sama client. Sorry ganggu."
"Oke santai aja." Alvin masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya menepi hingga memberikan jalan untuk mobil Zaki keluar.
Alvin kembali keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Kalau orangnya ini deal, minggu depan acaranya pakai kafe kamu."
"Oke, sukses deh. Nanti kabari aja." Alvin menepuk bahu Zaki sesaat.
"Sip. Aku balik dulu ya. Kamu lanjut aja deh."
Alvin tertawa, dia menunggu diluar hingga mobil Zaki keluar dari pagar rumah. Setelah itu, Alvin kembali masuk ke dalam rumah.
"Mau lanjut Al?" tanya mamanya yang sedang duduk bersama Dea saat melihat Alvin menuju kamarnya.
"Iyalah." Alvin masuk ke dalam kamarnya dan menutup kembali pintu itu. Dia tersenyum melihat Rili yang sudah tertidur pulas dengan memakai kaos longgar miliknya yang kebesaran di tubuh mungil itu.
Perlahan Alvin duduk di tepi ranjang dan melepas kemejanya. Dia kini merebahkan dirinya di samping Rili. Menatap wajah cantik yang nampak lelah itu. "Maaf, udah buat kelelahan gini." Satu kecupan hangat mendarat di kening Rili. "Aku sayang kamu..."
"Aku juga sayang sama Mas Alvin," jawab Rili dengan setengah mengigau. Tangannya kini memeluk pinggang Alvin.
Alvin tertawa kecil. Dia usap lembut rambut Rili agar tidurnya semakin nyenyak.
...***...
Beberapa hari telah berlalu. Kesibukan Rasya berangsur mereda. Beberapa proyek juga telah beres. Kini saatnya dia kembali menata hatinya.
Kebetulan, saat itu Dira masuk ke ruangan Rasya sambil membawa beberapa berkas.
"Gak ada, Pak."
"Ya sudah, kamu ikut aku menghadiri acara makan malam di kafe Alvin ya. Besok aku jemput."
Dira menganggukkan kepalanya. "Baik Pak." Setelah itu dia keluar dari ruangan Rasya.
Rasya tersenyum lalu segera menghubungi Alvin. Tak butuh waktu lama Alvin mengangkat panggilannya.
"Vin, besok kamu siapkan acaranya ya."
"Jadi langsung melamar?"
"Iya, sesuai rencana kamu. Langsung aku lamar saja."
"Gini dong, jadi lelaki itu harus cepat bertindak."
"Semoga saja lamaran aku diterima."
"Iya. Good luck deh."
Rasya memutuskan panggilannya. Dia masih saja mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Pak Rasya mau melamar siapa?"
Pertanyaan itu membuat Rasya terkejut. Dia menatap Nana yang berdiri di ambang pintu. Memang pintunya waktu itu tidak ditutup.
"Aku..." Rasya menghentikan perkataannya.
Nana berjalan mendekat dan duduk di depan Rasya sambil meletakkan beberapa laporan keuangan di atas meja.
"Mau melamar Dira? Memang Dira gak jadi tunangan sama Kak Fandi?" Nana berusaha untuk tenang meski sebenarnya jauh di dalam hatinya masih tidak rela.
"Iya, aku mau melamar Dira. Aku minta maaf sama kamu, mungkin selama ini aku hanya membuat kamu kecewa."
Nana berusaha tersenyum. Dia berdiri dan menjabat tangan Rasya. "Selamat ya, Pak. Semoga Pak Rasya segera mendapatkan kebahagiaannya." Setelah itu Nana berjalan keluar dari ruangan Rasya.
Dia berusaha membuang jauh rasa sakit hatinya. Rasa ingin memiliki itu harus segera dia buang dan lupakan selamanya.
Nana mengambil kunci motornya. Dia berniat ke kafe untuk sekedar menghibur diri dengan makan dan minum sampai kenyang. Kalaupun bisa.
Kebetulan saat itu jam istirahat. Dia lajukan motornya dengan kecepatan standart menuju kafe.
Tidak ada tujuan lain selain kafe ria. Setelah menghentikan motornya di tempat parkir, dia masuk ke dalam kafe. Sedikit ramai karena memang waktu itu jam istirahat kantor. Nana memilih kursi vip paling pojok. Agar dia bisa lebih leluasa bersandar di sofa empuk meski bayarnya cuma-cuma.
"Mau pesan apa?" tanya Adit yang membuyarkan lamunan Nana.
"Rili di sini?"
"Nggak ada. Dia di tokonya. Mau makan apa? Gak papa aku yang bayar."
Dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Ada masalah?" Adit kini duduk di sebelah Nana.
Nana menundukkan kepalanya. Matanya mulai mengembun. Meski dari dalam hatinya dia sudah rela tapi rasa sakit itu masih saja tersisa.
"Kok nangis?" Adit mengambil tisu lalu mengusap air mata Nana yang jatuh di pipi. "Masalah Rasya? Aku tadi dengar soal...." Adit menghentikan perkataannya.
Nana mengangguk pelan. "Aku gak boleh berharap lagi sama Kak Rasya. Semua sudah berakhir."
Adit menghela napas panjang. Dia kini menggenggam tangan Nana. "Aku ngerti perasaan kamu. Karena apa yang kamu rasakan itu sama dengan apa yang aku rasakan. Kamu terlalu fokus pada satu pintu yang tertutup dan tidak melihat pintu lain yang terbuka."
Nana menatap netra Adit yang memandangnya begitu dalam.
Adit tersenyum tipis. "Aku masih menunggu kamu. Kalau suatu saat nanti kamu sudah menentukan pilihan dan itu bukan aku, aku akan mundur seperti kamu sekarang."
Mendengar pernyataan Adit, seketika hatinya mencelos.
__ADS_1