Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Ikrar Cinta


__ADS_3

Hari itu adalah hari yang dinantikan oleh Rasya dan Dira. Acara ijab kabul akan dilakukan pukul 10 pagi. Seluruh kerabat dan sahabat dekat telah berkumpul untuk menyaksikan ikrar cinta itu.


Rili terus mengenggam tangan Alvin saat menyaksikan moment indah itu. Bahkan air mata haru sampai menetes beberapa kali di pipinya.


Beberapa kali juga Alvin mengusap air mata di pipi Rili.


Setelah mereka selesai melakukan ijab kabul, Rili langsung berdiri dan berjalan cepat mendekati Rasya.


"Sayang pelan-pelan," ucapan Alvin pun tak Rili dengar.


Rili langsung memeluk kakaknya itu. "Selamat Kak Rasya, udah sah jadi suami."


Rasya mengeratkan pelukan adik manjanya. "Iya, makasih ya." Ini semua berkat dukungan dari Rili. Tanpa mereka semua hubungannya dan Dira takkan bisa sampai sejauh ini.


"Tapi Kak Rasya tetep belikan apa yang aku mau kan?"


Rasya tertawa mendengar keinginan adiknya itu yang terdengar sangat manja, padahal dia sudah punya suami yang akan siap menuruti semua keinginannya.


"Iya, kan demi ponakan aku." Rasya mengusap sesaat perut Rili, sambil dalam hati berharap, semoga saja cepat menular pada Dira nanti.


Rili tersenyum lalu beralih pada Dira. "Selamat kakak ipar." Tidak menyangka juga, kini Rili sudah mempunyai kakak ipar.


Alvin juga mendekati Rasya dan memeluknya sesaat sambil menepuk bahu Rasya. "Selamat ya.."


"Oke, thank you."


Alvin melepas pelukannya lalu membisikkan sesuatu di telinga Rasya. "Mau tahu caranya biar bisa cepat jadi....."


Mereka berdua tertawa cukup keras.


"Alvin bisikin apa?" tanya Papi Rizal yang memang berada di dekat Rasya.


"Tutorial Pi." setelah itu Alvin menggandeng tangan Rili dan mengajaknya kembali duduk.


"Sayang kalau kamu capek, tiduran aja ya di sofa kantor."


Rili menggelengkan kepalanya. Hari itu dia begitu antusias akan menyaksikan seluruh acara yang diadakan seharian penuh.


"Kalau gitu makan dulu, kamu tadi pagi makan dikit banget."


Rili menggelengkan kepalanya. "Aku mau makan kue aja Mas."


"Ya udah aku ambilkan."


"Rili!!" Nana memanggil Rili dengan keras lalu duduk di dekatnya.


"Nana, kirain lo gak datang."

__ADS_1


"Datang dong, kan gue udah move on."


"Ciee, yang udah move on."


Alvin datang dan meletakkan sepiring kue di depan Rili. "Nih, makan dulu."


"Aku gak diambilin sekalian."


"Ambil sendiri, kalau mau cari Adit ada di belakang."


Acara demi acara akhirnya terlaksana. Rili tidak bisa hanya duduk diam saja. Dia kesana kemari tak beraturan. Meskipun Alvin berulang kali memanggil Rili agar duduk dengan tenang.


"Sayang, duduk dulu. Jangan wara wiri aja, nanti kamu capek."


Rili akhirnya kembali duduk.


Beberapa saat kemudian Adit memanggilnya. Mendapat panggilan itu, Alvin segera berdiri. "Sayang aku ke belakang sebentar ya.."


"Iya Mas." Rili masih menatap bahagia kakaknya yang sekarang berada di atas pelaminan yang sedang bersalaman dengan tamu.


"Haus, minum es enak kayaknya." Rili berdiri dan berjalan menuju stand minuman dingin. Ramainya tamu undangan membuat beberapa orang menyenggol bahunya.


Rili mengambil gelas dan mengisinya dengan minuman dingin. Dia berniat kembali ke tempat duduknya tapi tanpa sengaja dia menginjak minuman yang tumpah dilantai dan membuatnya terpeleset.


Gelas yang dia pegang sampai jatuh ke lantai dan pecah, tapi untung Aksa dengan cepat menahan tubuh istri bosnya itu yang telah limbung.


"Astaga, kamu kenapa sayang?" Alvin berjalan dengan cepat dan merengkuh tubuh Rili dalam pelukannya.


"Tadi mbak Rili terpeleset sama air minum yang tumpah di lantai bos. Ini mau aku bersihkan." Aksa memang sudah membawa peralatan bersih-bersihnya.


"Makasih ya, Aksa. Kamu bereskan ini dulu."


"Iya bos."


Alvin menuntun Rili agar kembali duduk. "Kamu gak papa?"


Rili sedari tadi hanya memegang perutnya yang terasa kaku dan kram lagi. "Cuma kaku dikit, Mas."


"Kamu mau minum. Biar aku yang ambilkan."


Rili menganggukkan kepalanya.


Rili kembali mengusap perutnya yang masih saja terasa kram.


Semoga gak papa. Maaf sayang, bunda gak bisa jaga diri.


Alvin dengan tergesa kembali duduk sambil membawa segelas minuman di tangannya. "Minum dulu."

__ADS_1


Rili mengambil gelas itu dan langsung menghabiskannya.


"Masih kram? Lain kali kalau aku bilang duduk, ya duduk aja jangan kemana-mana. Banyak tamu yang lagi makan. Kalau mau apa-apa bilang sama aku, pasti aku ambilkan. Untung tadi ada Aksa." omel Alvin sambil mengusap perut Rili untuk memberinya kenyamanan.


"Iya Mas. Maaf..."


Mendengar suara serak dari Rili seketika Alvin mendongak. Mata Rili suah mengembun. "Udah, jangan nangis. Maafin aku, ini bukan salah kamu." Alvin mendekatkan dirinya dan merengkuh tubuh Rili. "Justru aku yang merasa gak bisa jaga kalian berdua." Alvin kembali mengusap perut itu. "Kalau masih kram kita periksa saja ya."


Rili justru menggeleng. "Udah mendingan, Mas."


"Bentar lagi acara sudah selesai. Kita pulang ya. Istirahat di rumah. Biar Zaki urus finishing sama Adit aja." Bagi Alvin yang paling utama saat ini adalah kesehatan Rili.


Rili mengangguk pelan. "Kita pamitan dulu sama Kak Rasya dan Mami Papi."


Alvin membantu Rili berdiri sambil merengkuh pinggangnya. Mereka berdua berjalan menuju pelaminan.


"Kak, aku pulang dulu ya.."


"Iya, Rili kok kamu pucat banget?"


"Iya sayang, kamu pucat banget loh." Mami Lisa yang melihat putrinya begitu pucat juga sangat khawatir.


"Rili kecapekan, aku ajak pulang dulu biar dia istirahat." Tangan Alvin masih dengan setia melingkar di pinggang Rili.


"Ya udah, sehat-sehat ya sayang." Mami Lisa mencium kening Rili lalu mengusap perutnya.


"Iya Mi."


Setelah berpamitan, Rili dan Alvin berjalan keluar dari kafe lalu masuk ke dalam mobil. Kebetulan hari sudah mulai senja, jalanan cukup macet. Bahkan Rili sampai ketiduran di dalam mobil.


Sesekali Alvin mengusap rambut Rili yang berkeringat itu.


Alvin menghela napas panjang. Bagi dia tidak ada yang lebih penting selain istri dan calon buah hatinya.


Beberapa saat kemudian, Alvin telah sampai di depan rumahnya. Dia keluar terlebih dahulu lalu membuka pintu Rili dan mengangkat tubuh Rili yang masih tertidur itu.


"Mas, udah sampai?" Rili membuka matanya yang kini berada di gendongan Alvin. "Turunin Mas."


"Iya, nanti di kamar."


Rili melingkarkan tangannya di leher Alvin saat Alvin berjalan masuk ke dalam rumah.


Ketika sampai di dalam kamar, Alvin menurunkan tubuh Rili di atas ranjang. "Kamu ganti baju dulu ya, terus istirahat." Alvin mengambilkan daster tidur Rili lalu membantunya berganti pakaian.


"Kamu keliatan lemes banget. Mau makan dulu atau minum air putih?"


"Mau tidur dulu Mas. Nanti aja makan. Aku juga belum mandi, tapi ngantuk banget." Rili menarik tubuh Alvin agar menemaninya tidur.

__ADS_1


"Ya udah kamu tidur dulu." Alvin mengusap lembut rambut Rili agar dia kembali terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2