Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Akhir Bahagia


__ADS_3

"Wah, ramainya." Dira yang sedang menggendong putranya yang sekarang telah berumur empat bulan itu masuk ke dalam ruang rawat Rili.


"Ada Adit sama Nana pantas ramai." Rasya yang mengekori Dira ikut masuk ke dalam ruangan.


"Ada kakak ganteng Arsyad." Sambil menggendong Ayla Nana menggoda Arsyad yang sekarang sudah pandai tersenyum.


"Ih, dedek Ayla cantik banget ya. Kakak Arsyad mau pegang. Pegang dikit ya..." Dira membawa tangan putranya untuk menyentuh kecil pipi Ayla. "Dedeknya tidur ya..."


Arsyad masih saja tertawa-tawa. Dia seolah ikut bahagia mendapat adik baru.


"Murah senyum banget. Nanti kalau gede jangan dingin kayak bapaknya ya," celetuk Nana.


Ketiga lelaki itu tertawa. "Sekarang udah gak dingin lagi. Udah meleleh ada pawangnya."


"Arsyad, sini ikut Om Alvin." Alvin mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan gembira oleh Arsyad.


"Emang kamu udah sehat? Katanya kemarin sampai pingsan," kata Rasya yang kini duduk di sofa.


"Udah dong."


"Enak banget ya yang ngerasain semuanya Alvin." Dira kini duduk di dekat adik iparnya. Meski sebenarnya dia hanya berniat untuk menggoda.


"Iya, aku salah satu wanita yang beruntung. Kalau waktu itu Mas Alvin gak ajak aku ke rumah sakit, mungkin aku lahiran di rumah." Rili tersenyum kecil. Dia sendiri saja tidak mengerti tanda-tanda melahirkan itu kayak gimana.


Alvin menepuk jidatnya, dia jadi melupakan jasa besar Aksa. "Aku sampai lupa gak bilang makasih sama Aksa."


"Aksa lagi sibuk nyiapin acara lamaran life-nya di show Nada. Lihat aja nanti malam di tv lokal," kata Adit.


Ketiga wanita ini ber wow ria. Dari ketiga pasangan mereka, ternyata yang paling romantis adalah Aksa. Jelaslah alumni playboy itu tidak akan ada yang bisa menandingi pesona keromantisannya.


"Mas Alvin, nanti lihat ya. Ingatin," kata Rili yang sangat tertarik dengan hal-hal romantis kayak gitu.

__ADS_1


"Iya, tapi awas jangan minta lamar lagi," goda Alvin.


Mereka semua kembali tertawa.


"Kakak Arsyad," Alvin menggoda Arsyad yang masih anteng di gendongannya. "Nanti jadi teman Ayla ya. Kalau ada yang usilin Ayla bilang sama Om."


Nana yang baru saja meletakkan Ayla pada boxnya, ikut terpancing mendengar omongan Alvin. "Gak kebalik? Kalau dilihat-lihat calon anak usil nih si Ayla. Bapak ibuknya aja pecicilan, masak anaknya anteng."


"Sssttt, jangan bilang gitu. Biar orang tuanya aja yang pecicilan, anak gak boleh niru yang gak baik."


"Peran bapak udah dihayati beneran ini."


Kebahagiaan itu kini tercurah. Ya, semoga akan selalu tetap seperti ini.


...***...


Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Setiap malam Alvin selalu menemani Rili bergadang untuk mengASIhi putri kecilnya. Tidak ada yang lebih penting dalam hidupnya selain dua perempuan yang sekarang ada di sisinya.


Satu momen penting juga telah terlewati. Adik semata wayangnya kini telah menikah dengan Zaki. Mereka tidak ingin mengadakan acara besar. Seorang pemilik event organizer dan adik pemilik kafe justru ingin melakukan ijab kabul di rumah tanpa adanya pesta. Mungkin mereka telah bosan mengurusi resepsi orang lain hingga pernikahan mereka sendiri berlangsung dengan sederhana.


"Lucu, pemilik EO tapi malah gak mau adain resepsi. Sebosan itu Zaki ngurusi acara nikahan," kata Alvin yang sedang merebahkan dirinya di samping Rili.


Rili yang sedang mengasihi bayi gemoy-nya yang telah berumur tiga bulan itu hanya tersenyum. "Capek Mas ngurusin orang nikahan. Makanya dia pengen ijab kabul aja."


"Bentar lagi Aksa yang nikah, terus Adit. Kisah mereka semua berakhir dengan bahagia." Tangan kanan Alvin mendekap dan memeluk Rili.


"Iya Mas. Ikut bahagia rasanya."


Alvin mendekatkan dirinya lalu mengendus dalam leher belakang Rili. "Adik aku ngapain ya sekarang?"


"Mas Alvin kayak gak pernah malam pertama aja."

__ADS_1


"Lupa, udah tiga bulan puasa. Buka puasa boleh gak sih?" Ternyata pertanyaan Alvin tadi adalah sebuah kode untuk Rili.


Ayla yang telah tertidur sudah melepas bibirnya dari dada Rili. Rili kini merebahkan dirinya dan menatap suaminya. "Mau konsul kb dulu Mas."


"Tenang, soal itu bisa diatur. Trust me." Alvin semakin mengendus leher Rili dan mengecupnya berkali-kali.


"Mas, geli." Merasakan hangatnya napas dan basahnya bibir Alvin saja sudah membuat sekujur tubuh Rili meremang.


Napas Alvin semakin berat. Malam ini dia benar-benar sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi. "Pindah di sofa yuk, biar gak ganggu Ayla."


Rili tak menjawab. Dia hanya menatap mata Alvin yang begitu memohon dan mendamba. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan ganya pasrah saat Alvin menggendongnya untuk berpindah ke sofa.


Si perayu ulung itu selalu berhasil membuat Rili lupa daratan. Baru sentuhannya saja suara nikmat itu begitu ingin lolos dari bibirnya. Mereka kembali menikmati malam yang panas dan bergairah setelah tiga bulan terlewati.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


.


.


Hai, ☺️☺️☺️


Mulai dari sini waktunya udah tersingkat-singkat ya. Udah, fix ceritanya akan tamat.


Ada yang nungguin gak sih?? πŸ™„πŸ™„


Ini novel tersepi aku soalnya memang gak buat penasaran.. πŸ˜”


Untunglah akhirnya gol juga buat daily, dan tetap konsisten buat namatin.. Mereka semua udah dapat jodoh masing-masing.


Jangan lupa mampir di Aksara dan Nada.. πŸ‘‡

__ADS_1



__ADS_2