Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Bertemu Crazy Rich


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat. Meski hari yang dilalui Alvin cukup berat. Bahkan sampai masuk trimester kedua, Alvin masih saja mengalami morning sickness meski tak separah waktu awal hamil dulu. Sekarang dia masih bisa makan selain masakannya Adit.


Alvin mengusap lembut perut Rili yang telah membuncit dan kadang sudah terasa gerakan halus dari dalam sana. Begitu sangat menggemaskan dan selalu sukses membuat Alvin tidak sabar untuk segera bertemu buah hatinya.


"Empat bulan lagi kita bertemu sayang." Alvin mendekatkan wajahnya pada perut Rili lalu menciumnya. "Udah aktif ya..."


Saat itu mereka sedang berada di kantor kafe karena Rili merasa bosan sendiri di rumah.


"Iya Mas, gemas banget kalau lagi gerak-gerak." Alvin masih menempelkan pipinya di perut Rili. Merasakan tendangan yang menyundul pipinya berkali-kali.


"Mas kurusan sekarang? Makan yang banyak dong." Rili menjurai rambut Alvin dengan tangannya. Ya, pipi Alvin sekarang memang lebih tirus.


"Gak papa yang penting kamu gemukan."


"Udah kayak bola aku nih. Setiap saat suruh makan terus."


Alvin menegakkan dirinya lalu mencium lembut bibir Rili. Menikmati permainannya sesaat yang tidak pernah terasa bosan.


"Udah 4 bulan gak nengokin yang bawah. Malam ini kayaknya gak papa ya." Alvin menarik Rili dalam pelukannya.


"Gak papa Mas. Udah trimester kedua."


"Ya udah, tonight. Oke?"


Rili hanya menganggukkan kepalanya dengan pipi yang telah bersemu merah.


"Vin, ada yang mau bertemu sama kamu!" teriak Adit dari luar ruangan kantor Alvin.


"Siapa ya?" Seingat Alvin dia tidak membuat janji dengan siapapun.


"Ya gak tahu Mas."


Alvin berdiri lalu keluar dari kantornya yang diikuti oleh Rili.


"Siapa Dit?" tanya Alvin.


"Crazy rich."


"Hah?" Alvin tak mengerti maksud Adit. Tapi dia menunjukkan sofa vip dimana ada sepasang suami istri dengan dua anaknya.


"Siapa Mas?" Rili pun ikut penasaran.


"Gak tahu sayang. Apa temannya Papi kamu?"

__ADS_1


Rili menggelengkan kepalanya. "Gak tahu Mas. Aku gak pernah lihat."


Mereka berdua berjalan mendekat. Dan duduk di hadapan tamu itu. "Maaf, siapa ya?" tanya Alvin.


"Pak Alvin ya?" Pria itu menjabat tangan Alvin sambil tersenyum ramah. "Saya Eza dan ini istri saya Andini, kita kakaknya Arjuna."


"Hah? Arjuna?" Alvin dan Rili terkejut. Karena setahu mereka Arjuna yang biasa dipanggil Juna itu adalah anak tidak mampu. Sedangkan sepasang suami istri yang sekarang duduk di hadapan mereka berpenampilan high class.


"Maaf, mungkin Pak Alvin terkejut dengan kedatangan kami. Bukan maksud Juna membohongi Pak Alvin, tapi dia memang begitu ingin hidup mandiri. Bahkan saya sendiri sebagai kakak hanya boleh membayar sekolahnya saja. Awalnya saya tidak percaya, dimana ada yang mau memperkejakan anak SMA part time, dengan gaji segitu, dan free makan. Ternyata ada. Saya cuma takut, Pak Alvin mengira Juna seorang penipu yang memanfaatkan kebaikan Pak Alvin." jelas Eza. Dia memang sengaja datang ke tempat kerja Juna untuk memperjelas keadaan Juna yang sebenarnya.


Alvin dan Rili justru tersenyum. "Tidak apa-apa Pak. Justru saya bangga dengan Juna. Anak seumuran dia biasanya senang menghamburkan uang. Dia justru mau bersusah payah ingin mencari uang sendiri." Alvin sama sekali tidak merasa tertipu.


"Hebat! Pak Alvin masih muda tapi punya pemikiran yang sangat bijaksana."


"Biasa saja, Pak. Saya niatnya memang untuk membantu saja."


"Yah, yayah," panggil putranya yang masih berumur satu tahun itu.


"Iya sayang. Sini Rayn mau duduk sama Ayah." Eza meraih tubuh Rayn dan mendudukkannya di pangkuannya. Sepasang anak kembar yang tampan itu kini sudah berumur satu tahun.


"Lucunya, kembar. Ganteng semua lagi. Ih, gemes.." Rili sudah tidak tahan ingin mencubit pipi chubby itu. "Umur berapa?"


"Satu tahun. Baru bisa jalan," jawab Andini sambil memegang Ryan yang ingin berjalan kesana kemari.


"Gemesin banget. Sini ikut aunty." Rili meraih Ryan agar duduk di dekatnya.


"Ih, satu dulu Mas."


"Sudah berapa bulan hamilnya?" tanya Andini pada Rili.


"Lima bulan, Kak."


"Jangan panggil, Kak. Panggil Dini saja. Aku masih kuliah semester 4."


"Wah, hebat. Masih kuliah udah punya tiga cowok ganteng."


Mereka semua tertawa.


"Pak Eza ini pemilik Hans Group ya?" Setelah berhasil mengingat sebuah artikel yang pernah dia baca, ternyata benar seorang pria yang seumuran dengannya itu adalah seorang crazy rich, pengusaha muda yang sangat sukses.


"Iya."


"Sayang, beneran crazy rich loh. Kafe kita kedatangan tamu istimewa." Alvin menatap sesaat Rili yang masih sibuk menggoda Ryan.

__ADS_1


Lagi-lagi Eza tersenyum ramah. "Biasa saja. Saya sama seperti Pak Alvin, hanya pengusaha."


"Wah, kafe saya gak bisa dibandingkan dengan perusahaan Pak Eza."


"Sayang," Eza menatap istrinya sesaat. "Kalau kita jadi buka toko roti kita kerjasama saja sama kafe ini. Kita cari juga tempat dekat sini."


"Wah, mau buka toko roti? Produksi sendiri?" tanya Alvin.


"Iya, kebetulan istri saya kuliah jurusan boga dan punya rencana buka toko roti produksi sendiri."


"Gak papa, bagus. Saya juga belum ada kerjasama dengan pihak produksi roti."


Kedua pria itu mulai mengobrol masalah pekerjaan.


"Kita jalan-jalan ke taman yuk? Biar Ayah mengobrol masalah pekerjaan dulu." Rili mengajak Andini dan si kembar ke taman.


"Yuk, ikut bunda dulu." Andini meraih Rayn dan digendongnya mengikuti Rili yang sedang menuntun Ryan.


...***...


Tengah malam Dira terbangun dari tidurnya. Usia kehamilan yang sudah 9 bulan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Meskipun sudah memakai bantal hamil dan dipeluk sambil diusap tetap seolah tidak nyaman.


"Pinggang aku pegel banget Kak."


Rasya yang setengah tertidur pun terbangun lalu mengusap pinggang Dira. "Udah gak nyaman ya tidurnya. Hari perkiraan lahir kan tinggal tiga hari lagi."


"Iya Kak." Dira membuang napas panjang. Perutnya terasa mengencang.


"Kenapa sayang?" tangan Rasya terulur ke depan dan mengusap perut buncit Dira. "Kok kencang banget perutnya. Mulas gak?"


"Agak mulas."


Seketika Rasya membuka matanya dengan lebar. "Jangan-jangan udah saatnya sayang."


Dira memegang lengan Rasya dan perlahan bangun. "Ditunggu dulu Kak kalau memang sakitnya berlanjut berarti kontraksi beneran."


"Kamu kok bisa tenang gini sih. Aku udah panik loh."


"Makanya kalau ada kelas hamil Kak Rasya harusnya ikut gak sibuk kerja terus."


Rasya memeluk tubuh Dira dengan tangan yang terus mengusap perut itu. "Iya sayang maaf. Persiapan yang dibawa ke rumah sakit udah siap semua kan?"


"Udah Kak. Do'ain aku ya. Sebenarnya aku masih takut."

__ADS_1


"Jangan takut, nanti aku temani berjuang."


Dira menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian dia menghela napas panjang lagi karena rasa mulas itu semakin terasa.


__ADS_2