
Rili semakin tersenyum kecil lalu kembali menelusuri gurat wajah itu.
"Masih ngantuk. Apaan?" Alvin memegang jari Rili yang ada di wajahnya. "Tangan siapa sih ini?" Alvin kini membuka matanya. Ada seorang bidadari cantik yang tersenyum di depannya. "Apa aku sekarang ada di surga melihat bidadari secantik ini??"
Rili semakin tertawa mendengar kalimat Alvin.
Menyadari jika ini nyata, seketika Alvin bangun dari tidurnya. "Rili?? Kamu beneran Rili?" Alvin turun dari ranjang dan menangkup kedua pipi Rili untuk merasakan jika Rili benar-benar nyata dan bukan kehaluannya semata.
"Iya Mas. Emang aku hantu?"
"Kok kamu bisa ada di sini? Di dalam kamar aku lagi? Pinjam pintu kemana sajanya doraemon?"
Rili semakin dibuat tertawa oleh Alvin. Apa karena tidurnya terganggu jadi Alvin bertingkah absurd seperti ini.
"Aku ke sini sama Mami, Papi, dan Kak Rasya. Sebenarnya semalam itu aku mau bilang kalau aku mau menerima lamarannya Mas Alvin. Tapi gak tahu kenapa, kok tiba-tiba aku ketiduran dan gak ingat apa-apa."
Seketika Alvin meraih tubuh Rili dan memeluknya. Dia hanya butuh kesabaran bukan tindakan nekat seperti semalam. Untung Alvin tidak melakukannya pada Rili. "Maafin aku ya.."
"Kenapa Mas?"
"Aku hampir aja gak bisa bersabar nunggu kamu."
Rili mengeratkan pelukan Alvin. Menikmati momen indah berdua. Lupakah jika ada keluarga mereka yang menunggunya di ruang tamu.
"Mas, ada orang tua kita nunggu diluar," kata Rili karena Alvin tak juga mau melepaskan pelukannya.
Alvin hanya merenggangkan dirinya lalu mencium singkat bibir Rili dengan tepat dan akurat. "Sebentar aku cuci muka dulu, jangan keluar. Kita barengan aja." Alvin beranjak ke kamar mandi, mencuci mukanya lalu memakai celana panjangnya.
Rili yang sudah berdiri di dekat pintu hanya terpaku.
__ADS_1
"Kok tegang gini. Baru juga di kamar berdua cuma sebentar. Aku juga belum lepas apa-apa."
Rili hanya tersenyum kaku. Lalu membuka knop pintu. Mereka berdua berjalan beriringan menuju keluarga yang telah berkumpul di ruang tamu.
"Ini dia, pangeran tidur yang dibangunin oleh putri udah keluar."
Alvin hanya mencibir mendengar perkataan Mamanya, lalu dia duduk di sebelah Papanya. Begitu juga dengan Rili yang kini duduk di sebelah Mami dan Papinya.
"Gimana barusan? Ngapain di dalam?" tanya Bu Gita sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih. Gak ngapa-ngapain."
"Alvin, Alvin, Om itu tahu persis kamu kayak gimana. Aku pinjamin Rili sebentar barusan, habis ini langsung segera kalian sah kan saja. Jangan nambah dosa terus," Pak Rizal meraih bahu putrinya itu. "Sudah mantap kan hatinya?"
"Iya, Pi." jawab Rili malu-malu.
"Tapi aku masih penasaran dengan Mama. Kenapa Mama sekarang bisa berubah 180° gini?"
"Alvin, anakku sayang, kamu jahil itu niru siapa? Kalau bukan niru Mama. Mama itu cuma ngeprank kamu soal perjodohan kemarin. Nih, langsung terlihat hasilnya. Langsung sat set kan."
Alvin menepuk jidatnya sendiri. Sia-sia sudah tenaganya selama ini untuk bergalau, bahkan sampai membuang air matanya. "Mama benar-benar is the best." Alvin mengangkat dua jempolnya sekaligus.
"Tapi kita jadi tahu, cinta Alvin buat putri saya memang gak ada duanya. Gimana? Jadi kapan acara pernikahannya?"
"Vin, jadi kapan?" tanya Pak Iwan yang melihat putranya justru seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Maunya sih dua minggu lagi. Tapi masih ada acara resepsi juga di kafe. Jadi, tiga minggu lagi aja."
"Baru kali ini cari hari pernikahan gak lihat weton atau hari baik dulu, malah lihat jadwal kosongnya kafe."
__ADS_1
Mendengar ucapan Pak Rizal semua ikut tertawa.
"Semua hari baik, Pak."
"Ini, diminum dulu. Dari tadi kita ketawa aja." Bu Gita mempersilahkan calon besan mereka untuk minum dan mencicipi makanan yang terhidang.
Kini tatapan Rasya dan Alvin bersirobok. Mereka sama-sama tersenyum miring teringat tonjokan semalam.
"Bang Rasya sekarang kita bakal jadi keluarga jangan main tonjok lagi," kata Alvin.
"Kalau lo nyakitin Rili, tetap gue kasih tonjok. Lo ngapain panggil gue bang, kayak abang tukang bakso aja."
Mereka kembali tertawa. Hubungan yang awalnya rival kini justru menjadi ipar.
"Jadi ini Alvin sama Rasya kalau berantem masih main tonjok? Yang satu sudah jadi pemilik cafe, yang satu sudah jadi pimpinan perusahaan tapi masih adu jotos."
Kedua pemuda ini hanya tersenyum mendengar kalimat Pak Iwan. "Masih berjiwa muda, Pa."
"Pak Rizal dulu kan kita pernah dipanggil gara-gara masalah Alvin dan Rasya waktu kelas dua. Waktu pemilihan ketua OSIS, mereka kan juga berantem," ingatan Pak Iwan terlempar ke 9 tahun yang lalu.
"Wah, iya betul. Mereka memang rival sejati ditakdirkan untuk jadi keluarga."
"Tapi setahun kemudian kita dipertemukan lagi di ruang BK sekolah dengan kasus baru."
Pak Rizal tertawa mengingat kasus Rili dan Alvin waktu itu. Dimana dua pasangan remaja tertangkap cctv sekolah sedang bercumbu mesra.
"Pa, udah jangan buka aib gini."
"Bukan aib, tapi kenangan. Jadi meskipun kalian yang katanya murid pintar dan teladan tapi pernah masuk ruang BK dan kena sp orang tua juga."
__ADS_1
Alvin saling tatap dengan Rili ketika orang tua mereka justru asyik mengobrol berbagai kisah mereka yang panjang.
Rasya hanya tersenyum. Sedikit beban di hatinya kini telah berkurang. Akhirnya adik kesayangannya akan segera menikah. Setelah itu, dia tinggal memikirkan kisah hidupnya. Tentang kisah cintanya yang masih menjadi misteri.