Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Kamu Milikku


__ADS_3

Pagi itu Rasya menghentikan mobilnya di depan kantornya. Dia turun dari mobil tepat saat Dira turun dari mobil Papanya.


"Sya," sapa Papanya Dira sambil berlalu.


"Iya, Om." Rasya melambaikan tangannya saat mobil Om Dewa berlalu. Dia kini berjalan masuk ke dalam kantor bersama Dira.


"Tumben di antar Papa kamu?" tanya Rasya karena memang biasanya Fandi yang mengantarnya.


"Oh, hmm, gak papa."


Rasya menekan pintu lift agar terbuka.


"Pak Rasya," suara panggilan keras itu dari Nana. Nampak dia berjalan tergesa menyusul Rasya sebelum dia masuk ke dalam lift. Tapi nahas, Nana justru terjatuh karena tiba-tiba heelsnya patah.


"Nana awas!" Rasya dengan cepat menahan tubuh Nana yang akan terjatuh ke lantai.


Nana memegang dadanya sesaat karena terkejut. "Makasih, Pak."


"Makanya kalau jalan itu gak usah cepat-cepat."


"Iya, Pak. Mumpung liftnya buka. Malas kalau mau nunggu." Nana menegakkan badannya tapi pergelangan kakinya terasa sangat sakit. "Aduh, kaki aku sakit."


"Coba sini lihat." Rasya berjongkok di depan Nana dan melepas sepatu yang telah terlepas heels nya itu. "Kayaknya terkilir. Aku pijat ya."


Dira masuk ke dalam lift dan meninggalkan mereka berdua. Dia menghela napas panjang. Apa semuanya akan tetap seperti ini?


Sedangkan di depan lift, Nana kini duduk di sofa lobi dengan Rasya yang berjongkok di depannya dan mulai memijat kaki Nana.


Sedari SMA Rasya memang suka mengikuti beladiri jadi dia tahu cara mengatasi kaki terkilir dengan cepat.


"Aww!!! Pak sakit!! Pelan-pelan!!" Teriak Nana yang membuat karyawan lain ingin tahu apa yang dilakukan bos besar pada bendaharanya itu.


"Kenapa, Pak?" tanya Doni yang kebetulan baru datang. Dia sangat khawatir, sebenarnya bukan khawatir dengan keadaan Nana tapi dengan hubungan keduanya.


"Kakinya terkilir." Rasya berdiri karena proses pijatannya sudah selesai.


Nana menggerakkan pelan pergelangan kakinya. Sudah tidak sesakit tadi, setidaknya bisalah untuk berjalan.


"Doni, kamu urus dia!" suruh Rasya sambil berlalu.


"Siap, Pak."


"Pak Rasya makasih." Nana tersenyum dengan lebar, setidaknya meski hanya sekali dalam hidupnya ada seorang pangeran yang telah menyentuh kakinya.


Doni berjalan menuju loker barang yang berada di dekat tangga darurat, dia mengambil sandal slopnya.


"Nih, pakai punya aku." Doni meletakkan sandalnya di depan kaki Nana.


"Ih, kegedean punya Kak Doni."


Seorang office boy yang sedang membersihkan kaca seketika menoleh mendengar kalimat ambigu itu.

__ADS_1


"Aduh, gak papa enak. Jadi gak sakit."


Merasa ada yang memperhatikan, Nana kini menoleh OB itu. "Kenapa Mas Edi?"


"Eh, gak papa mbak."


Nana kembali menatap Doni. "Ya udah deh gak papa." Nana akhirnya memakai sandal itu.


"Sepatu kamu biar aku bawa. Makanya lain kali jangan pecicilan."


Nana berpegangan pada lengan Doni. "Ih, cuma jalan cepat doang. Toko sepatunya tuh yang nipu. Nyesel beli online."


Mereka berdua masuk ke dalam lift. Doni masih tertawa di atas penderitaan Nana. "Makanya kalau beli barang yang asli langsung di otletnya. Udah tahu kamu sukanya lari-larian kayak gitu beli yang kw."


"Ih, ya mana aku tahu."


Sedangkan Rasya sekarang berada di ruangan Dira untuk mengambil berkas-berkas kontrak barunya. "Ra, kontrak dari Pak Tio sudah kamu print?"


"Sudah, Pak. Ini." Dira menyerahkan sebendel kertas.


Rasya akan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dira tapi terhenti sesaat. "Ra, selamat ya atas pertunangannya." Setelah itu, Rasya kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Dira.


"Bagaimana caranya aku bilang sama Kak Rasya?"


...***...


Setelah membereskan kekacauan kamar dan sarapan, kedua pengantin baru ini melihat mobil pemberian dari keluarga Rili.


"Keren." Alvin duduk di kursi pengemudi.


"Aku gak nyangka, Papi sampai beliin mobil ini." Rili berdiri membungkuk di dekat Alvin sambil menempelkan dagunya.


"Besok aja ya kita coba." Alvin meraih tubuh Rili dan mendudukkannya di pangkuannya lalu menutup pintu mobil itu. "Tapi sesuai pesan Papi, kamu tetap gak boleh mengemudi. Biar aku aja yang jadi sopir."


Rili memegang setir mobil itu. "Tapi aku boleh kan belajar? Ya, setidaknya biar aku bisa meskipun gak mengemudi."


Alvin melingkarkan tangannya di perut Rili. "Iya, nanti aku ajarin. Tapi posisinya kayak gini ya."


"Ih, itu sih maunya Mas Alvin."


Tangan Alvin diam-diam naik ke atas dan menangkup kedua benda bulat itu, mulai mengusapnya pelan. Meski masih tertutup sudah membuat tubuh Rili meremang.


"Mas, nakal banget tangannya."


"Suka kan tapi."


Memang sentuhan dari Alvin selalu menjadi candu untuknya. Dia sandarkan punggungnya dan semakin membusungkan dadanya saat tangan Alvin telah menyelinap masuk ke dalam kaos Rili.


Lenguhan kecil mulai terdengar dari bibir Rili ditambah hisapan-hisapan dilehernya semakin membuat hasrat itu berkobar.


"Mas, buat tanda merah terus sih."

__ADS_1


Alvin tertawa kecil. "Biar semua orang tahu kalau kamu milik aku."


"Curang." Rili membalikkan badannya. Dia kini berhadapan dengan Alvin.


"Mau apa?"


Rili tersenyum miring. Dia dekatkan dirinya lalu mencium bibir manis itu sesaat. Perlahan bibirnya bergerak ke bawah dagu dan mulai menyapu leher kokoh Alvin.


Alvin memejamkan matanya merasakan sengatan yang terasa hingga di sekujur tubuhnya.


Awalnya Rili melakukannya dengan lembut tapi lama kelamaan hisapan itu semakin kuat. Sudah seperti vampir yang kehausan darah.


"Uh, sayang nakal sekali kamu."


Tak puas hanya satu tanda merah, Rili membuatnya lagi di sebelahnya.


Untunglah pagar rumah Alvin tinggi dan tertutup rapat hingga tidak akan ada yang melihat mobil yang bergerak-gerak seperti ada sepasang yang beradegan mesum di dalamnya.


"Sayang udah..." Alvin menjauhkan dirinya karena napasnya sudah terasa berat bahkan tekanan dari pan tat Rili sudah membuat sesuatu yang telah mengeras itu ingin segera dituntaskan.


Rili menatap kagum hasil karyanya sendiri. Ada dua tanda merah yang berjejer.


Alvin kini melihat dirinya lewat rear spion. Menyentuh tanda merah yang sangat kentara. "Kalau gini sih besok langsung jadi bulan-bulanan anak kafe."


"Gak papa. Biar semua tahu kalau Mas Alvin itu milik Rili."


Alvin mencubit kecil hidung Rili. "Nakal. Kalau gitu kita lanjut di dalam saja."


Alvin membuka pintu mobilnya. Tanpa menurunkan Rili, dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Mas, turunin." Meski bibir minta untuk Alvin menurunkannya tapi tangan Rili masih melingkar erat di lehernya.


"Iya, bentar." Setelah menutup pintu, Alvin duduk di sofa ruang tengah dengan Rili yang tetap berada di atas pangkuannya.


"Mau apa?"


Alvin hanya tersenyum lalu sedetik kemudian dia kembali melabuhkan ciumannya. Semakin dalam dan liar. Tangan Alvin sudah begitu aktif memberi sensasi hingga napas kembali berat dan memburu.


"Sayang kamu tetap di pangkuan sini ya," bisik Alvin sambil meloloskan kaos oblong Rili.


"Tapi Mas, aku..." Wajah Rili kian memerah. Dia memang pernah iseng membaca dan melihat beberapa gaya ala kama sutra. Oke, itu teori dasarnya dan sekarang dia akan mempraktekannya.


"Aku bimbing dari bawah."


Rili sudah tidak kuasa menolak keinginan Alvin. Setiap sentuhannya membuat dirinya seperti terbang ke awan bahkan kini tubuhnya sudah sama polosnya dengan Alvin.


Alvin sedikit mengangkat panggul Rili lalu melesatkan miliknya yang telah menegang dengan sempurna.


Suara kenikmatan itu kembali terdengar saat Rili mulai menaik turunkan dirinya. Semakin lama gerakannya semakin cepat.


Tubuh Rili mengejang sesaat pertanda dia sudah sampai pada puncaknya. Posisi ini benar-benar membuat Rili mabuk kepayang.

__ADS_1


"Cepat banget keluar sayang.." Alvin mengubah posisinya, hingga Rili kini berada dalam kendalinya. Dia kembali menggencarkan serangan sampai peluh membanjiri tubuh mereka.


__ADS_2