Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Terhempas Lagi


__ADS_3

"Mau kemana, Sya?" tanya Papi Rizal yang sedang menikmati secangkir teh di teras rumahnya. Melihat putra sulungnya sudah rapi di hari Minggu tentu membuatnya bertanya. Apalagi dengan tampilan santai, sudah jelas sedang tidak akan menemui client.


"Mau ke rumah Om Dewa."


Papi Rizal tersenyum kecil. "Oo, Papi juga mau ke rumah Dewa mau antar undangan tapi nanti sore sama Mami kamu."


"Ya udah Pi aku berangkat dulu." Rasya berjalan menuju mobilnya.


"Iya, hati-hati."


Setelah masuk ke dalam mobil, Rasya segera menjalankan mobilnya. Bibirnya beberapa kali menyunggingkan senyuman kecil. Entahlah, walau dia tahu Dira telah menjadi milik Fandi tapi rasa bahagia tak bisa terbendung dari hatinya.


Rasya kini menghentikan mobilnya di depan rumah Dira tepat saat ada sebuah mobil juga berhenti. Dia melihat Fandi keluar dari mobilnya. Bukan hanya Fandi tapi juga keluarga Fandi.


Rasya menghela napas panjang sepertinya ini bukan saat yang tepat dia datang ke rumah Dira. Tapi Rasya tidak harus jadi pengecut dan lari dari kenyataan. Dia tetap keluar dari mobil yang langsung dihampiri oleh Fandi.


"Rasya, mau ketemu Dira?" Seperti biasa setiap mereka bertemu, Fandi selalu menepuk pundak Rasya.


"Mau mengembalikan dompet. Kemarin terjatuh di mobil." Rasya memberikan dompet itu pada Fandi. "Kamu berikan ya, soalnya aku buru-buru."


"Gak ikut masuk dulu, kebetulan orang tua aku juga ada. Kita mau menentukan hari pertunangan."


Mendengar itu, rasa sakit kembali menyeruak. Rasya seolah terhempas ke bumi setelah berada di ketinggian. "Oo, selamat ya." Rasya menjabat tangan Fandi. "Nanti kamu kabari saja kapan acaranya."


"Oke. Thanks."


Rasya membalikkan badannya dan kembali masuk ke dalam mobil. Setelah itu mobil Rasya kembali melaju.


"Dompet??" Fandi menatap dompet itu.


"Fan, ayo.." panggil Ayah Fandi.

__ADS_1


"Iya Yah, sebentar. Mama sama Ayah masuk dulu saja." Fandi menghela napas panjang. Lalu dia membuka dompet yang berada di tangannya. Pandangannya membulat saat melihat sebuah foto. "Dira dan...." Fandi mengamati foto itu. "Seperti Rasya." Fandi segera mengambil foto itu dan mengamatinya dengan detail. "Iya, Rasya." Tak disengaja dia membalik tulisan itu.


"You're my first love...


Yes, you're my first love too, until now..."


Dua tulisan yang berbeda, itu artinya...


Fandi mengembalikan foto itu di bawah foto keluarga Dira, lalu dia masuk ke dalam rumah Dira. Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Dia duduk di sebelah Dira dan memberikan dompet itu. "Dari Rasya."


Dira menerima dompet itu sambil menautkan alisnya. Dalam hati ingin bertanya, dimana Rasya? Padahal dia sudah berharap bertemu dengan Rasya hari itu tapi malah dikejutkan dengan kedatangan keluarga Fandi.


"Rasya tadi langsung pulang katanya buru-buru."


Dira hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak begitu mendengar obrolan para orang tua. Saat bertanya dia hanya menjawab iya saja.


...***...


Rasya menghentikan mobilnya di tempat parkir kafe Alvin. Tidak ada tempat lain yang dia tuju. Mungkin jika duduk sambil meminum kopi dan mendengarkan alunan music corner di hari Minggu bisa sedikit mengurangi rasa sakit hatinya.


Dia duduk di depan barista kafe sambil memesan kopi favoritnya. Hari Minggu itu kafe cukup ramai. Bahkan Aksa juga telah menghibur mereka, meski dengan lagu baper-baper andalannya yang membuat para gadis meleleh.


Lagi-lagi lagu yang dinyanyikan Aksa seolah menyentil perasaannya.


Ternyata belum siap aku... Kehilangan dirimu... Belum sanggup untuk jauh darimu.. yang masih s'lalu ada dalam hatiku...


Rasya menghela napas panjang. Dia menopang dagunya dengan tangan di atas meja.


"Kenapa Pak? Suntuk banget kelihatannya." tanya Malik sambil meletakkan kopi pesanan Rasya di depannya.

__ADS_1


"Lagi gak punya tujuan."


Malik kembali meracik kopi karena sudah ada beberapa pembeli yang datang.


Beberapa saat kemudian Adit datang dan duduk di sebelah Rasya. "Darimana Sya? Tumben hari Minggu ke sini?"


"Dari rumah aja. Alvin kemana?"


"Sibuk nyebar undangan. Sebenarnya aku suruh pasang spanduk aja di jembatan penyeberangan biar seluruh kota bisa datang." Kekeh Adit. Bercandaan mereka memang selalu ada-ada saja. "Kenapa? Keliatan ada masalah."


Rasya sedikit memaksakan senyumnya. "Biasa, masalah hati."


Adit tertawa. Nasibnya sama, dalam hidupnya hanya masalah hati yang sulit terpecahkan.


"Kamu beneran suka sama Dira?" tanya Adit.


Rasya menghela napas panjang. Bukan hanya suka tapi sudah cinta mati. "Iya, sayangnya milik orang."


Adit kembali tertawa mengejek Rasya. "Nana gimana? Katanya kemarin pacaran?"


"Aku cuma pura-pura aja. Kamu deketin aja terus, kayaknya dia udah mulai jinak kalau dekat sama kamu."


Jinak? Apa Rasya pikir Nana binatang buas?


"Iya, ini berkat tutorial dari Aksa buat deketin cewek. Jadi aku harus bisa lebih cool kalau di dekat cewek."


"Kalau tutorial merebut tunangan orang ada gak?" canda Rasya.


"Tenang Sya, orang udah nikah aja bisa pisah apalagi yang masih tunangan. Masih banyak kesempatan sebelum janur kuning melengkung."


Rasya hanya tertawa mendengar nasihat yang menyesatkan dari Adit.

__ADS_1


__ADS_2