Si Fatir Pendekar Mata Elang

Si Fatir Pendekar Mata Elang
Episode 30 "Terkapar"


__ADS_3

Pasukan bambu kuning yang melihat guntur melarikan diri itu pun merasa geram karena telah berhasil melarikan diri dari kejaran mereka.


"SIAL, PADAHAL SEDIKIT LAGI AKU HAMPIR MENANGKAP NYA, TAPI KARENA HAL INI YANG MEMBUATKU GAGAL MENANGKAPNYA, CIIIH" Gerutu salah seorang Pasukan bambu kuning sambil menatap jarum kilat sakti di tangannya yang di lepaskan oleh guntur untuk menghalangi pasukan bambu kuning menangkapnya ketika melarikan diri tadi.


Pelarian guntur dari kejaran pasukan bambu kuning pun masih terus di lakukan nya, nampak wajah pucat dan dadanya yang makin terasa memanas pun masih ia tahan sambil tangannya terus memegangi dadanya yang bertambah panas hingga ia pun nampak meringis akibat menahan sakit yang ia rasakan oleh racun yang menjalar di tubuhnya.


Hujan yang kian bertambah deras pun masih terus mengguyur dan mengiringi pelariannya di dalam hutan itu. Guntur pun berusaha sekuat tenaga berlari agar bisa mencapai pondok pesantren al amin agar secepat mungkin dirinya segera memberi tahu apa yang terjadi pada Fatir dan ayahnya.


"SIAL!!! Apakah aku harus melarikan diri seperti ini dari mereka, Apa yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkan mereka nantinya? Aku sangat tidak berguna, menolong mereka begitu saja tidak bisa, apa yang bisa mereka harapkan dariku dengan kekuatan ku yang hanya seperti ini" Ucap guntur yang merasa kesal dengan dirinya sendiri mengingat kejadian tadi karena tidak mampu menolong fatir dan membantu menyelamatkan ayah fatir.


Guntur pun terus memikirkan apa yang PENDEKAR BUAYA PUTIH dan IBLIS ULAR PUTIH itu akan lakukan terhadap fatir dan ayahnya di tempat kekuasaan mereka sekarang ini yang bahkan di kelilingi pasukan bambu kuning yang banyak di tempat mereka itu.


"Apa yang akan mereka lakukan terhadap fatir dan ayahnya nanti? apakah mereka akan membunuh mereka berdua? ataukah mereka akan menjadikan fatir dan ayahnya untuk makanan binatang buas mereka? Atau kah mereka akan melakukan hal yang lebih buruk lagi pada mereka berdua? " Guntur terus membayangkan hal hal yang akan di lakukan oleh pasukan bambu kuning terhadap fatir dan ayahnya sambil bergumam dalam hatinya memikirkan hal itu.


Dirinya pun tidak berhenti memikirkan hal itu sambil berlari di dalam hutan hingga ia lupa dengan keadaan dirinya sendiri yang juga harus segera di selamatkan akibat terkena serangan Beracun dari IBLIS ULAR PUTIH yang menyerang nya waktu itu.


Wajahnya yang makin bertambah pucat dan tubuhnya yang semakin gemetaran hingga aliran darahnya bergejolak tidak beraturan ketika berlari melarikan diri di hutan.


"BRAAAAK" Guntur pun jatuh dan terjerembab masuk ke dalam kubangan lumpur yang tertutup oleh genangan air yang disebabkan oleh hujan yang deras yang turun. Dirinya terjatuh karena sudah tidak fokus lagi berlari dan matanya sudah mulai berkunang-kunang akibat reaksi racun di tubuhnya hingga mempengaruhi pandangan matanya.


Tubuhnya pun langsung masuk ke dalam kubangan itu hingga berlumuran dengan lumpur yang mengotori tubuhnya dan juga wajahnya yang membuatnya nampak terlihat seperti monster hutan yang tertutupi lumpur ketika hal itu terjadi.

__ADS_1


"Aaaah, Astaghfirullahal adzim" Ucap guntur sambil menahan sakit dan segera membersihkan wajahnya dari lumpur yang menutup pandangannya dengan tangannya.


Dirinya pun Segera menengadah kan wajahnya ke langit untuk membersihkan wajahnya dari lumpur itu dengan air hujan yang masih deras turun dari langit saat itu dan perlahan lahan ia membersihkan wajahnya yang masih di penuhi lumpur saat itu.


Kemudian sejenak ia pun berkata "Ya Allah, jika memang hari ini adalah akhir dari kehidupan ku, maka ambil lah nyawa ku dengan sebaik - baiknya cara yang kau berikan kepadaku, dan jika aku masih engkau takdirkan untuk hidup maka berikanlah pertolongan dariMU kepadaku dari jalan manapun yang engkau Ridhoi" Ucap guntur sambil memejamkan mata ke langit sambil masih membersihkan pandangan matanya yang masih kotor terkena lumpur.


"JEDEEEEEEEER, CRAAAAAAAAAPPP" suara petir dan kilat yang ternyata telah menyambar salah satu pohon besar di hutan itu hingga roboh hampir mengenai dirinya yang masih berada di kubangan lumpur itu.


"BOOOOOMMM" Pohon itu pun langsung tumbang ke arah guntur yang saat itu sedang berada di kubangan itu yang masih membersihkan wajahnya.


Namun di sisa sisa tenaganya itu pun, guntur yang tersadar akan tumbangnya pohon itu pun langsung bergerak dan berhasil menghindari pohon yang roboh itu.


Kemudian di bagian pohon itu pun terbakar dan mengeluarkan api yang besar akibat terkena sambaran petir itu meskipun terus diguyur derasnya hujan saat itu.


Guntur yang sudah tidak kuat lagi merasakan panas di dadanya pun akhirnya roboh dan hendak pingsan karena tidak kuat menahan racun yang telah menjalar dari tubuhnya dari tadi.


Sebelum guntur benar - benar tidak sadar ia pun kembali menatap langit sambil terkapar di tanah dan berkata "LAA ILAHA ILLALLAH" kemudian ia pun tidak sadarkan diri di tengah hujan lebat yang terus mengguyur itu.


"PRAAAAANG" Suara piring pecah dari tangan ibunda Fatir yang terjatuh.


"Apa yang terjadi bu?" Ucap Sinta dengan berlari mendekati ibunda fatir saat itu yang gemetaran karena baru saja memecahkan piring dari tangannya.

__ADS_1


"Tidak ada apa - apa nak Sinta, tangan ibu licin dan tidak sengaja terlepas dari tangan ibu ketika memegangnya, dan juga ibu hanya merasa sedang tidak enak hati dan memiliki firasat buruk terhadap Fatir dan kakek amin saja sehingga membuat ibu tidak fokus saat memegang piring tadi" Ucap ibunda Fatir dengan nada khawatir sambil menatap kosong.


"Sudah lah bu, jangan di pikirkan yang tidak tidak, kita doakan saja semoga mereka kembali dalam keadaan selamat dan membawa kabar baik pada kita di sini" Ucap Sinta menenangkan ibunda Fatir yang nampak gelisah.


"Benar nak apa yang kamu katakan, seperti ibu hanya terlalu khawatir terhadap mereka, semoga mereka selamat hingga sampai kembali lagi kesini" Ucap ibunda Fatir yang sudah mulai nampak tenang.


"Ibu istirahat saja dulu dan tenangkan pikiran ibu sejenak agar tidak terlalu khawatir terhadap keadaan fatir dan kakek amin, biar Sinta saja yang membersihkan pecahan piring ini" Ucap Sinta sambil menunjuk ke arah pecahan piring di lantai


"Terimakasih nak Sinta, kamu memang anak yang baik, semoga Fatir juga bisa mendapatkan istri yang memiliki kebaikan seperti mu nanti di masa depan" Ucap ibunda Fatir sambil tersenyum tipis.


Sinta hanya terdiam dan tertunduk malu tidak menjawab apa yang ibunda Fatir katakan sembari ia langsung membersihkan pecahan pecahan kaca piring yang pecah di lantai itu dengan tangannya.


"Ibu masuk ke kamar dulu ya nak Sinta" Ucap ibunda fatir sambil memandangi Sinta yang masih memunguti pecahan kaca.


"Iya bu silahkan ibu beristirahat, biarkan saja ini aku yang bereskan semuanya" Ucap Sinta membalas senyum ibunda fatir.


Ibunda fatir pun kemudian berjalan untuk beranjak pergi ke kamar agar bisa istirahat untuk menenangkan pikirannya yang tadi mulai gelisah memikirkan keadaan fatir dan kakek amin yang pergi berangkat untuk menyelamatkan suaminya.


Ketika memasuki kamar untuk beristirahat ibunda fatir pun tiba tiba meneteskan air matanya karena memikirkan keadaan fatir dan suaminya saat ini serta kakek amin yang membantu mereka menyelamatkan suaminya yang di tangkap oleh pasukan bambu kuning.


Episode 30

__ADS_1


__ADS_2