
Di suasana berduka di dalam rumah itu. Kakek amin mengusap mukanya dan mencoba menenangkan dirinya dari rasa kehilangan itu.
Dirinya pun bersegera mengambil air untuk membasuh mukanya dan bersegera berwudhu serta melakukan sholat sunnah dua rakaat agar hatinya memperoleh ketenangan menghadapi kenyataan yang terjadi saat itu.
Setelah selesai melakukan sholat sunnah dua rakaat itu pun, kakek amin memohon kepada Tuhan agar orang-orang yang ada di sekitar nya tetap selalu dalam perlindungan Tuhan.
Ketika selesai berdoa maka dia pun mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang selesai berdoa itu kemudian ia memikirkan apa yang akan di lakukan nya jika dirinya menuju bukit sarang setan.
Kakek amin berpikir Tidak mungkin dirinya mengorbankan Fatir hanya untuk melakukan pertukaran antara ibu Fatir dan Sinta.
Sedangkan Fatir itu sendiri sudah dia anggap seperti cucunya sendiri seperti guntur.
Kemudian kakek amin pun memiliki rencana dan dirinya pun bersegera untuk pergi ke pondok pesantren al amin.
Setelah dirinya kembali menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai serta terus berlari menuju pondok pesantren al amin tak berapa lama pun kakek amin sudah tiba di pondok pesantren al amin.
Setibanya di pondok pesantren al amin guntur dan ayah Fatir kini telah pulih dari keadaannya. Dan telah menyambut kedatangan kakek amin.
Mereka pun bertanya tentang keadaan Fatir saat ini. Kakek amin menjelaskan kalau dirinya belum menemukan Fatir karena dia tidak ada di tempat sebelumnya ketika kakek amin mencarinya.
Ayah Fatir nampak murung mendengar berita itu. Namun kakek amin berusaha menenangkan nya kalau Fatir pasti sedang baik baik saja ungkapnya.
Kemudian kakek amin menceritakan yang terjadi di rumah nya kepada ayah Fatir dan guntur tentang ibu Fatir dan Sinta yang menghilang serta tentang Qitmir yang di bunuh oleh orang tidak di kenal.
Kakek amin pun mencoba menceritakan tentang pesan yang dia temukan di badan Qitmir saat itu juga kepada mereka berdua. Namun ketika kakek amin mencoba mengambil kertas itu di dalam sakunya ternyata kertas itu tidak ada di dalamnya dan seperti nya kertas itu kemungkinan terjatuh saat dirinya terburu - buru menuju pondok pesantren al amin tadi.
Tapi kakek amin masih mengingat tentang isi kertas itu dan menceritakan maksud pesan yang tertulis di kertas itu pada mereka berdua tentang ibu Fatir dan Sinta yang sedang di culik dan mereka meminta kalau harus membawa Fatir ke bukit sarang setan itu.
Mereka pun bertanya bagaimana caranya mereka membawa Fatir ke sana sedangkan Fatir saja tidak ada bersama mereka.
Kemudian kakek amin menjelaskan rencananya kepada mereka berdua tentang apa yang telah di pikirkannya untuk menghadapi situasi ini.
Setelah mendengar rencana itu dari kakek amin mereka berdua mengerti dan bersiap untuk segera berangkat ke bukit sarang setan tempat rencana pertemuan yang di inginkan oleh penculik itu yakni bukit sarang setan.
Tiba-tiba kyai Abdullah mendekati dan menanyakan perihal apa yang mereka bahas. Kakek Amin pun terkejut melihat kemunculan kyai Abdullah yang mendadak saat itu.
Mereka berdua dan Kakek amin pun segera mencium tangan kyai Abdullah dan kakek amin pun segera menjelaskan yang terjadi.
__ADS_1
Setelah hal itu diceritakan pada kyai Abdullah, beliau pun mengangguk tanda memahami situasi yang mereka hadapi dan menyetujui apa yang mereka rencanakan.
Akhirnya mereka bertiga berpamitan dari pondok pesantren al amin itu bersegera berangkat ke bukit sarang setan dengan perbekalan seadanya.
Setelah itu mereka bertiga bersegera menuju bukit sarang setan yang di mana untuk mencapai tempat itu harus melewati berbagai tebing curam dan batu batuan besar dan juga batu yang sangat tajam di dalam perjalanannya.
Juga banyak terdapat pohon - pohon berduri yang begitu banyak yang menutupi jalan menuju puncak bukit Sarang setan itu.
Namun hal itu tidak menurunkan semangat mereka bertiga untuk mencapai puncak bukit sarang setan itu demi menyelamatkan ibu Fatir dan Sinta yang sedang di culik.
Tak berapa lama mereka telah tiba di atas bukit sarang setan itu dan segera menjalankan rencana mereka.
Kakek amin pun berteriak "HEY, PENCULIK DIMANA KALIAN, AKU TELAH MEMBAWA APA YANG KALIAN INGINKAN?" ucap kakek amin dengan lantang sambil mendorong seseorang yang di tutup kain hitam kepalanya
Kemudian terdengar suara dari kejauhan "HAHAHA, AKHIRNYA KAU DATANG JUGA!!! BAGAIMANA HADIAH YANG KU BERIKAN PADAMU DI RUMAH ITU SANGAT BAGUS SEKALIKAN!!! HAHAHA" Ucap suara itu sambil tertawa
Kakek amin memahami maksudnya tentang hadiah adalah yakni tentang mayat Qitmir yang dibunuh.
Namun kakek amin berusaha untuk tidak terpancing atas hal itu dan dia tetap berusaha tenang meskipun hatinya marah mengingat kalau orang yang bersuara itu lah yang membunuh binatang kesayangan nya yaitu Qitmir.
Kemudian sesosok orang berjubah hitam keluar dari persembunyian nya beserta 2 orang pengawalnya yang masing masing menjaga mereka yaitu ibu Fatir dan Sinta dalam keadaan tertutup kain hitam kepala mereka dan juga tangan mereka pun terlihat di ikat.
"Ternyata kau telah melakukan pilihan yang benar, benar benar anak baik" Ucap sosok itu yang suaranya terdengar seperti menggema sambil tertawa di atas bukit sarang setan itu.
Suasana di sana terlihat sangat mencekam dan seperti tidak ada kehidupan ditempat itu karena itulah makanya tempat itu di namakan bukit sarang setan karena memang hanya setan lah yang menempati tempat itu sepertinya.
Kemudian mereka pun bersegera memulai pertukaran itu kakek amin pun menyuruh seseorang yang mengenakan tutup kain hitam di kepalanya itu untuk berjalan maju. Dan ternyata di ikuti oleh pengawal yang membawa Sinta juga menyuruh sinta untuk berjalan maju kepada kakek amin.
Setelah Sinta sudah di pegang kakek amin maka segera Sinta di bukakan penutup kepala nya dan di amankan oleh syamsuri yang berjaga di belakang kakek amin.
"HEY, KENAPA PENJAGA SATUNYA TIDAK MELAKUKAN PERTUKARAN UNTUK SANDERA YANG SATUNYA?" Teriak kakek amin kepada pengawal yang belum menyuruh ibu Fatir untuk berjalan ke arahnya.
Ketika seseorang yang ditukar itu di kira adalah Fatir, dan ketika mereka memegangnya maka mereka pun berucap "HAHA,KARENA YANG DI TUKAR HANYA SATU ORANG MAKA KAMI PUN HANYA MENYERAH KAN SATU ORANG" ucap salah satu pengawal nya itu sambil tertawa jahat.
"DASAR KURANG AJAR!!! KENAPA KAU MELAKUKAN HAL INI, SANGAT TIDAK ADIL" Ucap kakek amin dengan wajah kesal karena rencananya tidak berjalan sesuai rencana.
Kemudian kain penutup kepala yang menutupi seseorang itu hendak di buka oleh pengawal penculik itu ternyata ketika di buka maka yang terlihat bukanlah Fatir melainkan guntur yang menyamar menjadi sosok Fatir yang mereka inginkan.
__ADS_1
Dan di saat itu juga guntur yang sedang menggigit jarum kilat sakti miliknya itu pun langsung segera melemparkan dengan mulutnya ke arah leher pengawal yang memegangnya itu. Seketika itu juga pengawal itu terkapar akibat jarum kilat sakti nya.
Dan guntur segera melompat dan mendekat ke arah pengawal satunya yang masih memegang ibu Fatir dan ketika tangan guntur sudah mendekati beberapa senti saja dari tubuh ibu Fatir untuk menyelamatkan nya.
Tiba tiba guntur seperti melihat kilatan api yang seperti menyambar ke arah tangannya. Seketika itu dia pun menjauhkan tangannya dan segera berguling menuju ke arah kakek amin menjauh dari pengawal yang menjaga ibu Fatir.
Ternyata itu adalah serangan kejutan yang di keluarkan oleh penculik berjubah hitam itu kepada guntur.
Kini guntur, kakek amin, syamsuri, dan Sinta sudah berada di posisi yang berhadapan dengan penculik berjubah hitam itu dengan saling melindungi satu sama lain.
"KALIAN SEMUA TERNYATA SEDANG BERMAIN MAIN DENGAN KU YA!!! KALIAN TIDAK MENGANGGAP INI ANCAMAN SERIUS RUPANYA!!! BAIKLAH KALAU ITU KEINGINAN KALIAN MAKA JANGAN HARAP WANITA TUA INI AKAN KEMBALI DENGAN SELAMAT JIKA KALIAN TIDAK BENAR-BENAR MEMBAWA BOCAH DENGAN KEKUATAN MATA ELANG ITU, KU BERI KALIAN WAKTU 3 HARI DI TEMPAT INI KEMBALI JIKA LEWAT DARI 3 HARI KALIAN TIDAK JUGA MEMBAWANYA MAKA KALIAN HANYA AKAN MELIHAT WANITA TUA INI MENJADI SEPERTI HADIAH YANG KUBERIKAN PADAMU DI RUMAHMU ITU, INGATLAH AKAN HAL ITU!!! Teriak penculik berjubah hitam itu kepada mereka dengan nada mengancam.
Pengawal penculik itu yang memegang ibu Fatir pun mendekati kepada penculik berjubah hitam itu. Kemudian penculik berjubah hitam itu menggerakkan tangannya ke pipi ibu Fatir dan tiba-tiba "AH,SAKIIT" teriak ibu Fatir kesakitan.
Ternyata penculik berjubah hitam itu melukai pipi ibu Fatir dengan kukunya yang tajam seperti silet itu sebagai tanda ancaman yang benar-benar dan bukan lagi main main kepada mereka semua.
"Hentikan!!! Jangan lanjut kan siksaan itu pada istri ku!!! " Ucap syamsuri sedih melihat istri nya disiksa seperti itu didepan matanya.
"Baiklah, aku akan menurutimu kali ini" Ucap kakek amin tertunduk melihat ancaman itu.
"Anak pintar, seharusnya kau dari tadi jangan melawanku, akibatnya hal yang tidak perlu ini sebenarnya tidak harus terjadi, ingatlah kalian ku beri waktu 3 hari aku akan menunggu di sini 3 hari lagi ingatlah akan hal itu, jangan lagi berbuat bodoh seperti kali ini" Ucap penculik berjubah hitam itu dan kemudian dirinya pun seperti melemparkan sesuatu ke tanah dan tiba tiba asap tebal menyelimuti mereka semua hingga penculik itu dan para pengawalnya yang membawa ibu Fatir serta pengawalnya yang di lumpuh kan oleh guntur tadi pun menghilang bersama sama tanpa jejak.
Mereka berempat pun hanya terbatuk batuk ketika mendapati asap tebal itu dan setelah asap itu menghilang mereka pun terkejut karena tidak lagi melihat penculik itu di depan mereka beserta ibu Fatir.
"Istriku, baru saja aku melihat mu, kini kau harus menghilang lagi dari hadapan ku" Ucap syamsuri tertunduk lesu.
"Ini semua salahmu!!! Jika tidak pasti istri ku bisa di selamat kan" Tiba-tiba syamsuri menunjuk dan menyalahkan kakek amin dengan wajah kesal
Guntur pun membela kakek amin bahwa kakek amin tidak bersalah.
Kakek amin pun menenangkan syamsuri yang sedang kesal itu dengan mengatakan bahwa dirinya memang salah dan pantas di salahkan. Dirinya mengatakan hanya berusaha yang terbaik agar mereka semua selamat tapi apa mau di kata karena rencana mereka kali ini hanya bisa menyelamatkan sinta saja ungkap kakek amin dengan wajah merasa bersalah.
Mendengar pengakuan itu syamsuri pun merasa bersalah telah berkata seperti itu dan telah menyinggung perasaan kakek amin. Hingga dirinya pun meminta maaf kepada kakek amin atas apa yang telah di katakan nya tadi karena dia terbawa emosinya.
Kakek amin yang memahami perasaan syamsuri pun memaklumi rasa kehilangan nya karena dirinya juga sudah kehilangan Qitmir. Akhirnya mereka berempat pun segera turun dari tempat itu dan kembali ke pondok pesantren untuk memikirkan langkah selanjutnya.
Episode 45
__ADS_1