
Saat itu Ayah Fatir dan Guntur masih terlihat tertidur beristirahat di ranjang nya masing masing yang ada di ruang medis.
Kakek Amin yang merasa kalau keadaan Ayah Fatir dan Guntur sudah baik baik saja pun sudah cukup merasa tenang hatinya. karena saat ini mereka berdua hanya sedang dalam tahap pemulihan kondisi tubuh mereka.
Maka saat itu juga kakek amin merasa khawatir karena sebelumnya meninggalkan Fatir di hutan yang sedang tidak terkendali sendirian.
Kakek amin berinisiatif untuk kembali mendatangi Fatir ke tempat sebelumnya untuk memastikan keadaan Fatir.
Kemudian kakek amin memohon izin dan berpamitan kepada kyai Abdullah untuk mencoba mengecek kondisi Fatir di hutan.
Mendengar hal itu kyai Abdullah pun mengizinkan kakek amin untuk melihat situasi dan kondisi Fatir di sana dan berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan Fatir yang ditinggalkan sebelumnya di sana.
Setelah kyai Abdullah mengizinkan dirinya untuk pergi kembali ke hutan mencari Fatir maka dirinya pun bersiap siap untuk berangkat kembali dan berpamitan kepada kyai Abdullah untuk segera berangkat menuju lokasi hutan tempat Fatir menghadang mereka semalam.
Tak berapa lama kakek amin sudah berada di hutan itu dan mencoba mencari Fatir disana siapa tau dirinya menemukan Fatir seperti kondisi sebelumnya setelah tidak terkendali itu.
Namun, setelah berkeliling mencari cari begitu lama kakek amin nampak bingung ke mana sebenarnya Fatir pergi setelah itu.
Ketika sudah tidak tahu lagi hendak kemana mencari Fatir maka kakek amin pun tiba-tiba teringat tentang ibu Fatir dan Sinta yang telah mereka tinggalkan kemarin.
Kakek amin memikirkan keadaan mereka dan merasa khawatir apakah mereka baik baik saja. Maka saat itu juga kakek amin segera bersiap menuju ke tempat nya yaitu di seberang sungai.
Ketika kakek amin berlari tergesa-gesa dari tempat itu menuju pinggir sungai, tiba tiba kakek amin mendapati seseorang nenek yang sedang mengambil air di sungai dengan embernya.
Melihat hal itu kakek amin pun merasa kasian dan mencoba menawarkan bantuannya kepada nenek itu dengan sopan.
Nenek itu pun mempersilahkan kakek amin untuk membantunya. Dan setelah selesai mengambilkan air itu untuk nenek itu.
__ADS_1
Maka nenek itu berterima kasih kepada kakek amin atas bantuannya. Nenek itu pun menawarkan kepada kakek amin agar mampir ke tempat nya sambil menunjukkan arah rumahnya.
Namun, karena kakek amin juga terburu-buru untuk menjenguk ibu Fatir dan Sinta maka kakek amin pun menolak nya dan berkata dengan sopan pada nenek itu agar lain kali saja dirinya mampir ke tempat nenek itu.
Tiba-tiba nenek itu tertawa dan kemudian berkata "HE-HE-HE-HE, BAIKLAH KALAU BEGITU, Kau sungguh berhati baik, sekali lagi Terima kasih telah menolong ku" Kata nenek itu sambil tersenyum.
Kakek amin pun membalas senyuman nenek itu dan mengangguk kan kepala kemudian sejenak kakek amin mengalihkan pandangan nya untuk mencari perahu yang dia simpan sebelumnya.
Namun, kakek amin tersadar kalau dia lupa menanyakan siapa nama nenek itu dan setelah itu pun dia membalikkan kepalanya ke arah nenek tadi.
Tapi ternyata nenek itu sudah hilang tanpa jejak, kakek amin memperhatikan sekeliling ke arah jalan menuju rumah yang di tunjuk sebelumnya oleh nenek itu namun kakek amin tidak melihat sama sekali kalau ada orang yang melewati jalan itu.
Kakek amin pun bingung siapa sebenarnya nenek itu kenapa bisa begitu cepat sekali dirinya membawa air itu.
Dirinya memikirkan hal itu sejenak, namun setelah itu kakek amin mengabaikan nya dan dirinya pun bersegera kembali mengingat tujuannya dan mencari perahu yang di simpan nya.
Tak berapa lama dirinya menemukan perahu itu dan segera menggunakannya untuk menyeberangi sungai itu ke rumah nya untuk menemui mereka berdua yaitu ibu Fatir dan Sinta.
Kakek amin pun berkata "Assalamu'alaikum" Dengan tersenyum.
Namun ternyata tidak ada jawaban dari dalam rumah. Melihat rumah yang nampak berdebu dan tidak ada orang yang menyahut salamnya. Kakek amin yang tersenyum pun raut wajahnya berubah menjadi panik karena merasakan ada sesuatu hal yang pasti telah terjadi.
Dirinya pun bergegas masuk kedalam rumah dan memasuki ruang demi ruang di dalam rumahnya sambil meneriaki mereka berdua tapi ternyata tidak menemukan mereka berdua.
Kemudian kakek amin melihat darah berceceran di ujung dapur dan mengikuti arah darah itu yang ternyata sampai ke belakang rumah nya.
Dan ternyata terlihat lah mayat Qitmir yaitu kucing hutan peliharaan kakek yang telah bersimbah darah karena dibunuh oleh seseorang dan di buang di belakang rumahnya dan di mulut dari Qitmir itu terdapat secarik kertas.
__ADS_1
Kakek Amin yang melihat hal itu pun menangis karena kucing kesayangannya bernasib malang dan harus berakhir dengan tragis seperti ini.
Dirinya melihat kertas itu dan mengambilnya kemudian membacanya yang bertuliskan "MEREKA BERDUA ADA DI TANGANKU, JIKA KAU INGIN MENGAMBIL MEREKA BERDUA MAKA BAWALAH BOCAH YANG MEMILIKI KEKUATAN MATA ELANG ITU PADAKU SEBAGAI TEBUSANNYA TEMPAT PERTUKARANNYA YAITU DI ATAS BUKIT SARANG SETAN, JIKA TIDAK MAKA KAU HANYA AKAN MELIHAT MAYAT MEREKA SEPERTI HEWAN KESAYANGAN MU ITU" Begitulah akhir kalimat dari pesan ancaman itu.
kakek amin yang membaca pesan itu pun terkejut karena merasa bingung, siapa sebenarnya yang telah menculik mereka berdua.
Apakah yang menculik mereka adalah komplotan dari pasukan bambu kuning?
Ataukah dari komplotan lain?
Tapi apa alasan komplotan lain menginginkan Fatir sedangkan Fatir tidak memiliki masalah dengan mereka.
Kakek amin saat ini pun di hantui perasaan yang campur aduk, hingga membuat hatinya gelisah apa yang harus ia lakukan dan harus katakan kepada ayah Fatir.
Fatir saja dia belum menemukan nya, kini malah ibu Fatir dan Sinta yang diculik orang lain.
Apa yang harus di lakukan dirinya pikir kakek amin termenung.
Dari ketermenungan itu akhirnya dia tersadar dan bersegera berjalan masuk ke dalam rumahnya kemudian dirinya mengambil cangkul dan segera menggali tanah dan akhirnya dirinya pun menguburkan Qitmir sambil meneteskan air mata kesedihan karena teringat masa-masa saat Qitmir masih dari bayi di rawat oleh kakek amin hingga sebesar ini.
Sambil menguburkan itu pun terlintas kenangan bersama Qitmir di benaknya dan hal itu tiba-tiba membuatnya tersenyum sesaat. Namun setelah bayangan itu hilang maka kembali lagi dirinya menangisi Qitmir saat menguburkannya.
Suasana saat itu pun seperti di selimuti awan kelabu di hati kakek amin yang tengah bersedih atas meninggalnya Qitmir kucing kesayangannya sekaligus menjadi teman hidupnya dan bahkan telah di anggap kakek amin sebagai keluarganya sendiri sebelum kedatangan Fatir, ibunya, dan Sinta.
Karena Qitmir lah yang sering membuat hari hari nya tidak pernah sepi dengan tingkahnya yang lucu setiap harinya menemani kakek amin.
Setelah menguburkan Qitmir, maka kakek amin bersegera masuk ke dalam rumah nya dan duduk termenung seperti orang yang sedang melamun.
__ADS_1
Tentu saja hal itu di akibatkan rasa kehilangan yang sangat mendalam di hati seorang kakek amin yang telah menganggap Qitmir adalah sesuatu yang penting dari dirinya kemudian hilang begitu saja dihadapannya dengan cara yang mengenaskan.
Episode 44