
Gemilang masih sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri, memikirkan apa saja tadi kira kira yang di katakan lebih tepatnya di teriakkan oleh Cahaya, karena sungguh Gemilang tak mendengar suara teriakan Cahaya.
Cahaya menatap nyalang ke arah Gemilang, karena Cahaya tahu bahwa Gemilang sang suami tidak terserang penyakit tuli dan budeg, namun Cahaya menyimpulkan penyebab Gemilang diam, karena Gemilang sedang berpikir apa saja tadi yang di katakan oleh Cahaya.
Cahaya yang tersulut emosi langsung berteriak sekencang kencangnya dan sekeras kerasnya, Cahaya melakukan itu supaya Gemilang mendengar teriakan dari Cahaya.
"Papa kenapa malah diam saja kayak patung dan kayak tembok buruan papa ke toilet buat cuci muka" teriak Cahaya sekencang kencangnya dan sekeras kerasnya, sedangkan Gemilang yang mendengar teriakan dari Cahaya langsung membubarkan dan membuyarkan lamunannya, lalu Gemilang menatap ke arah Cahaya dengan tatapan bingung.
Bagaimana Gemilang tidak bingung kini Cahaya menyuruh Gemilang buat cuci muka ke kamar mandi, tapi Gemilang mau langsung ke kamar mandi takut di komentari oleh Cahaya seperti tadi yang menyuruh supaya Gemilang menjawab perkataan Cahaya dahulu baru masuk ke kamar mandi, sehingga kini Gemilang seperti buah semangka, koq buah semangka maksudnya kini Gemilang seperti buah simalakama.
Sehingga kini Gemilang bukannya menjawab perkataan dari Cahaya atau Gemilang langsung pergi ke kamar mandi untuk cuci muka, namun yang di lakukan Gemilang saat ini adalah Gemilang bengong dan memikirkan nasibnya yaitu langsung ke kamar mandi atau menjawab perkataan Cahaya terlebih dahulu.
__ADS_1
Cahaya yang telah menunggu selama beberapa puluh jam kelamaan dong, maksudnya setelah Cahaya menunggu selama beberapa puluh menit, namun Cahaya tidak mendengar suara jawaban dari Gemilang, membuat Cahaya geram sekali.
"Papa benar benar hobi bengong dan melamun, mama suruh papa ke kamar mandi buat cuci muka tapi kenapa papa masih ada di sini, kalau papa ngga pergi dari hadapan mama buat cuci muka ke kamar mandi sekarang juga jangan harap papa dapat jatah malam ini" teriak Cahaya dengan sangat keras dan sangat kencang, sementara Gemilang yang mendengar ancaman yang di keluarkan oleh Cahaya, membuat Gemilang buru buru membubarkan dan membuyarkan semua lamunannya yang tadi berputar putar di kepalanya.
Bukan hanya itu saja bahkan Gemilang langsung berjalan untuk cuci muka ke kamar mandi, tanpa berpamitan dan tanpa menjawab perkataan Cahaya walaupun sepatah dua patah kata, bahkan satu huruf saja tidak keluar dari Gemilang, karena jujur Gemilang takut nanti malam ngga dapat jatah dari Cahaya.
Cahaya yang melihat Gemilang yang perlahan menjauh dari pandangannya, hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Gemilang sang suami yang di ancam tidak akan dapat jatah nanti malam dari Cahaya membuat Gemilang langsung kabur dari hadapan Cahaya.
"Lebih baik sambil menunggu suami aku cuci muka, aku berhias dulu soalnya aku takut make up yang ada di wajah aku luntur, walau kemungkinan kecil untuk luntur karena make up yang aku gunakan sangatlah mahal dan anti luntur tetap saja untuk antisipasi mending aku tancapkan make up lagi ke muka aku" batin Cahaya sambil tetap melangkah menuju ke meja riasnya.
Gemilang kini sudah sampai di dalam kamar mandi, tanpa menutup pintu Gemilang langsung saja menerobos masuk ke dalam kamar mandi, lalu berjalan dengan kecepatan yang sangat cepat menuju ke kran air tujuannya untuk membasuh muka.
Setelah Gemilang berjalan selama beberapa puluh jam kelamaan dong, maksudnya setelah Gemilang berjalan selama beberapa puluh menit, kini Gemilang telah sampai di depan kran air, tanpa ragu Gemilang memutar kran air sehingga air meluncur dari kran air lalu tanpa aba aba dan tanpa di komando, Gemilang langsung membasuh mukanya dengan kedua tangannya melalui kran air.
__ADS_1
Setelah Gemilang beberapa kali membasuh muka, Gemilang mematikan kran air lalu dengan cepat Gemilang menyambar handuk yang di gantung di sebelahnya, setelah handuk ada di tangannya Gemilang tanpa aba aba Gemilang langsung membasuh wajahnya yang basah dengan menggunakan handuk.
"Aku harus cepat cepat menghampiri istri aku lagi, soalnya aku takut mendapatkan ancaman dari istri aku, yang katanya ngga akan memberi jatah ke aku nanti malam, sebaiknya aku sekarang bergegas menghampiri istri aku lagi" gumam Gemilang setelah mukanya kering dan meletakkan handuk tersebut ke tempat semula.
Cahaya yang telah menuntun kakinya selama beberapa menit, kini sudah sampai di depan meja riasnya, membuat Cahaya langsung mendaratkan bokongnya ke kursi yang ada di depan meja riasnya, lalu tangannya Cahaya terulur mengambil make up yang ada di meja, memang Cahaya meletakkan alat make up di ruang kerja Gemilang sang suami, supaya gampang untuk Cahaya menancapkan make up ke wajahnya sehingga alat make up Cahaya tidak hanya di kamarnya saja.
Setelah alat make up bedak terambil di tangan, kini Cahaya membuka isi bedak tersebut, lalu Cahaya menempelkan bedak yang ada di tangannya ke wajahnya, dengan telaten Cahaya menancapkan bedak ke wajahnya yang cantik jelita walaupun umurnya sudah setengah abad.
Setelah Cahaya berkali kali menancapkan bedaknya ke wajahnya, dan Cahaya rasa bedaknya sudah rata, kini Cahaya menutup kembali bedak yang ada di tangannya, lalu Cahaya meletakkan bedak tersebut ke meja riasnya kembali, lalu Cahaya menatap ke arah pantulan cermin yang menampilkan dirinya sambil mengumbar senyum lebar di wajahnya.
"Lebih baik aku cuma menancapkan bedak saja ke wajahnya aku, soalnya walaupun aku cuma menancapkan bedak ke wajah juga wajahnya aku sudah kelihatan fresh, jadi aku ngga perlu gunakan maskara, lipstik, eyeliner, eyeshadow, pensil alis, dan aku tak perlu juga memasang bulu mata kan cuma mau menemui tunangan lintang doang, kecuali kalau aku mau menemui rekan bisnis atau meeting baru aku akan menggunakan itu semua" batin Cahaya tanpa melunturkan senyuman lebar di wajahnya.
Gemilang mulai melangkah menuju ke ruang kerjanya dengan langkah yang cepat, supaya Gemilang cepat sampai di depan Cahaya, karena Gemilang ingin supaya Cahaya tidak marah kepadanya, dan yang paling penting supaya Cahaya tetap memberi jatah ke Gemilang.
__ADS_1
"Aku harus cepat sampai di depan istri aku supaya istri aku ngga marah lagi ke aku, dan yang paling penting adalah supaya aku tetap dapat jatah dari istri aku" batin Gemilang sambil tetap melangkah ke ruang kerjanya dengan langkah cepat.