Suami Yang Dapat Karmanya

Suami Yang Dapat Karmanya
Masih Tetap Manis Gue


__ADS_3

Lintang yang telah sampai di meja dapur, langsung kedua tangannya dengan gesit langsung membuat sirup untuk dirinya, sang mama, dan tunangannya.



Tanpa ba-bi-bu kini Lintang langsung meletakkan sirup pilihan dirinya ke meja, lalu Lintang meracik satu persatu ke dalam gelas, pertama Lintang mengambil sendok dan menaburkan gula ke dalam gelas sebanyak satu sendok ke dalam gelas secara bergantian.



Setelah itu Lintang langsung mengambil es batu, dan meletakkan es batu ke dalam gelas yang sudah di isi dengan gula, es batu tersebut di letakkan ke dalam tiga gelas, setelah es batu kini Lintang mengambil sirup lalu menuangkan isi sirup ke dalam gelas satu persatu secara bergantian.



Lalu Lintang mengambil sendok dan mengaduk gelas yang berisi sirup secara bergantian, tak lupa Lintang mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, mungkin karena Lintang merasa bahagia sehingga mengeluarkan senyum seperti itu.


"Alhamdulillah gue sudah selesai bikin sirup, bahkan gue sudah mengaduk sirup supaya manis, walaupun masih tetap manis gue di banding sirup, lebih baik gue ke ruang tamu sekarang, soalnya takut mama gue kelamaan menemani Bagas mengobrol, dan gue juga takut malah Bagas canggung sama mama gue, dan lebih penting lagi Bagas pasti kehausan karena menunggu gue yang terlalu lama bikin minum" batin Lintang sambil meletakkan sendok ke tempat asalnya.


Lintang kini menata semua gelas satu persatu bergantian ke nampan, setelah semua beres dan gelas tertata rapi di nampan, kini Lintang yang telah berhasil membuatkan tiga minuman kini bersiap untuk menuju ke ruang tamu.



Lintang memegang nampan yang menampung gelas yang berisi sirup, lalu Lintang membawa nampan dan teman temannya ke ruang tamu, Lintang mulai melangkahkan kedua kaki jenjangnya ke ruang tamu, Lintang melangkah sambil tetap tersenyum lebar dan tak pernah melunturkan senyum lebar dari wajahnya.


"Gue harus buru buru sampai ke ruang tamu, karena gue ngga mau mama gue bikin canggung calon suami gue alias Bagas, dan yang lebih penting gue takut kalau Bagas kehausan, tapi kayaknya minum kayak gini di jamin bikin haus hilang dan yang ada badan menjadi segar, kenapa gue ngga bawa sirup sekalian di nampan, supaya kalau mama gue atau Bagas masih haus mereka berdua tinggal nuangin sirup ke gelas mereka berdua, lebih baik gue fokus supaya cepat sampai ke ruang tamu, urusan gue belum bawa sirup urusan nanti saja setelah gue bawa minum ke mereka berdua, ternyata mereka berdua masih haus baru gue ambilkan sirup buat mereka berdua" batin Lintang sambil tetap berjalan ke arah ruang tamu dengan langkah cepat, namun Lintang tetap hati hati karena membawa nampan yang berisi es sirup buatannya.

__ADS_1


Setelah Lintang berjalan selama beberapa puluh jam, kelamaan dong maksudnya setelah Lintang berjalan selama beberapa puluh menit, kini Lintang sudah ada di ruang makan.



Cahaya, Gemilang, dan Bagas yang mendengar suara sepatu mendekat, membuat ketiganya kompak menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari suara sepatu Lintang, karena fokus dengan nampan yang di bawa membuat Lintang tak tahu kalau dirinya menjadi pusat perhatian dari ketiga orang yang ada di ruang tamu tersebut.



Gemilang menerbitkan senyuman lebar di wajahnya begitu melihat bahwa Lintang yang datang, membuat Gemilang seperti mendapatkan angin segar dan minuman.



Cahaya menatap ke arah Lintang sambil mengulum senyum tipis, sementara Bagas mendadak kaget dan syok sungguh Bagas mengira kalau Lintang sudah tahu perselingkuhan dirinya dan Jelek sang sekretaris sendiri.




Lalu Lintang mengambil gelas dari nampan lagi dan meletakkan di depan Bagas, kini Lintang mengambil satu gelas terakhir lalu menempatkan di depan tempat duduknya, saat Lintang akan bersiap duduk di samping Bagas, terdengar suara yang tak asing di telinganya Lintang, membuat Lintang mengurungkan niatnya untuk duduk.


"Lintang kenapa kamu ngga buatkan minuman sekaligus buat papa" celetuk Gemilang membuat Lintang yang masih berdiri, menatap ke arah sumber suara, yaitu menatap ke arah Gemilang lalu berkata.


"Papa sejak kapan ada di sini, koq ngga bilang bilang kalau ada di sini" jawab Lintang sambil mengerutkan keningnya heran, sementara Gemilang menatap tajam ke arah Lintang lalu menjawab.

__ADS_1


"Lintang papa sudah dari dulu ada di sini sebelum kamu lahir ke dunia, asal kamu tahu ini itu rumah papa, jadi wajar papa ada di sini, kenapa kamu pakai nanya kayak gitu" ketus Gemilang sambil menatap nyalang ke arah Lintang, sementara Lintang menoleh ke arah Bagas, sungguh Lintang malu sekali mempunyai papa yang mode tak paham, sementara Cahaya yang masih menginjak sepatunya Gemilang, kini menambah cubitan di pinggang Gemilang.


Sungguh Cahaya kesal dengan jawaban yang di keluarkan Gemilang, apalagi di situ ada tunangan Lintang alias calon menantunya yaitu Bagas.



Gemilang yang menerima serangan dadakan berupa cubitan di pinggangnya, langsung berteriak namun buru buru Gemilang menutup mulutnya supaya teriakannya tak terdengar jelas.


"Papa maksudnya Lintang itu sejak kapan papa ada di ruang tamu, bukan menanyakan sejak kapan papa ada di rumah ini, makanya kalau ada pembagian otak itu datang, biar otaknya papa di tambahin supaya makin pintar" jelas Cahaya dengan nada ketus dan tatapan membunuh ke arah Gemilang, bahkan tangannya Cahaya masih mendarat sempurna di pinggang Gemilang, bukan hanya itu tapi kakinya Cahaya juga masih betah menginjak kakinya Gemilang.


Gemilang hanya menganggukkan kepalanya sambil menutup mulutnya supaya bisa meredam teriakannya, sementara Lintang mengulum senyum tipis di wajahnya, sedangkan Bagas menahan tawa yang hampir meledak, sungguh Bagas ingin sekali tertawa mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya Gemilang, namun Bagas berusaha menahannya.



Lintang menatap ke arah Gemilang lalu perasaan Lintang antara senang dan kasihan, senang karena Gemilang tidak bertindak malu maluin di depan Bagas, namun Lintang juga merasa kasihan karena melihat Cahaya yang masih mendaratkan cubitan di pinggangnya Gemilang.



Kini Lintang mencoba membantu Gemilang, supaya tangannya Cahaya tidak mencubit pinggang Gemilang terus menerus, apalagi tak sengaja tatapan Lintang dan Gemilang bertemu, seakan Gemilang meminta bantuannya Lintang supaya menghentikan cubitan yang di berikan oleh Cahaya.



Cahaya yang tersulut emosi membuat Cahaya masih memberikan pelajaran kepada Gemilang, berupa cubitan di pinggangnya Gemilang, sebenarnya Cahaya tak ingin melakukan itu, namun Cahaya takut kalau melepaskan cubitan di pinggangnya Gemilang membuat Gemilang berbicara dengan asal dan ceplas ceplos.

__ADS_1


__ADS_2