
Sakti seorang pria muda yang kini berumur 24 tahun dia merupakan seorang ceo muda di perusahaan yang sangat terkenal di negara tersebut, wajah Sakti yang tampan membuat banyak orang yang jatuh cinta dan tergila gila ke Sakti, namun entah mengapa di antara banyaknya wanita yang berkerumun memperebutkan Sakti tidak ada wanita satupun yang nyantol di hati Sakti.
Kedua orang tua Sakti juga termasuk orang yang kaya raya dan konglomerat, karena mama Sakti dan papa Sakti juga merupakan seorang CEO di salah satu perusahaan di negara tersebut, Sakti merupakan anak pertama dari dua bersaudara, adik Sakti bernama Hebat, nama papanya Sakti adalah Jupiter, sedangkan nama mamanya Sakti adalah Pelangi.
Kini Sakti sedang bergelut dengan beberapa banyak dokumen yang ada di meja kerjanya, dengan telaten Sakti membaca dokumen dokumen yang akan di bubuhi tanda tangan olehnya, karena Sakti orang yang sangat teliti sehingga tidak langsung menandatangani suatu dokumen sebelum dirinya mengecek dan membaca isi dokumen tersebut.
"Ternyata banyak banget dokumen yang membutuhkan tanda tangan dari gue, tapi walaupun banyak tetap gue harus hati hati dan tetap mengecek, bukan cuma mengecek tapi gue harus membaca isi dari dokumen yang membutuhkan tanda tangan gue, karena gue ngga mau asal memberikan tanda tangan ke dokumen" batin Sakti sambil membolak balik dokumen yang ada di tangannya.
Gemilang yang telah melangkahkan kakinya dengan cepat, kini sudah berada di ruang kerja miliknya, lalu kedua matanya Gemilang mengedarkan pandangan mencari keberadaan Cahaya sang istri, setelah Gemilang menemukan keberadaan sang istri tanpa ragu Gemilang langsung memacu kakinya menuju ke tempat istrinya berada, sambil Gemilang mengembangkan senyum lebar di wajahnya.
Gemilang yang telah melangkah selama beberapa menit kelamaan dong, maksudnya setelah Gemilang telah melangkah selama beberapa puluh menit, kini Gemilang sudah berada di sebelah Cahaya, Gemilang mengerutkan keningnya tatkala melihat Cahaya mengumbar senyum lebar ke arah cermin besar yang biasa di gunakan untuk merias wajah Cahaya.
__ADS_1
Cahaya yang sedang fokus menerbitkan senyum lebar ke arah cermin besar, sampai tak menyadari kehadiran Gemilang, melihat tingkah Cahaya yang menurut Gemilang aneh membuat Gemilang berpikir apakah di depan cermin besar terlukis wajah pria tampan, sehingga Cahaya tersenyum lebar seperti saat ini.
"Mama sedang senyum sama siapa ? apa di cermin ada gambar wajahnya papa pria yang paling ganteng sehingga membuat mama tersenyum" ucap Gemilang sambil menatap ke arah cermin besar yang ada di hadapannya, sedangkan Cahaya yang mendengar ocehan Gemilang langsung mendelik ke arah Gemilang melalui pantulan cermin besar yang ada di depannya.
"Papa ngapain sih datang datang bilang kayak gitu, memangnya kenapa kalau mama senyum, ingat senyum itu ibadah lho jadi ngga usah melarang mama buat tersenyum" ketus Cahaya sambil menatap nyalang ke arah Gemilang secara langsung tanpa perantara cermin besar, sementara Gemilang menggaruk garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Mama papa juga tahu kalau senyum itu ibadah, papa juga ngga melarang mama buat tersenyum, tapi tadi papa cuma bertanya memangnya kenapa mama tersenyum istilah gaulnya apa penyebab mama tersenyum" jelas Gemilang sambil mengeluarkan senyum paksa di wajahnya, sedangkan Cahaya melototkan kedua matanya ke arah Gemilang.
"Papa ngga usah mulai drama deh, buruan kita berdua temui Bagas kasihan dia pasti dia kesepian" teriak Cahaya lalu dirinya beringsut berdiri lalu bersiap melangkahkan kakinya, sedangkan Gemilang mengerutkan keningnya heran dan bingung.
"Papa mama kan tadi sudah bilang sebelum papa cuci muka, bahwa Lintang sedang membuatkan minuman buat Bagas, sehingga Lintang menyuruh mama buat menemani Bagas, tapi karena Bagas sepertinya canggung ada mama makanya mama ke ruang kerja papa buat mengajak papa, supaya ikutan menemani Bagas biar ngga canggung" teriak Cahaya dengan sangat keras dan sangat kencang, jangan lupakan tatapan nyalang Cahaya yang mengarah ke Gemilang, sedangkan Gemilang menelan salivanya berkali kali mendengar teriakannya Cahaya dan melihat tatapan nyalang yang di keluarkan Cahaya untuk dirinya.
"Iy iy iya papa baru ingat mama, ayo sebaiknya kita berdua pergi temui Bagas sekarang juga supaya dia ngga kesepian lagi" jawab Gemilang terbata bata, dari pada Cahaya marah dan emosi kepada Gemilang lebih baik Gemilang langsung mengajak Cahaya menemui Bagas, sementara Cahaya yang mendengar omongan Gemilang tanpa komando langsung melangkahkan kakinya tanpa menjawab dan tanpa menunggu Gemilang.
Setelah Gemilang melihat Cahaya berjalan menjauh darinya membuat Gemilang bisa bernafas dengan lega, karena sepertinya Gemilang bisa menerjang badai, kini Gemilang mengekori jejak langkah kakinya Cahaya, sambil Gemilang mengeluarkan senyum lebar di wajahnya.
__ADS_1
Setelah Cahaya melangkah selama beberapa menit kini Cahaya sampai di depan pintu ruang kerja Gemilang, lalu tangannya Cahaya membuka pintu ruang kerja tersebut, setelah pintu terbuka Cahaya langsung keluar dari ruang kerja Gemilang, lalu Cahaya berjalan ke arah ruang tamu, sedangkan Gemilang mengekori Cahaya yaitu keluar dari ruang kerja miliknya tak lupa Gemilang menutup pintu ruang kerjanya kembali sebelum dirinya melangkah pergi dari ruang kerja miliknya.
Cahaya sengaja menghentikan langkah kakinya, dirinya berniat menunggu Gemilang sang suami, sedangkan Gemilang yang melihat Cahaya berhenti membuat Gemilang ikut menghentikan langkah kakinya, saat posisi Gemilang sudah sejajar dengan Cahaya.
"Mama kenapa berhenti ? apa mama melihat Bagas di sekitar sini sehingga membuat mama berhenti ?" tanya Gemilang bertubi tubi sambil Gemilang celingak celinguk ke kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah mencari keberadaan Bagas, namun kedua matanya Gemilang tak menemukan keberadaan Bagas, sedangkan Cahaya menatap tajam ke arah Gemilang.
"Mama sengaja nunggu papa makanya mama berhenti, jadi mama berhenti bukan gara gara mama melihat Bagas di sini, lagian papa lama banget jalannya dan papa lelet banget jalannya kayak kura kura tahu ngga jalannya papa" teriak Cahaya dengan sangat keras dan sangat kencang melebihi suara toa, sedangkan Gemilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Maaf mama kalau papa jalannya lama banget dan jalannya lelet banget seperti kura kura, karena papa tadi harus menutup ruang kerja papa dulu, supaya semut dan kecoa ngga bisa masuk" jawab Gemilang tak sepenuhnya berbohong, karena memang Gemilang tadi menutup pintunya terlebih dahulu, sedangkan Cahaya mendelik ke arah Gemilang.
"Papa jangan menjawab omongan mama lebih baik papa diam ayo kita berdua temui Bagas sekarang juga" ketus Cahaya sambil tangannya menggandeng lengan Gemilang, membuat Gemilang menahan senyum lebar yang hendak keluar, lalu Cahaya melangkahkan kakinya sambil tangannya tetap menggandeng lengan Gemilang, membuat Gemilang ikutan melangkahkan kakinya.
__ADS_1