Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 10 - Rencana Bara


__ADS_3

Keesokan paginya, pria tampan dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya dan duduk di kursi kebanggaan hasil kerja kerasnya selama ini. Kenzi menatap asistennya dengan tatapan tajam seakan ingin mencabik-cabik lawannya, dia sangat kesal dengan kondisi yang di rasakan saat ini. Amar menelan saliva dengan susah payah dan memberanikan dirinya untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa Tuan memanggilku?"


"Apa kamu lihat apa yang terjadi dengan wajahku?" ucap Kenzi dingin. Amar melihat wajah Kenzi dengan seksama terlihat dengan jelas bintik merah yang memenuhi wajah sang atasan, "aku melihatnya Tuan."


"Aku menghukum mu untuk ini."


"A-apa yang Tuan maksud? apa kesalahanku?" protes Amar yang tak terima dengan hukuman dari tuannya, dia sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Akar semua masalahku terjadi karena ulah mu," tutur Kenzi yang menggebrak meja kerjanya dengan keras serta tatapan menusuk menatap Amar yang sotak terkejut sembari mengelus dadanya.


"Oh ya tuhan, sepertinya ini masalah serius. Memang apa kesalahanku kali ini?" batin Amar yang mencoba mengingatnya.


"Apa kamu sudah memeriksa data dari pengasuh itu?"


"Sepertinya dia wanita baik-baik dan aku belum sempat melihat datanya secara keseluruhan Tuan," jawab Amar yang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Sangat ceroboh, aku akan menghukum mu untuk ini."


Lagi dan lagi Amar nenelan saliva dengan susah payah seakan tersangkut di tenggorokan, "ma-maafkan aku Tuan," ucap Amar.


"Karena kecerobohan mu, wanita itu hampir saja menjebakku. Untung saja kelima keponakanku sangatlah pintar dan juga nakal di saat bersamaan, sebelum itu aku akan menghukum mu terlebih dahulu untuk membuat mu lebih teliti dan tidak ceroboh lagi," tutur Kenzi.


"Baiklah aku akan menerima konsekuensi nya."


"Selama sebulan penuh aku tegaskan untuk mu untuk lembur dan menyelesaikan pekerjaan kantor." Kenzi berdiri dari kursi kebanggannya dan berjalan keluar ruangan membuat Amar menautkan kedua alisnya.


"Tapi kemana tuan akan pergi?" teriak Amar yang menatap punggung atasannya.


"Mulai sekarang kamu urus perkerjaan ku juga dan jangan mencampuri urusanku jika tak ingin gaji mu di potong 30 persen," cetus Kenzi tanpa menoleh.


"Oh tidak....kenapa ini terjadi kepadaku? selalu saja aku mengalami kesialan, aku akan membersihkan apartemen ku yang terkena ilmu hitam," batin Amar yang meringis.


Kenzi pergi dari kantor dan menuju ke apartemen nya, mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ponselnya berdering membuat Kenzi menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Mengambil ponsel yang berada di saku celananya dan mengangkat telfon.


"Apa mengangkat telfon dariku membutuhkan waktu yang lama?"

__ADS_1


"Aku sedang menyetir, ada apa menelfon ku?"


"Dasar anak durhaka, apa kamu terganggu dengan telfon dari Papa?"


"Baiklah, maafkan aku. Kenapa Papa menelfonku?"


"Dimana posisimu sekarang?"


"Perjalanan menuju apartemen."


"Ada yang ingin Papa bicarakan dengan mu, datanglah ke Mansion sekarang juga dan bawa kelima cucuku itu, cepatlah kesini dan jangan sampai terlambat." Bara mematikan sambungan telfonnya sembari menghela nafas dengan kasar.


"Kenapa aku bisa mempunyai anak sepertinya," gumam Bara yang terdengar oleh istrinya.


"Ada apa dengan mu?" tanya sang istri yang menatap suaminya dengan menautkan kedua alisnya.


"Dia sangat kurang ajar kepada orang tuanya sendiri, itulah hasil dari pembelajaran nya selama di paris."


"Sudahlah dan jangan menyalahkan nya, kamu sendirilah yang mengizinkan dia untuk melanjutkan pendidikan di Paris bersama Rayyan."


Bara menghela nafas dengan kasar, "hah, kamu benar juga."


"Aku terpaksa melakukan ini dan berbohong kepada Kenzi agar dia menikah dan mempunyai keturunan," ungkap Bara yang berputus asa.


"Dengan berbohong jika kakak Al dan El pergi ke Swiss?" tambah Lea yang tak percaya dengan ini. Semua orang mendukung rencana Bara dengan mengatakan Al dan El pergi ke Swiss, padahal mereka hanya berlibur ke Villa yang menempuh 2 jam perjalanan dari Mansion.


"Untuk meyakinkan rencana ini agar berjalan dengan sempurna atau kelima cucuku itu tidak ingin ikut bersama Kenzi," kata Bara dengan tersenyum.


"Sifat Kenzi menurun darimu yang tak ingin menikah padahal usiamu sudah kepala tiga," sela Dita.


"Hehe....aku baru mengetahui hal ini dan merasakan apa yang di rasakan oleh Ibuku saat dulu memintaku segera menikah," jawab Bara.


"Itu karena kamu playboy dan untungnya sifatmu tidak menurun kepada anakku," tukas Naina yang menatap suaminya dengan jengah.


"Dan jangan lupakan jika kamu juga playgirl, bukankah itu sangat menyenangkan? menikmati masa muda. Itulah cara yang sangat menyenangkan di saat muda dulu, tidak seperti dia dengan hidup yang sangat membosankan," sindir Bara yang melirik Nathan.


"Sialan, aku dari tadi hanya duduk diam saja, kenapa melibatkan aku untuk urusanmu," cetus Nathan yang menatap adik iparnya dengan dingin.

__ADS_1


"Aku membicarakan fakta dan kenyataan saja."


"Kalian ini sudah tua, kenapa masih saja seperti anak-anak," ujar Dita yang menatap kedua pria itu dengan jengah.


"Aku yakin jika Kenzi akan berhasil mengurus kelima keponakanku itu," ucap Lea dengan penuh keyakinan.


"Dan aku tidak yakin dengan itu setelah mendengar tingkah laku mereka dari Al dan El," sahut Abian dengan pendiriannya.


"Bagaimana jika kakak bertaruh saja," potong Vivian yang baru bergabung dengan keluarga besar Wijaya.


"Kamu sangat benar, ayo bertaruh." Lea dan Abian saling berjabat tangan dan menatap satu sama lainnya.


"Apa taruhannya?" tanya Abian.


"Apa pun yang di inginkan si pemenang," sahut Lea.


"Deal."


"Bersiap-siaplah Lea, aku akan mengurungmu seharian di dalam kamar," batin Abian yang tersenyum.


"Aku sangat merindukan keponakanku yang sangat menggemaskan itu," celetuk Lea.


"Jangan menilai dari sampulnya saja, semenjak mereka tinggal di apartemen milik Kenzi, Papa baru merasakan arti dari ketenangan dan kenyamanan saat mereka tidak ada."


"Sekarang saja Papa mengeluh dengan mereka berlima, bagaimana nantinya Papa punya cucu sendiri dan menambah personel?" ucap Vivian yang tersenyum saat membayangkan wajah Ayahnya yang kesal.


"Hah, kamu benar juga. Akan aku pikirkan itu nanti," jawab Bara yang tak menghiraukan dan memikirkannya.


"Pergi kemana El setelah menjemput mu?" tanya sang Ibu yang menatap putrinya.


"Kakak menjemputku tapi tidak mengantarku hingga ke Mansion, dia langsung menuju ke Villa untuk menjalankan rencana konyol dari Papa Bara," jawab Lea.


****


Di sisi lain, Kenzi memikirkan kenapa tiba-tiba sang ayah memanggilnya untuk datang ke Mansion, "apa ini mengenai perjodohan dan pernikahan?" monolog Kenzi yang memikirkan beberapa praduga dan kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemen.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Mansion setelah pulang ke apartemen terlebih dahulu untuk menjemput kelima keponakannya. Kenzi menghentikan mobilnya di perkarangan Mansion dan turun dari mobil di ikuti oleh triple A dan twins N.

__ADS_1


"Kakek....Nenek," teriak Niki yang berlarian di ikuti oleh ke empat anak-anak itu. Sedangkan Kenzi menutup telinganya karena terganggu dengan teriakan kelima keponakannya yang sangat menganggu.


__ADS_2