
Jimmy yang terdiam mendapatkan lemparan bantal yang mengenai wajah tampannya, "kamu mendengarkan ucapanku atau tidak?" kesal Kenzi yang menatap dokter itu.
"Ya, aku masih mendengarkan mu, tidak perlu melemparku dengan bantal," jawab Jimmy yang tak kalah kesal nya.
"Bisa kondisikan wajah jelekmu itu?" pinta Kenzi.
"Apa maksudmu mengatakan itu?"
"Hanya aku yang boleh kesal," ketus Kenzi membuat Jimmy mendengus kesal.
"Terserah padamu saja."
"Di mana susternya?" tanya Kenzi yang celingukan.
"Masuklah," perintah Jimmy dengan malas, untung saja Jimmy membawa seorang suster untuk ikut dengannya, karena dia mengetahui jika hal ini akan terjadi.
Seorang suster masuk dengan menelan saliva, suasana yang menurutnya sangat mencekam apalagi pandangan mata Kenzi yang tajam membuatnya sedikit gemetaran, "cepat periksa istriku."
"Baik Tuan." Patuh suster itu dan mulai memeriksa Kayla setelah menutup mata Jimmy menggunakan kain, "untuk apa kamu memanggilku jika kedua mataku kamu tutup dengan kain ini, sangat menyebalkan!" gerutu Jimmy menghela nafas.
Suster memeriksa Kayla dan tersenyum saatbmengetahui hasilnya, "selamat Tuan, nona Kayla positif hamil."
"Hiks....aku tidak menyangka karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Daddy," tutur Kenzi yang menangis terharu sambil mengelap ingusnya di jas putih kebanggaan Jimmy.
"Hah, tidak. Kamu membuat jas putihku kotor dengan ingusmu itu," pasrah Jimmy.
"Aku sangat terharu, kenapa kamu sepertinya membentakku?" tutur Kenzi yang sangat sensitif.
"Kapan aku membentakmu?" tanya Jimmy yang mengerutkan keningnya seraya membuka kain penutup kepala dan menatap Kenzi.
"Saat kamu tidak terima jika jasmu kotor olehku," jawab Kemzi dengan tatapan menyelidik.
"Jika di lihat sepertinya kamu akan seperti Al, yang mengalamai sindrom Cauvade."
"Ck, jangan samakan aku dengannya. Jika kamu tidak ada urusan, sebaiknya kamu pergi dari sini."
__ADS_1
"Kamu mengusirku? dasar kambing sialan," umpat Jimmy yang sangat kesal bergegas pergi dan di ikuti oleh suster di belakangnya sesuai keinginan Kenzi.
Kayla menatap suami nya, "kamu ini sangat aneh sekali, setidaknya berterima kasihlah karena dia meluangkan waktu untuk datang ke sini."
"Entahlah, lidahku terasa keluh jika mengatakan kalimat itu," jawab Kenzi dengan enteng.
Kabar kehamilan Kayla terdengar begitu cepat dan di ketahui oleh seisi Mansion Wijaya, bahkan Bara juga telah menghubungi Dirga mengenai keadaan Kayla yang sebentar lagi akan mempunyai anak. Kebahagiaan yang dapat di rasakan oleh semua orang, tapi juga menjadi kesedihan bagi Lea yang menutupi rasa sakitnya karena usia kehamilan yang semakin bertambah.
Lea membaringkan tubuhnya di atas ranjang, memegang perut yang sangat sakit. Kejadian yang selalu dia rasakan tanpa memberitahukan hal itu kepada orang lain termasuk suaminya sendiri, "Sayang, bertahanlah! kamu harus kuat Nak, demi Mom dan juga Dad," racau Lea yang telah terbiasa dengan rasa sakit itu.
Pintu kamar terbuka lebar, Lea menatap siapa yang datang, "Ibu?"
"Bagaimana dengan kondisimu?" tanya Dita yang mengkhawatirkan kondisi Lea yang belum menemukan obat untuk itu.
"Aku baik-baik saja," bohong Lea.
Dita masuk ke dalam kamar sembari membelai pucuk kepala putrinya dengan lembut, "entah mengapa perasaan Ibu sangat mencemaskan dirimu."
"Jangan terlalu berlebihan Bu, aku baik-baik saja."
"Katakan jika kamu merasakan sakit, ayo keluarlah dari kamarmu dan ikut merayakan atas kabar kehamilan Kayla," ajak Dita.
"Baiklah, ibu pergi dulu."
Lea menatap punggung Dita yang menghilang dari balik pintu, dengan cepat air matanya menetes dan mengelapnya. "Aku sangat ingin membaginya dengan Ibu, tapi aku tidak berdaya. Kalian pasti akan memintaku untuk menggugurkan calon anakku, semua pengobatan telah di lakukan. Aku akan menanggung kosekuensi agar calon anakku tetap hidup," batin Lea.
****
Kayla dan Kenzi sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi orang tua, tapi yang paling bahagia adalah Bara dan juga Dirgantara. "Selamat untukmu, karena sebentar lagi akan menjadi seorang Kakek," ucap Dirga yang memeluk Bara.
"Dan selamat untukmu yang juga akan menjadi seorang kakek, aku sangat tidak sabar mengenai kecambah baru," balas Bara yang memeluk sahabatnya, seketika Dirga mengerutkan keningnya.
"Apa yang dia maksud?" batin Dirga.
Bara melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Kenzi, "selamat untukmu yang akan mempunyai anak, akhirnya impianku tercapai. Dan setelah ini aku akan tenang," tutur Bara yang tersenyum mengembang.
__ADS_1
"Terima kasih, Pa."
"Horee....personel kecambah baru akan tumbuh," ucap Niki yang melemparkan kelopak bunga mawar ke tubuh Kenzi dan di ikuti oleh Alex, dan juga Niko.
"Hei, hentikan ini. Apa yang kalian lakukan?" tukas Kenzi.
"Berfungsi untuk menghilangkan pengaruh buruk yang Paman miliki agar tidak tertular kepada calon adik kami itu," jawab Niko yang terus melemparkan kelopak bunga mawar. Bukan hanya itu, Alex berlari dan membawa sekeranjang yang berisi bunga 7 rupa dan melemparkannya ke arah Kenzi, jangan tanya dari mana mereka mendapatkan petuah itu yang sesuai dari ajaran Bara yang sesat.
"Siapa yang mengajari kalian seperti itu?" tanya Abian yang tidak mengetahui maksud ketiga anak laki-laki itu.
"Ck, dasar Uncle kurang update. Ini yang di namakan dengan menghilangkan nasib sial Paman Kenzi agar tidak tertular dengan calon adik kami itu dan kami mengetahuinya dari kakek Bara," jawab Alex yang sangat bersemangat.
"Hem, sudah kuduga," gumam Nathan yang menatap adik iparnya yang sesat.
"Jangan menatapku begitu, aku tidak ingin jika calon cucuku bernasib sial seperti Kenzi."
"Apa kalian melupakan aku? minta ketiga tuyul itu untuk berhenti melampariku dengan bunga," celetuk Kenzi.
"Sudah selesai, sekarang ritual kedua," seloroh Niki yang tersenyum sembari menatap Niko dan Alex.
"Apa? apa yang akan kalian lakukan?" tanya Kenzi, sedangkan semua orang yang ada di sana hanya melihat nasib Kenzi yang di kerjai oleh ketiga keponakan laki-laki nya.
Dengan cepat Niki berlari dan membawa seembar kecil air dan menyiram tubuh Kenzi, "dasar tuyul, apa yang kamu lakukan, hah?" pekik Kenzi yang menatap Niki yang telah menghilang dari posisinya tadi. Dia melihat jika Niki telah sampai di lantai dua Mansion, semua orang tertawa dengan Kenzi yang kesal bukan main.
"Oh ya ampun, kenapa aku mempunyai anak seperti Niki," gumam Anna yang menepuk keningnya sembari menggeleng pelan.
"Sifatnya itu menurun dari El, tak khayal jika kelakuan anaknya begitu," sela Lea.
"Hah, aku baru ingat. Karena ulah El lah yang membuat wahana permainan ayahku menjadi rugi besar," ujar Anna yang menoleh ke lawan bicaranya.
"Selamat untukmu," tutur Lea yang memeluk Kayla.
"Terima kasih! oh ya, sebentar lagi ramuan yang aku racik hampir selesai. Nanti aku akan memberikannya kepadamu," ucap Kayla.
"Kamu sangat baik sekali."
__ADS_1
"Kita ini keluarga dan aku akan melakukan semampuku."
"Terima kasih," seloroh Lea yang tersenyum tulus.