
"Apa kamu sudah menemukan anak sialan itu?" tutur Bara yang menatap Al dan juga El dengan serius.
"Belum Pa," jawab mereka dengan kompak membuat Bara sangat kesal dan menggebrak meja yang ada di hadapannya, Al dan El terlonjak kaget dengan aksi Bara yang tiba-tiba.
"Bukankah kalian sangat berkuasa dan ahli dalam IT, cari anak itu hingga dapat."
"Baiklah."
Pembicaraan ketiga pria dewasa itu terdengar oleh triple A dan twins N yang sedari tadi bersembunyi dari sebalik dinding penghalang ruangan.
"Apa Paman Kenzi sedang bermain petak umpet?" tutur Niko yang menatap keempat saudaranya.
"Aku rasa begitu, bagaimana jika kita lacak saja!" usul Lexa.
"Bagaimana kita bisa melacaknya? bahkan ayah dan paman El saja tidak bisa mendapatkan lokasi dimana paman Kenzi berada," sahut Alex yang berputus asa.
"Serahkan kepadaku," potong Niki yang menepuk dadanya dengan sombong.
Alex, Lexa, Lexi, dan Niko menatap Niki dengan penuh penasaran. "Bagaimana caranya? jangan bercanda atau aku akan memukul mu nanti," ancam Niko yang memperlihatkan kepalan tinjunya kepada Niki.
"Jangan tahu nya mengancam saja, walau aku ini sangat malas dan suka makan bukan berarti otak geniusku berhenti bekerja," ujar Niki yang menatap kakaknya dengan jengah.
"Bagaimana caranya?" tanya Alex yang sangat penasaran.
"Lihat saja nanti." Niki pergi meninggalkan keempat saudaranya dan berjalan dengan penuh berkharisma, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana sampin sembari bersiul riang.
"Dia pergi tanpa mengatakan apapun," cetus Niko yang menatap Niki dengan kesal akan penasarannya yang belum terjawab.
"Aku sangat penasaran dan tidak bisa menahan keingintahuan ku akan rencana tuyul itu," sambung Alex.
"Apa maksudmu mengatakan dia tuyul? jika dia tuyul berarti aku kakaknya tuyul. Rasakan ini," ucap Niko yang tak terima dengan ucapan Alex, hingga mereka berdua saling memiting dan pengunci pergerakan. Sementara Lexa dan Lexi sudah terbiasa melihat pemandangan itu, mereka berlalu pergi meninggalkan Alex dan Niko yang saling bergulat.
****
Kenzi sangat tidak nyaman tinggal di kamar itu dan tidak bisa tidur hingga pagi hari, "tempat ini sangat tidak nyaman, aku seperti tidur di atas batu," racau Kenzi yang berjalan keluar kamar menuju dapur karena mencium aroma masakan yang sangat pas bila perut sedang keroncongan.
"Baunya sangat harum sekali dan membuat aku lapar," gumamnya yang terus mengendus aroma masakan. Benar saja, matanya bersinar saat melihat beberapa masakan di atas meja makan yang telah di susun rapi. Kenzi dengan cepat mengisi piring yang tersedia di meja makan dan mengambil masakan yang sangat mengugah seleranya.
Kenzi terus menyuapi mulutnya dengan makanan sembari mengangguk perlahan, "masakan ini sangat lezat sekali, sebaiknya aku meminta pelayan untuk memasakkan ini di apartemen ku setelah kondisi di sana sudah mencair," gumam Kenzi di dalam hati.
__ADS_1
Ini kali pertama Kenzi memakan sebanyak itu, membuat seseorang dari samping sangat terkejut dengan porsi makan Kenzi.
"Makan mu banyak juga," ucap Dito yang duduk di sebelah kursi Kenzi dan ikut makan.
"Masakanmu sangat lezat, ini kali pertamanya aku makan banyak setelah 6 tahun terakhir."
"Itu masakanku," sela seseorang dari belakang membuat Kenzi hampir saja tersedak, dengan cepat Dito memberika pertolongan pertama yaitu segelas air mineral.
"Minumlah."
Kenzi menerima segelas air dan menggenguknya hingga tak menyisakan sedikit air di gelas itu, "ternyata ini masakannya, aku pikir Dito," batin Kenzi tanpa menoleh dan memulihkan raut wajah dingin.
"Masakanmu lumayan," puji Kenzi dengan datar, sedangkan kayla hanya menatap Kenzi dengan jengah.
"Lumayan apanya? kamu baru saja memuji masakanku," sahut Kayla.
"sudahlah dan jangan memulai perdebatan di pagi hari, tapi jika di lihat kalian ini sangat serasi sekali," racau Dito tanpa menatap kedua orang yang sangat kesal dengan ucapannya.
Setelah sarapan pagi, Kenzi kembali masuk ke kamarnya. Dia mengeluarkan dompet dan juga ponsel dari saku celananya, "bagaimana ini? aku tidak memiliki baju ganti, tidak mungkin aku memakai baju Dito yang sangat kecil dan tidak akan muat di tubuhku," monolog Kenzi.
Dia membuka dompet dan untung saja dia mempunyai uang tunai sebanyak 10 lembar uang merah, beberapa kartu tanpa limit dan tanda pengenal.
"Hei pengemis elit, keluarlah dari persembunyianmu. Apa kamu tengah bersemedi?" ucap Dito dari balik pintu seraya menggedornya pintunya.
Kenzi membuka pintu dengan kesal, "jangan berteriak atau kamu tidak akan bisa berteriak lagi," ucap Kenzi dengan ancaman tak membuat Dito takut melainkan tertawa.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu, berhenti berkhayal dan mulailah bekerja."
"Bekerja?" ujar Kenzi yang memiringkan kepalanya.
"Tentu saja, lebih baik kamu bekerja dengan ku dan berhenti menjadi pengemis elit."
"Sudah aku katakan, jika aku bukanlah pengemis." Kenzi sangat kesal dengan Dito yang selalu menganggunya.
"Baiklah, jangan tersinggung seperti itu."
"Hem."
"Ayo keluarlah!" Kenzi mengikuti Dito yang berjalan menuju ruang tamu. Mereka duduk dan membicarakan mengenai tugas masing-masing, "ini sangat menguntungkan," ucap Dito.
__ADS_1
"Apa yang kakak maksud?" tanya Kayla yang menautkam kedua alisnya.
"Kalian bekerjasama dalam menjual seluruh jeruk ini, nilai plus nya adalah wajah kalian yang pastinya menarik langganan."
"Aku tidak setuju," sahut Kayla dan Kenzi serempak.
"Pikirkan dulu, kamu tidak perlu menjadi pengemis elit lagi dan sementara Kayla bisa bertemu dengan para pria tampan di sana," ucap Dito dengan sangat antusias.
Kayla yang sangat tidak tertarik itu seketika bersemangat mendengar kata pria tampan, "setuju."
Kenzi menatap Kayla yang langsung setuju dengan ucapan Dito, "wanita ini persis seperti Lea," batinnya yang tersenyum mengejek.
"Baiklah, kita semua telah sepakat."
"Aku belum menyatakan persetujuanku," cetus Kenzi.
"Aku tidak butuh pendapatmu, anggap saja sebagai persetujuanku untuk mu tinggal di rumahku yang besar ini," ucap Dito membuat Kenzi mendengus kesal.
Di sisi lain Niki tersenyum bahagia karena berhasil menemukan keberadaan Kenzi, tangan yang terus mengutak-atik laptop membuahkan hasil yang memuaskan.
"Lihatlah Kek, aku berhasil menemukan lokasinya. Paman Kenzi berada di desa Kuok," ucap Niki yang membuat seluruh keluarga Wijaya takjub dengan kemampuan Niki.
"Kerja yang bagus cucuku," ucap Bara yang tertawa bahagia.
"Sebentar lagi bocah sialan itu di temukan! ayo Nathan, kita berangkat kesana," ajak Bara dengan penuh semangat. Bara menghubungi teman nya mengenai perjodohan itu dan mereka sangat terkejut dengan fakta bahwa kedua anak mereka berada di tempat yang sama.
Bara sangat senang dengan itu, "itu bagus, aku akan menikahkan mereka hari ini juga," batinnya.
Sedangkan Alex, Lexa, Lexi, dan Niko menatap Niki yang tersenyum bangga dengan keberhasilannya dan mendapat pujian dari semua orang.
"Bagaimana bisa?" tanya Alex.
"Tentu saja memasang Gps di sepatu yang Paman pakai itu."
"Kenapa kamu memasang Gps disana?"
"Hehe....aku memasang Gps di sepatu semua orang."
Niki menggaruk telinganya yang tidak gatal sembari tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Keempat anak itu membuktikan ucapan Niki dan mereka sangat terkejut dan kesal bersamaan.
__ADS_1
"Sialan, jadi selama ini kamu menguntit semua orang?" pekik Alex yang mengejar Niki yang memasang langkah seribu.