Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 89 - Pencuri kecil


__ADS_3

Satu minggu kemudian..


Sinar matahari yang menyeruak masuk melewati jendela, menyentuh pori-pori kulit tak membuat sepasang suami istri terbangun dari tidurnya, akibat sang istri yang mengeluhkan sakit pinggang.


Kayla mengerjapkan kedua mata, menatap suami yang masih tertidur, wajah yang begitu polos dan juga damai membuatnya tersenyum. "Dia terlihat sangat tampan jika sedang tertidur, menjadi vitamin penyemangat pagiku. Tak aku sangka, musuhku sekarang menjadi suamiku," gumamnya.


"Sudah puas menatap wajahku yang sangat tampan ini?" Celetuk Kenzi tanpa membuka kedua matanya.


"Eh, kapan kamu terbangun?"


"Suaramu membuat aku terbangun." Kenzi membuka kedua matanya dan menatap Kayla.


"Maafkan aku, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu," ucap Kayla.


"Lupakan itu, maka ciuman selamat pagi untukku?"


"Ini sangat penting," desak Kayla yang menghela nafas.


"Berikan aku ciuman selamat pagi dan kamu boleh mengatakan apa yang ingin kamu katakan," tukas Kenzi membuat Kayla mengecup bibir suaminya itu. Kenzi menggunakan kesempatan itu dengan memeluk tubuh istrinya beberapa detik dengan penuh hati-hati mengingat kondisi perut Kayla yang semakin membesar. Kenzi mengusap perut istrinya, kebahagiaan yang sebentar lagi mereka rasakan, hanya menunggu beberapa bulan lagi.


"Aku sudah tidak sabar menjadi seorang Daddy, bagaimana perasaanmu mengenai kehamilanmu?"


"Aku sangat bahagia, walau pertemuan kita yang sedikit berbeda dan ternyata di dunia bisnis kamu dan aku adalah musuh. Yah, walau aku akui jika itu perbuatan Xavier yang menyamar," ungkap Kayla.


"Bagaimana jika kita bermain jungkat-jungkit, itu pasti sangat seru!" bisik Kenzi yang ingin mencium bibir itu, tapi terhalang saat mendengar suara ketukan pintu.


"Sial, siapa yang berani mengetuk pintu kamarku?!" gumamnya yang berjalan mendekati pintu untuk membukanya. Dia menundukkan kepala saat melihat sang pelakunya yang tak lain adalah Niko dan Niki, mereka tersenyum memperlihatkan gigi putih nan rapi.


"Apa yang kalian lakukan disini? Menggangguku di pagi buta," keluh Kenzi membuat twins N menepuk kening mereka dengan perlahan.


"Itu akibatnya jika tidak mencuci wajah," sindir Niko.


"Matahari sudah hampir terbit ke tengah dan Paman mengatakan hal itu," sambung Niki.


"Benarkah? Lupakan itu. Kenapa kalian menggangguku?" Celetuk Kenzi dengan malas.


"Kita sudah membuat janji mengenai hal ini, Paman harus menemani kami ke rumah kakek pitak di saat pulang sekolah nanti."

__ADS_1


"Jangan menggangguku hanya untuk masalah yang tidak penting itu, lebih baik kalian pergilah?! dasar pengacau," cetus Kenzi yang mengusir kedua keponakannya.


"Dasar ingkar janji," gerutu Niki yang menginjak kaki Kenzi dengan seluruh kekuatannya, membuat Kenzi meringis.


"Dasar cucu kecebong, aku akan memberi kalian berdua hukumanan, tunggu saja!" pekik Kenzi yan menatap kepergian Niko dan Niki yang berlari dengan sangat cepat disertai suara tawa.


"Lakukan saja," jawab Niko yang berbalik sembari menjulurkan lidahnya mengejek Kenzi. 


"Hah, dasar sialan. Mereka selalu saja membuat aku kesal," gerutunya yang kembali menutup pintu, berbalik badan dan kedua tatapan yang saling bertemu. 


"Apa mereka mengganggumu lagi?" Tanya Kayla yang menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak. 


"Ya, seperti biasanya. Aku sangat muak menghadapi kelima keponakanku yang sangat nakal itu, seakan hidupku selalu dihantui oleh keberadaan mereka." Kenzi berjalan mendekati istrinya, raut wajah yang kesal bisa dibaca dengan jelas. 


"lupakan kekesalan mu itu, lebih baik kamu membersihkan diri. Aroma tubuhmu membuat aku mual," gerutu Kayla yang menutup hidung menggunakan tangan, berpura-pura muntah. 


"Jangan berlebihan, aroma tubuhku sangatlah wangi bahkan di saat berkeringat sekalipun," sahut Kenzi dengan sombong. 


"Terserah padamu saja."


"Apa kamu ingin mandi bersamaku?" tawar Kenzi yang tersenyum membuat Kayla paham maksud dari perkataan suaminya itu. 


"Hah, sayang sekali." Kenzi mengambil handuk yang tergantung dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. 


"Itulah suamiku," gumamnya yang memandangi punggung Kenzi yang menghilang dari balik pintu. 


****


Setelah selesai membersihkan diri dan bersiap-siap untuk menjalankan aktivitas masing-masing yang biasa mereka lakukan. Kali ini triple A dan twins N meminta untuk diantarkan oleh Kenzi ke sekolah. 


Di sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan. Tidak ada yang ingin memulai nya yang hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. 


"Ada yang ingin aku sampaikan kepada Paman," celetuk Lexi membuyarkan lamunan Kenzi. 


"Hem, katakan ada apa?" sahut Kenzi yang melihat wajah Lexi dengan kaca spion mobil dan kembali mengalihkan pandangannya lurus kedepan, mengemudikan mobilnya dengan fokus. 


"Paman menyukai siapa antara asisten bodoh atau kayu berjamur itu?" Sela Niki membuat Lexi memajukan bibirnya beberapa sentimeter. 

__ADS_1


"Jangan menyela pembicaraan ku," ketus Lexi. 


"Kamu sangat lama mengatakannya, dasar perempuan," cibir Niki. 


"Kamu selalu saja menyalahkan perempuan, apa kamu lahir dari pantat sapi?" Ketus Lexi yang meninggikan suaranya. 


"Astaga, kenapa kalian ribut. Aku tidak mengerti dengan ucapan kiasan itu."


"Ck, Paman memang bodoh." Kenzi mendelik kesal mendengar ucapan dari Alex. 


"Pasang telinga Paman baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya," ucap Niki yang menghirup nafas dengan dalam sembari mengeluarkan nya secara perlahan. 


"Apa aku boleh mencekik anak itu?!" gumam Kenzi yang menahan kekesalan nya. "Ya, cepat katakan, aku akan mendengarkanmu dengan sangat baik."


"Paman mendukung tim siapa? Paman Amar atau Paman Rayyan?" Tanya Niki yang menatap punggung pamannya itu. 


"Untuk apa memilih mereka, apa kalian sedang mengadakan kontes?"


"Ya begitulah, kontes untuk menjadi pasangan dari bibi Vivian."


"Hem, aku mengerti. Aku tidak memilih siapapun di antara mereka, karena pria terbaik hanya jatuh kepadaku," jawab Kenzi yang membanggakan diri membuat kelima anak-anak itu mendengus kesal. 


"Jangan bersikap narsis begitu, hanya ada dua pilihan itu yang bisa Paman pilih," ujar Niko. 


"Keduanya tampan, hanya saja aku lebih tampan dari mereka. Amar pria yang pelit sama seperti kakeknya twins N, sedangkan Rayyan sangat royal dan kaya raya, tapi yang jelas akulah paling kaya di antara kedua pria jelek itu, dan mereka__" 


"Sudah hentikan ocehan yang tidak bermanfaat itu, Paman hanya memuji diri sendiri. Sangat menyebalkan," ucap Lexa yang memotong ucapan Kenzi karena sangat bosan mendengarkannya. 


"Hah, aku sangat menyesal menanyainya," sambung Niki yang menghela nafas dengan berat. 


"Sudah kuduga," gumam Alex yang mengetahui akhir dari pembicaraan itu. 


Tak terasa mobil berhenti di depan gedung, dengan cepat mereka melepaskan seat belt yang melilit tubuh.  Segera turun dari mobil dan berlari untuk masuk ke dalam sekolah elit itu dengan riang gembira. Kenzi melihat kepergian keponakannya sambil menggelengkan kepala, senyum di wajahnya terlihat jelas saat membayangkan kelahiran anaknya nanti dan juga mengantarkan ke sekolah. 


Kenzi merasakan ada sesuatu yang menghilang, hingga dia meraba tubuhnya sendiri di saat menyadari dompetnya yang sudah tidak lagi di tempatnya. "Dimana dompetku? Perasaanku tadi ada di kantong celana?" gumamnya yang sedikit panik. Hingga dia melihat dompet itu di bawah tempat Niki duduk yang sudah terbuka. 


"Dasar pencuri kecil," gumam Kenzi yang mengepalkan tangannya dengan erat, bagaimana tidak? Niki mengambil salah dua kartu black cardnya dengan meninggalkan catatan kecil di dalamnya. 

__ADS_1


"Sering-seringlah beramal untuk membantu keuangan ku, dan terima kasih. Dari keponakanmu yang sangat menggemaskan seperti ku, Niki."


__ADS_2