
Pagi hari yang indah, cahaya matahari menyeruak masuk melewati jendela, menyentuh pori-pori seorang perempuan dan mengusiknya dari alam mimpi. Gebrakan pintu terdengar dari luar, namun tak berhasil memancingnya terbangun, dan justru menutupi telinga dengan bantal di balik selimut.
"Vivian, bangunlah. Apa kamu akan di kamar sepanjang hari?" teriak Naina yang menggedor pintu kamar. Tak ada sahutan tak membuat Naina tak menyerah, mengambil kunci cadangan dan ingin membuka pintu.
"Bagaimana? apakah Vivian sudah bangun?" tanya Vero yang menghampiri Naina.
"Kamu sudah mengenalnya dengan sangat baik, ini hari weekend dan membuatnya tidur lebih lama. Sebaiknya kamu nikmati tehnya, Tante akan membangunkannya."
"Tante beristirahat saja, aku bisa membangunkannya."
"Hah, kamu sangat pengertian sekali. Tenggorokan ku sakit akibat berteriak," ucap Naina yang memegang tenggorokan nya sembari berlalu pergi meninggalkan kekasih dari putrinya. Vero menatap punggung Naina beberapa saat dan kembali dengan tujuannya untuk membawa Vivian menikmati waktu bersama, membuka pintu dan tersenyum tipis saat melihat seorang wanita yang masih tidur dengan nyenyak.
"Sayang, bangunlah. Apa kamu ingin menghabiskan sepanjang waktu di kamar?" kata Vero yang mendekati Vivian.
"Sepuluh menit lagi Ma, aku masih mengantuk!" sahut Vivian dengan setengah kesadarannya menarik selimut, Vero tersenyum smirk saat melihat tingkah kekasihnya yang sangat menggemaskan.
"Bangunlah atau aku akan menciummu." Tak ada sahutan membuat Vero semakin nekat, wajah yang berdekatan serta nafas yang bisa di rasakan satu sama lainnya. Baru saja dia ingin mencium bibir yang merah merekah, dengan cepat dia terjerembab ke belakang karena dorongan yang sangat kuat.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" ketus Vivian dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan seperti kuntilanak yang baru bangkit.
"Sangat sulit untuk membangunkanmu dan tidak ada cara lain, cepat bersiap-siap. Aku akan membawamu pergi ke tempat romantis," seru Vero dengan bersemangat.
"Aku tidak ingin kemanapun dan jangan memaksaku."
"Kenapa kekasihku ini sangat berbeda," guman Vero yang terdengar samar oleh Vivian.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Vivian.
"Tidak, mungkin kamu salah dengar."
"Jika begitu keluarlah dari sini, aku masih ingin melanjutkan mimpiku."
"Tidak bisa, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Aku sangat yakin jika kamu akan menyukainya," tutur Vero yang antusias.
"Baiklah, ayo!" Vivian memeluk lengan kiri Vero.
__ADS_1
"Apa kita akan pergi seperti ini? bersihkan dirimu dulu dan aku akan menunggu di sini."
"Sangat menyebalkan," gerutu Vivian yang berjalan menuju kamar mandi.
Vivian selalu saja mengumpat Vero, "dasar kingkong berbulu, dia selalu saja mengganggu kesenangan ku."
Vero tersenyum tipis saat melihat wajah kesal kekasihnya yang tampak menggemaskan, pandangan mata menyusuri setiap inci kamar Vivian yang terlihat rapi dan juga bersih. "Aku akan menikmati waktu kebersamaan dengan orang yang paling aku sayangi, tidak tau kapan aku mulai mencintainya. Hanya berawal menggoda nya saja tapi aku terjebak dalam permainanku sendiri," batin Vero yang tersenyum tipis.
Vivian keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit di tubuhnya, melihat pria tampan yang sedang menatapnya dengan mata tanpa berkedip. "Apa yang kamu lakukan di sini?" pekik Vivian yang menutupi tubuhnya dengan tangan karena sangat terkejut dengan keberadaan Vero yang masih ada di kamarnya.
"Memangnya kenapa?" ucap Vero dengan wajah tanpa dosa.
"Keluarlah dari kamarku, aku tidak ingin ada kesalahpahaman dengan keluargaku."
"Tidak, aku sudah nyaman di sini. Pakai saja pakaian mu dan aku akan menutup kedua mataku," usul Vero.
"Itu ide yang sangat buruk, keluar atau aku tidak ingin ikut bersamamu," ancam Vivian.
"Baiklah," sahut Vero yang menghela nafas dengan kasar.
"Dia sudah bangun dan sedang bersiap," sahut Vero.
****
Di sisi lain, Rayyan sedang melamun sembari menatap keluar jendela. Dia tidak bersemangat dalam melakukan apapun, karena penyesalan yang selalu datang di akhir. Menyenderkan punggungnya di sofa empuk, "apa yang harus aku lakukan?" gumamnya yang tersadarkan akibat ketukan pintu kamarnya. Dia berdiri dari duduknya dan melangkah ke sumber suara untuk membukakan pintu, terlihat dengan jelas siapa yang datang.
"Ada apa?" ucap Rayyan yang dingin.
"Tentu saja untuk menemui adikku yang sedang patah hati ini." Abian merangkul pundak Rayyan dengan bersemangat.
"Katakan ada apa? jangan membuang waktuku dengan omong kosong."
"Ck, bicaramu sangat kasar sekali. Jangan tunjukkan emosi itu kepadaku, aku datang kesini karena berterima kasih kepadamu dan juga Dad Zean. Hanya saja aku tidak melihat Dad Zean dan Mom Caroline, dimana mereka?" tanya Abian yang begitu penasaran.
"Ada perjalanan bisnis ke Rusia, menitipkan Baby kepadaku dan masalah itu tidak perlu berterima kasih, anggaplah itu sebagai perjuangan terakhirku."
__ADS_1
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Abian dengan serius.
"Seperti biasa, bekerja dan bekerja."
"Ck, bukan itu yang aku maksud mengenai Vivian!"
"Mau bagaimana lagi?" ujar Rayyan dengan enteng.
"Dasar bodoh, itulah akibatnya jika terlalu gengsi untuk mengatakan perasaanmu yang sebenarnya. Aku juga pernah mengatakan kepadamu mengenai penyesalan yang selalu datang di akhir, dan lihatlah....apa yang terjadi kepadamu sekarang," ungkap Abian.
"Simpan saja ceramah itu untuk dirimu sendiri, aku meminta tolong untuk membawa Baby bersama dengan mu ke mansion Wijaya."
"Lima anak-anak saja cukup membuat kehebohan dan apa ini? kamu ingin menambah si perusuh itu?" cetus Abian yang tak terima dengan permintaan Rayyan.
"Aku akan keluar kota dan membutuhkan waktu seminggu, hanya tujuh hari saja!" pinta Rayyan.
"Ada urusan apa kamu ke kota?" tanya Abian menyelidik.
"Untuk urusan pekerjaan," sahut Rayyan dengan enteng.
"Aku tidak yakin, sepertinya kamu sedang membuat rencana baru." Abian menatap Rayyan dengan memicingkan kedua matanya yang sudah mengetahui bagaimana sifat dan kelakuan dari Rayyan.
"Aku akan merebut Vivian dari pria itu." Tekad Rayyan yang berjanji kepada dirinya sendiri.
"Terserah padamu saja, aku akan mencari keberadaan Baby dan membawanya ikut bersamaku." Rayyan mengangguk pelan dan kembali menutup pintu kamarnya, mengambil ponsel yang ada di atas nakas dan menghubungi seseorang.
"Halo tuan."
"Hem, periksa identitas dari Vero. Aku ingin keseluruhan data dan juga aset yang dia miliki!"
"Baik tuan, akan saya laksanakan."
"Hem."
Rayyan memutuskan sambungan telefon dan tersenyum tipis, "sebentar lagi aku bisa memiliki Vivian dan pria itu akan aku taklukkan terlebih dahulu," batinnya yang bersiap-siap untuk ke pergi ke markas Tiger. Rayyan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan memakai pakaian formal seperti biasanya.
__ADS_1