
Abian sangat bahagia melihat kebahagiaan istrinya, kebersamaan dengan triple A dan twins N hingga tak menyadari jika hari sudah petang, "ini sudah sore, ayo kita pulang," ajak Abian.
"Yah, kenapa cepat sekali?" tutur Lexi.
"Ini sangat seru, nanti saja pulangnya," sambung Lexa.
"10 menit lagi Uncle," tambah Alex.
"Deal, kami sepakat untuk di sini." Niki menatap Abian mengenai vote yang mereka ambil, sedangkan Abian menggaruk panggal hidungnya.
"Tidak, kita harus pulang atau semua orang akan cemas nanti."
"Ayolah Uncle," bujuk Niko yang mengeluarkan jurus andalannya yaitu puppy eyes, di ikuti oleh keempat saudaranya dan menatap Abian.
"Mereka tampak sangat mengemaskan sekali, tidak Abian! kamu harus tetap teguh dengan pendirianmu. Jangan sampai kelima bocah itu membuahmu luluh," batin Abian yang berusaha keras agar tidak luluh dari tatapan maut triple A dan twins N.
Abian melirik istrinya, mengerti akan arti lirikan itu dengan cepat Lea menghampiri kelima keponakannya dan mengusap pucuk kepala mereka dengan sangat lembut, "ini sudah sore Sayang, kita akan kesini lagi di lain waktu."
"Hanya sebentar saja," bujuk Niki.
"5 menit saja." Mendengar penuturan dari Lea membuat kelima anak-anak itu bersorak gembira, Abian menatap istrinya mengenai hal ini.
"Kenapa kamu menyetujui kelima curut itu?"
"Jika kita melarang mereka akan mengeluh hingga perjalanan pulang," jawab Lea.
"Hah, terserah padamu."
"Melihat kelima keponakan ku itu, aku sangat ingin mempunyai anak kandung yang lahir dari rahimku. Apa kamu tidak ingin mempunyai anak?" tutur Lea yang menatap keceriaan dari kelima keponakannya.
"Bukankah kita saling melengkapi, apa cintaku tidak cukup?"
__ADS_1
Lea menatap suaminya dengan raut wajah yang serius, "kenapa kamu sepertinya menghindar jika aku membahas anak, apa kamu tidak ingin memiliki keturunan?"
"Aku sangat ingin tapi keselamatanmu jauh lebih penting dari segalanya," batin Abian yang terasa keluh.
"Tidak."
"Tapi kenapa? setiap pasangan selalu menginginkan itu dan aku sangat kesepian," seloroh Lea yang menatap suaminya dengan sendu.
"Bukankah sudah ada triple A dan twins N, itu lebih dari cukup. Jangan membahas anak ataupun keturunan kepadaku," tegas Abian yang berlalu pergi meninggalkan Lea yang diam terpaku. Abian menghapus cairan bening yang menetes dengan sendirinya, pergi untuk bisa mengontrol dirinya agar tidak kelepasan menangis.
"Ya tuhan....apa ini balasan dari perbuatanku dulu yang sering bersimbah darah? jika itu penyebabnya maka ampuni aku, beri kebahagiaan untuk Lea. Hukum saja aku dan bukan istriku, aku tidak tahan saat dia membahas kehamilan dan juga anak," lirih Abian yang memukul batang pohon meluapkan perasaannya.
"Dia selalu menghindar saat aku membahas anak, apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku?" gumam Lea yang menatap nanar punggung suaminya yang telah menghilang dari pandangan.
Tanpa mereka sadari kelima anak-anak itu mendengar percakapan para orang dewasa, mereka yang tidak mengerti percakapan itu hanya bisa menyimak dan merekamnya.
"Apa yang mereka maksud?" tanya Niko yang menatap Alex.
"Aku sangat penasaran apa arti dari perkataan uncle dan aunty," tutur Lexa.
"Tanyakan saja kepada Ayah atau paman El, mereka pasti tahu," ujar Alex yang di setujui yang lainnya.
Lea berjalan mendekati anak-anak itu, "sudah waktunya kita pulang," ajak Lea yang di patuhi oleh mereka.
Mereka masuk ke dalam mobil tanpa berbicara sekata patah pun, karena mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing. Lea menatap suaminya yang menyetir mobil, "apa yang berusaha dia tutupi dariku? aku akan mencari tahunya sendiri, cepat atau lambat juga akan terungkap," batinnya.
"Sampai kapan aku bisa menyimpan rahasia ini dari Lea dan juga seluruh anggota keluarga Wijaya, cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya," gumam Abian di dalam hati.
Kali ini Abian membawa kelima anak-anak itu untuk tinggal di Mansion sesuai perkataan Al dan juga El. Karena mereka mendapatkan keluhan dari Kenzi yang sangat kesal dengan tingkah triple A dan twins N yang sangat nakal. Mereka juga membuat dekorasi indah dan mewah untuk perayaan ulang tahun para pewaris Wijaya.
****
__ADS_1
Kayla sangat kesal dengan Kenzi yang seakan mengawasinya, tatapan mata pria tampan itu tak pernah lepas menatap Kayla yang sedari tadi menatap jarum jam.
"Apa dia tidak lelah memantauku begitu? aku tak menduga jika pria itu lebih menyebalkan dari papi, aku sudah tidak tahan dari sini dan lebih baik aku melarikan diri saja," batin Kayla yang tersenyum smirk sembari mangut-mangutkan kepala.
"Apa yang sedang dia rencanakan? ck, trik murahan ini tidak akan berjalan kepadaku. Sepertinya dia merencakan untuk kabur dari apartemen ini," batin Kenzi yang tersenyum tipis.
Kayla membuat alasan untuk pergi ke kamar karena sangat kelelahan, dia berakting seakan sangat mengantuk. "Aku sangat mengantuk, lebih baik aku ke kamar saja."
"Baiklah," sahut Kenzi, Kayla berjalan menuju kamar dan sangat senang dengan langkah pertamanya berjalan dengan sempurna, dia melihat situasi yang sangat aman dan berjalan dengan cara mengendap-endap.
Kayla yang dengan mudah kabur dari apartemen, dia sangat bahagia dan juga merdeka karena berhasil membodohi suaminya itu. "Oho, jadi si musang sangat pintar memanipulasi orang lain ya," ucap seseorang yang membuat Kayla mengalihkan perhatiannya menatap si pelaku.
"Sial, dari mana dia datang. Sepertinya dia ahli dalam berpindah tempat dengan sekejap," batin Kayla.
"Aku bukan musang dan aku akan tetap keluar dari sini," ucap Kayla yang protes.
"Lakukan apa mau mu dan aku rasa sia-sia saja," ucap Kenzi dengan enteng yang menyeret Kayla untuk kembali masuk ke dalam apartemennya.
Kayla berlari dengan sekuat tenaga dan terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam apartemen, ruangan yang terlihat rapi sekarang bagai kapal pecah yang butuh perbaikan. Kenzi tersenyum tipis saat melihat raut wajah Kayla yang tampak sangat lucu karena tidak bisa kabur, "bagaimana? apa kamu mulai menyerah?"
Kenzi memanfaatkan keadaan Kayla yang hampir terpojok dengan membuka baju nya untuk menakut-nakuti Kayla. Kenzi semakin berjalan dekat dengan senyuman nakal menatap Kayla dengan dalam.
Tubuh yang sempurna dengan perut kotak-kotak membuat otak dangkal dan mesum Kayla berjalan lebih cepat, "sial, pria ini sangat menggoda," batinnya.
Kayla terus memundurkan langkahnya dan merasakan tangan yang melingkar di pinggang ramping miliknya, tatapan yang saling menyatu membuat Kayla hampir lupa diri dengan mencium bibir suaminya, Kenzi yang merasa terkejutpun menjatuhkan tubuh istrinya tanpa sengaja.
"Auhh....kamu sangat kasar sekali, kenapa menangkap tubuhku lalu melepaskannya," gerutu Kayla yang berusaha berdiri dengan memegang pantatnya yang baru saja mencium lantai.
"Itu karena salahmu sendiri, dasar tidak sopan." Kenzi dengan cepat mengambil bajunya dan memasangnya kembali, berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ada apa dengannya? gumam Kayla yang menatap punggung suaminya sembari memiringkan kepala karena sangat heran dengan sikap Kenzi yang seakan menutupi kegugupannya
__ADS_1