
Abian kembali berpikir jernih dan dengan cepat menggendong tubuh istrinya ala bridal style, dengan langkah tergopoh-gopoh dan masuk ke dalam mobil. Dita dan Naina menghampiri Kenzi, rasa khawatir dan penasaran bercampur aduk.
"Apa yang terjadi dengan Lea?" Tanya Naina yang menatap dalam mata Kenzi.
"Sepertinya Lea akan melahirkan, baru saja sebuah cairan bening mengalir begitu deras di bagian sensitifnya. Kalau tidak salah namanya air ketumbar!" jelas Kenzi yang tidak yakin dengan ucapannya.
"Air ketumbar? Apa maksudmu air ketuban?" ucap Dita yang membelalakkan kedua matanya, sedangkan Kenzi mengangguk dengan cepat.
"Baiklah, ayo kita ikuti Abian dari belakang," desak Naina.
"Apa kami boleh ikut?" Pinta Niko dengan penuh harap.
"Tidak, sebaiknya kalian di rumah saja dan mendoakan aunty Lea dan bayinya selamat."
"Yah, baiklah Nek." Ketiga anak itu menghela nafas dengan kasar, berjalan menuju kamar masing-masing.
Naina dan Dita berlalu pergi meninggalkan cucunya yang tampak murung, mengambil satu tas berukuran sedang, berisi beberapa perlengkapan bayi. Mereka juga menghubungi para anhhita keluarga mengenai kelahiran Lea yang sebentar lagi memberikan alih warus terbagus.
****
Abian melajukan mobilnya, keadaan mendesak membuat pikirannya seakan di selimuti kecemasan dan kekhawatiran yang mendalam. Di perjalanan menuju rumah sakit, Lea tak henti-hentinya mengeluh kesakitan di area pinggang yang seakan di patahkan.
"Auh...kenapa mobil ini berjalan seperti seekor siput?" Keluhnya yang merintih kesakitan.
"Maafkan aku, demi keselamatanmu," sahut Abian yang berusaha menambah kecepata laju mobilnya.
"Ini sakit sekali, cepat lakukan sesuatu sebelum aku melahirkan di dalam mobil," pekik Lea dengan suara cemprengnya, mengatur nafas yang di pelajari saat mengikuti kelas ibu hamil.
"Apa itu sangat sakit?" Celetuk Abian dengan otaknya yang sempit, selalu melilit di benaknya. Jangan tanya bagaimana perasaan Lea sekarang ini, tentu saja dia sangat geram dengan suaminya itu. "Kenapa otakmu tidak berfungsi di keadaan seperti ini, jika kamu tidak melajukan kecepatan mobil atau aku sendiri saja yang mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"JANGAN! itu tak baik untuk keselamatan kamu dan juga anak kita."
"Jika begitu, maka tambahkan kecepatan mobil siputmu ini," ucap Lea yang meninggikan suaranya akibat jengkel, sembari merintih ke sakitan. "Ck, cepat lakukan!"
"Baiklah."
Mobil melaju dengan sangat cepat, melintasi jalanan yang sedikit ramai di penuhi oleh kendaraan berlalu lalang. Mobil berhenti di area rumah sakit Wijaya, dengan cepat Abian menggendong tubuh sang istri yang terus saja mengeluh kesakitan.
"Dokter... suster, keluarlah kalian. Cepat tolong istriku," lantang Abian. Dia terus saja menggendong tubuh istrinya dan membawa masuk ke rumah sakit itu.
"Di mana para staf rumah sakit ini, apa kalian hanya memakan gaji buta saja, hah?"
Jimmy yang baru saja keluar dari ruang operasi dan segera menyusul asal suara yang sangat dia kenali, memerintahkan beberapa suster untuk membawakan brankar. Abian bisa melihat dengan jelas, seorang pria tampan yang berjas putih berjalan dengan tergesa-gesa dan beberapa suster yang sedang mendorong brantar.
"Maaf, aku baru mendengarmu setelah melakukan operasi," ucap Jimmy dengan tulus.
"Ck, alasan. Katakan saja jika kamu menginginkan memakan gaji buta," cibir Abian.
"Setidaknya kalian memikirkan aku, jika terjadi sesuatu kepadaku dan juga bayi yang aku kandung ini. Maka kehidupan kalian akan menjadi pria impoten untuk selama-lamanya," ancam Lea sembari menatap kedua pria itu dengan tajam.
Roda brankar terus saja berjalan, membawa tubuh Lea yang terbaring lemah dan juga sangat sakit.
Di dalam ruangan, Abian mengusir Jimmy dengan ketus, sementara yang di usir hanya terdiam menyalahkan Abian yang sangat menganggu.
"Dasar kambing, bisakah kamu diam walau sekali saja? kosentrasiku terpecahkan oleh suaramu itu."
"Maaf, jangan mengusirku. Aku janji tidak akan menganggumu."
"Itu bagus," sahut Jimmy.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi bisakah yang membantu persalinan istriku adalah dokter perempuan saja? Aku tak ingin jika ada seorang pria yang melihat aset berharga itu."
Jimmy mendengus kesal saat mendengar ucapan dari Abian yang selalu meragukannya, "terserah padamu saja."
Jimmy melangkah keluar, mengambil ponsel dari saku celananya, menekan nomor bawahan yang selalu membantu persalinan.
"Kenapa kamu keluar ruangan, Lea sedang membutuhkan jasamu sekarang ini," ujar Al yang menatap Jimmy dengan tajam, membuatnya sedikit takut.
"Tanyakan saja kepada Abian apa yang terjadi."
"Ck, jangan terbelit-belit. Katakan yang sebenarnya?" Tutur Kenzi yang kesal dengan raut wajah songong Jimmy.
"Jangan mengancamku dan jangan mengangguku yang sedang sibuk," ucap Jimmy yang monohok membuat Kenzi diam seribu bahasa.
Tak lama, seorang dokter paruh baya menghampiri Jimmy dan masuk ke ruangan bersalin Lea. Semua orang tampak cemas menunggu lahirnya keturunan dari Lea dan juga Abian, perasaan yang cemas hinggap di pikiran masing-masing. Tak henti-hentinya mereka berdoa untuk keselamatan ibu dan anak tanpa kurang satu apapun.
"Tarik nafas yang dalam, lalu keluarkan secara perlahan. Lakukan sebanyak-banyaknya nya supaya nafas tidak tersenggal-senggal," ucap Abian yang memperagakan gerak geriknya di hadapan Lea.
"Ini sangat sakit," keluh Lea yang berkeringat hampir sebesar biji jantung, rasa sakit yang teramat dalam di bagian pinggang. Abian menjadi suami yang sigap, membantu sang istri dengan memijat pinggang Lea dengan perlahan, setidaknya rasa sakit sedikit berkurang saat suami ada di samping dan menemaninya melahirkan.
"Dorong yang kuat dan jangan sampai kedua kaki terangkat," tutur sang dokter paruh baya. Lea melakukannya dengan semaksimal dengan tenaga yang dia miliki, Abian mengeluarkan air mata saat melihat perjuangan istrinya yang bertaruh nyawa.
"Semangat Sayang, kamu pasti bisa." Abian mengecup kening istrinya dengan sangat lembut, sedangkan Lea berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan sekarang anak yang selama ini dia inginkan. Perjuangan tak pernah mengkhianati hasil, saat terdengarnya suara tangisan bayi yang melengking.
"Syukurlah, bayinya sehat tanpa satu kekurangan apapun dan berjenis kelamin perempuan. Selamat untuk Tuan Abian dan Nona Lea yang telah menjadi orang tua." Dengan cepat dokter itu memotong tali pusar dan memberikannya kepada suster di sampingnya untuk di mandikan. Suara bayi yang berasal dari ruangan tempat Lea bersalin membuat seluruh keluarga bisa bernafas dengan lega.
Abian kembali mengecup seluruh wajah istrinya yang terlihat pucat, "selamat untukmu yang sekarang menjadi seorang Mommy."
"Untukmu juga."
__ADS_1
Di luar ruangan terlihat dengan jelas, mereka bersuka cita dan sangat senang akan kelahiran seorang bayi yang menambah suasana di mansion. Tak lama kebahagian itu juga dapat di rasakan oleh Zean dan juga Carilone yang baru saja bergabung dengan keluarga Wijaya.