Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 77 - Kepergian Vero


__ADS_3

Cukup lama Vivian menyanyikan lagu pengantar tidur, mengelus kepala Vero dengan sangat lembut, melihat mata yang terpejam dan wajah kekasihnya yang tampak tenang dan juga damai. Kegelisahan Vivian terlihat jelas saat tidak merasakan denyut nadi di pergelangan tangan, dia sangat takut jika kekasihnya itu menutup mata untuk selama-lamanya.


"Vero...Vero, bagunlah!" desak Vivian yang mengguncangkan tubuh lemah dan pucat itu. "Aku sangat takut, bangunlah. Jangan membuat aku semakin takut," pekiknya.


Dengan cepat Kenzi memeriksa denyut nadi Vero yang sudah berhenti berdetak, "ya tuhan...denyut nadinya tidak terdeteksi," gumam Kenzi yang masih terdengar oleh orang sontak terkejut. Dengan cepat, Kenzi keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter. Vivian juga merasakan hal yang sama, tapi menepis semua perasaan dan menganggap jika Vero mempermainkannya.


Tak lama dokter datang dan memeriksa denyut nadi dan juga jantung, dokter hanya menggelengkan kepala dengan pelan sembari melingkarkan stetoskop di lehernya, dan melipat kedua tangan pasien di depan dada.


"Maaf, pasien sudah tak lagi bernyawa dan sebentar lagi kami akan memindahkan." ucap sang dokter yang mencabut beberapa alat yang menempel di tubuh Vero dan berlalu pergi.


Mendengar ucapan sang dokter, Vivian hanya berdiri diam terpaku. Pandangan lurus dan juga kosong, air mata kembali menetes dengan deras. Ekspresi datar Vivian membuat Kenzi mengkhawatirkan adiknya, mendekap tubuh Vivian dengan erat. Twins L dan Rayyan hanya melihat hal itu tanpa merusak suasana, mereka tak menyangka jika Vero telah tiada.


Vivian mendorong tubuh Kenzi dan berjalan mendekati Vero, menatap wajah pria itu. "Bangunlah, cepat bangun!" pekik Vivian. "Sudah cukup becandanya, CEPAT BANGUN!" teriakan dari Vivian membuat ke empat pria itu terkejut.


"Vivian, sudah cukup. Vero sudah tiada," ucap Al yang memeluk Vivian yang sangat hancur.


"Lepaskan aku Kak, katakan kepada Vero untuk segera bangun dari tidurnya," rengeknya yang menunjuk tubuh pucat yang terbaring lemah di atas brankar.


"Dia sudah tiada," sela El yang mengelus kepala adik sepupunya.


"TIDAK, kalian berbohong. Kalian sedang mempermainkan aku, mendukung perbuatan Vero dan itu sangat tidak baik. Tunggu! aku akan membangunkan kingkong berbulu itu." Vivian kembali mendekati Vero dan mengguncang tubuhnya, menampar pipi sang kekasih dengan pelan.


"Vivian, sadarlah!" ucap Kenzi dengan lantang.

__ADS_1


"Aku menyerah, cepat buka matamu atau aku tidak akan berbicara kepadamu lagi. APA KAMU MENDENGARKAN KU? Jika kamu tidak bangun aku akan mencari pria lain dan menjadikannya kekasihku, bukankah kamu tidak ingin melihatku bersama pria lain. Aku berkata dengan sungguh-sungguh dan akan melakukannya, kumohon... Hiks."


Kenzi mendekap tubuh adiknya berusaha untuk menenangkannya, syok yang di alami Vivian membuatnya kehilangan keseimbangan tubuh yang lemah. Vivian berhenti menangis, pandangan mata yang lurus dan juga kosong semakin membuat twins L dan Kenzi khawatir dan menggendongnya ke ruangan lain untuk di periksa.


Rayyan yang tak tahan dengan air mata Vivian lebih memilih keluar dari kamar itu, suasana berduka membuatnya ikutan menangis. "Kenapa kamu pergi dengan cepat, aku bahkan baru memulai bersaing secara sehat denganmu," gumam Rayyan di dalam hati sembari mengeluarkan buku diari milik Vero dan membuka satu persatu lembaran kertas. Cara ampuh untuk mengalihkan kesedihan yang dia rasakan, apalagi membaca diari mengenai kesialan Vero yang banyak di tuangkan ke dalam tinta biru, serta ada tanda tangan di bawahnya.


"Betapa menderitanya dirimu, mengalihkan rasa sakit dengan menjadi seorang playboy. Ck, ini sangat menggelikan apalagi caramu mendekati Vivian," ucapnya dengan pelan sembari menyelesaikan satu persatu lembaran buku diari itu.


Rayyan menghentikan aktivitas saat melihat Kenzi yang sedang menggendong Vivian dengan langkah tergesa-gesa, dengan cepat dia mengikuti dari belakang dan mencari tau penyebabnya dari Al yang juga mengikuti Kenzi.


El menatap Vero dengan nanar, "apa yang kamu lakukan? Karena ulahmu membuat adikku menderita, jika saja kamu masih hidup, aku akan menghukummu untuk itu. Pergilah dengan tenang, kami akan menjaga Vivian dengan sangat baik dan terima kasih karena kamu tulus mencintai adikku," ucap El yang pergi meninggalkan ruangan itu.


Seluruh anggota keluarga datang ke rumah sakit untuk berbela sungkawa, tak terkecuali James dan istrinya, Berliana. Mendengar berita mengenai sang adik membuat James memilih penerbangan utama, dan sekarang mereka sudah sampai di rumah sakit Pelita kasih.


Naina berlari sekuat tenaga mencari keberadaan anaknya yang pingsan mengenai kabar kematian dari Vero. Tanpa pikir panjang, Naina menerobos masuk ke dalam ruangan tempat sang putri di rawat. "Apa yang terjadi dengan putriku?" desak Naina yang menatap dokter.


Naina menatap dalam wajah anaknya yang terbaring di atas brankar, "apa yang yang terjadi denganmu, Sayang!?"


"Vero...Vero, jangan pergi tinggalkan aku. Ku mohon, jangan pergi!" lirih Vivian yang berkeringat, mata yang masih terpejam. Batinnya sangat terpukul atas kematian Vero, sehingga terbawa di alam bawah sadar.


"Hei, ini Mama. Buka matamu, Sayang." Naina menepuk pipi putrinya yang masih belum sadar, Bara mencoba untuk membangunkan putrinya.


"Ini Papa, cepatlah bangun."

__ADS_1


"JANGAN PERGI!" teriak Vivian yang langsung duduk sambil mengulurkan tangannya, keringat yang membasahi sekujur tubuhnya merupakan tanda kekhawatiran terbesar.


"Ini Papa dan Mama," tukas Bara yang mendekap tubuh putrinya.


"Di mana Vero?" tanya Vivian yang tersenyum menatap kedua orang tuanya yang bergantian.


Naina yang tak kuasa menahan tangis, memundurkan langkah dan keluar dari ruangan itu. Mencurahkan seluruh kesedihannya tanpa terlihat oleh Vivian.


"Sepertinya Vivian menganggap hal itu hanya mimpi," batin Bara yang mengelus puncak kepala putrinya.


"Pa, panggilkan Vero! aku ingin menemuinya," titah Vivian dengan sangat antusias.


"Kamu sedang tidak sehat, tidurlah dulu."


"Tumben Vero tidak menemuiku hari ini, di mana dia?" Vivian celingukan mencari keberadaan kekasihnya yang sekarang telah di pindahkan ke kamar mayat.


"Istirahatlah," ucap Bara yang menyelimuti putrinya dan mengecup kening dengan sangat lembut. Vivian menggeleng dengan cepat, "tidak, aku ingin menemui kingkong berbulu ku itu. Papa tau? Dia itu selalu saja membuat aku kesal, jangan berusaha untuk menyelamatinya dari kemarahanku. Cepat panggilkan dia," desak Vivian.


"Kamu harus kuat, Nak. Vero sudah tenang di atas sana," ujar Bara yang menatap putrinya dengan sendu.


"Ck, ini bukan ulang tahunku. Tapi, aku ada di mana?"


"Di rumah sakit."

__ADS_1


"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Vivian menatap Bara dengan dalam.


"Karena kondisimu drop saat mendengar kabar kematian Vero, terimalah kenyataan nya," jawab Bara. Vivian yang tersenyum berubah murung, kembali mengingat kejadian yang baru saja dia alami. Vivian memeluk kakinya dengan pandangan lurus dan juga kosong, entah berapa banyak air mata yang keluar dari pelupuk mata.


__ADS_2