
Vero menggandeng tangan Vivian dengan posesif, memperlihatkan keromantisannya di hadapan Amar. Dia terus tersenyum tipis saat melihat raut wajah rivalnya yang selalu menatapnya dengan tajam, Vivian mengetahui maksud dan tujuan dari kedua pria itu.
"Sayang, sebaiknya kita pindah tempat duduk saja. Ada nyamuk di sekitar sini!" ucap Vero yang melirik Amar dengan sinis dan kembali mengalihkan perhatiannya menatap sang kekasih.
"Baiklah." Vivian berdiri dari tempat duduknya sembari mengandeng tangan Vero yang sekarang sedang tersenyum kemenangan. "Rasakan itu, kamu belum tau siapa yang sedang kamu hadapi," batinnya Vero dengan raut wajah songongnya.
Amar sangat mengeraskan rahang melihat kemesraan yang di suguhkan di hadapannya, "apa aku boleh ikut?" ucapnya dengan antusias.
Vero menoleh ke asal suara dan tersenyum miring, "kami ingin menghabiskan waktu bersama dan jangan menganggu, masih banyak wanita lain di luar sana, dasar penganggu!" sarkas Vero yang sangat bahagia saat melihat kekesalan dari wajah Amar. Merangkul pinggang Vivian dan mencium pucuk kepala dengan mesra, "hehe...betapa indahnya dunia. Apalagi melihat raut wajah si cicak itu kesal," batin Vero.
Vivian menatap kekasihnya, "kemana kamu akan membawaku?"
"Menikmati hidup," sahut Vero yang menghela nafas sembari membawa Vivian ke taman yang di penuhi bunga yang tak jauh dari Danau, tempatnya saat merasa sedih dan putus asa. Vivian duduk di kursi yang tersedia dan di ikuti oleh Vero yang tak pernah melepaskan tangan kekasihnya.
"Hampir setiap hari kamu mengajakku untuk berkencan, apa kamu tidak punya kegiatan lain?"
Vero tersenyum indah saat melihatkan gigi rapi dan putihnya, menoleh ke samping dengan sangat serius, "apa kamu mencintaiku?" Ucapan yang keluar dari mulut Vero membuat Vivian sedikit bingung.
"Apa maksudmu mengatakan itu?"
"Katakan IYA atau TIDAK." Tekan Vero yang menarik tangan Vivian hingga menabrak dada bidangnya, bahkan bisa merasakan bagaimana debaran hati dari pria tampan yang mendekapnya.
"Tentu saja aku mencintaimu, apa kamu meragukan aku?" Ujar Vivian.
"Bagaimana perasaanmu saat aku akan meninggalkan mu suatu hari nanti?"
"Hei, pertanyaan macam apa itu?!" protes Vivian yang tidak mengerti dengan pola pikir dari kekasihnya.
__ADS_1
"Jawab saja."
"Jika kamu akan meninggalkan aku, maka bersiaplah kehilangan wajah tampanmu itu. Apa kamu akan kembali playboy lagi? dan mencari selingkuhan baru saat kamu sudah bosan kepadaku?" tukas Vivian yang berlalu pergi meninggalkan Vero yang tersenyum tipis, dia tidak ingin jika kekasihnya terlalu lama marah ataupun kesal dan memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.
"Ayolah, aku hanya bercanda saja. Apa aku boleh mencium bibirmu, semenjak kita resmi menjadi kekasih, kita tidak pernah berciuman." Vero tersenyum saat melihat bibir indah dari Vivian. Pikiran liarnya mulai bermunculan, memikirkan jika dia mempunyai hubungan intim dengan kekasihnya itu. Seketika pikiran itu lenyap saat Vivian memukul lengannya dengan tatapan seperti memangsa Vero.
"Hentikan pikiranmu atau aku akan melemparmu ke danau itu," ketus Vivian. Bukan Vero namanya jika mengalah dengan sangat mudah, penolakan merupakan tantangan baginya. Dengan cepat Vero merubah posisi dan memegang tengkuk leher Vivian, menciumnya dengan sangat lembut. Kedua mata Vivian membelalak dengan sempurna, rasa terkejut dan juga itu adalah ciuman pertamanya. Rasa kesal yang ada di dalam hati membuatnya menendang tubuh kekasihnya saat ada celah, hingga ciuman itu terlepas.
"Auh...kamu sangat kasar sekali. Baru saja aku menikmati ciuman itu," gerutu Vero yang memegangi pantat yang mendarat dengan sempurna ke tanah.
"Karena itu ciuman pertamaku, sekarang bibirku tidak perawan lagi karena mu!" ketus Vivian yang beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Itu bagus, setidaknya aku orang yang beruntung mendapatkan ciuman pertama mu," ucap Vero yang mengeraskan suaranya yang menatap punggung Vivian yang menjauh dan mengejar mulai mengejarnya.
Sedangkan seseorang mengepalkan tangan dengan sempurna, tatapan mata yang terus mengawasi dan melihat adegan ciuman tepat di hadapannya.
"Ini sangat menyakiti hatiku, sebaiknya aku pergi sebelum si tuan gila kembali merubah keputusannya untuk memecatku, " gumam Amar yang berlalu pergi saat mengetahui harus mengantarkan pesanan dari tuan nya.
Bangunan mewah kediaman Wijaya tak jauh dari pandangan, menghentikan mobil dan turun dengan langkah tergesa-gesa. "Semoga aku bisa membujuk tuan Kenzi," gumamnya yang berlari kecil masuk ke dalam mansion.
"Kamu terlambat tiga puluh menit dan mendapatkan hukuman," tegas seseorang dari lantai dua. Amar mendongakkan kepalanya, "astaga! tatapannya itu seakan ingin mencabik-cabik tubuhku," batin Amar yang menelan saliva dengan susah payah.
Kenzi berjalan menuruni tangga dengan berkharisma, tatapan tajam yang selalu tertuju kepada asistennya. "Apa kamu membawakan apa yang aku pinta?"
"ini, tuan." Amar menyerahkan plastik bening dengan satu ekor ikan ****** yang berwarna sesuai permintaan Kenzi.
"Di mana kamu mendapatkannya?" tanya Kenzi dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Dengan memanfaatkan sosial media dan teknologi, tuan!" jawab Amar yang membusungkan dada dengan bangga.
"Berapa harga untuk ikan ****** ini?"
"Tidak mahal, hanya lima juta saja." Amar tersenyum saat memikirkan untung yang dia dapatkan, membeli ikan ****** dengan harga satu juta dan selebihnya untuk di tabung.
"Ikan ****** yang kamu beli ini adalah jantan bukan betina, aku mengembalikan kepadamu." Amar merasa tak percaya saat mendengarkan penuturan dari Kenzi, susah payah dia mencari ikan itu.
"Apa yang tuan maksud?" ujar Amar yang menautkan kedua alisnya.
"Aku tidak bodoh, mana ada ikan ****** betina dengan warna yang aku pinta. Aku hanya mengujimu saja," tutur Kenzi yang kembali menyerahkan plastik bening yang berisi ikan ******. Gelak tawa Kenzi pecah saat berhasil mengerjai asistennya yang sekarang di situasi membingungkan.
"Bagaimana dengan ikan ini?"
"Kamu simpan saja, sekarang pergilah dari mansion dan mengenai pemecatan mu itu hanyalah omong kosong saja. Entah mengapa aku sangat ingin mengerjaimu," ungkap Kenzi di sela-sela tawanya.
"Bagaimana dengan uang untuk membelikan ikan ini?" Amar tak habis pikir, berniat untuk mengerjai atasannya tapi dia sendirilah yang terjebak.
"Ikan itu ada di tanganmu, tentu saja uangmu tidak akan aku ganti."
"Apa? bagaimana bisa begitu, tuan? sayalah korbannya di sini, setidaknya berikan bonus atau menikmati gaji dua kali lipat," protesnya.
Kenzi tersenyum samar, "baiklah, jika itu keinginanmu."
Seketika mata Amar berbinar karena dengan sangat mudah gajinya akan naik dua kali lipat.
"Terima kasih banyak, tuan. Anda sangat dermawan," puji Amar.
__ADS_1
Kenzi mengangguk dan menaiki tangga, seketika dia menoleh, "serah terima gaji dua kali lipat, kamu akan di pecat."
"APA?"